kalam pencerahan
Setiap orang, umumnya memiliki sisi lain dalam dirinya yang berwarna-warni, dan dalam sebagiannya, terdapat sisi yang gelap dan kelam. Meski demikian, keyakinan dan hasrat kuat untuk selalu menjadikan hari esok lebih baik dari kemarin tetap merupakan cahaya yang menjadi penerang sisi gelap itu. Lagipula, bukankah sekelam apapun masa lalu seseorang, masa depannya masih tetap suci dari noda. Karena itulah, Tuhan dengan Kuasa-Nya yang meliputi segala sesuatu, senantiasa memberikan kesempatan kedua, ketiga, keempat dan ribuan kesempatan baru di tiap jenak-jenak kehidupan kita, agar kita dapat menjadi hamba-Nya yang baik dan setia mengikuti bimbingan-Nya sebagaimana tertulis dalam Kitab Suci. Kawan, saya menulis narasi ini dengan penuh syukur meski bagi kalian hal yang saya syukuri dan saya tulis ini kedengaran aneh atau remeh. Namun, izinkan saya menyelesaikan tulisan ini, sebab inilah salah satu cara ekspresi kesyukuran saya atas Barakah-Nya. Ya, ini semua tentang kartu bergambar pemain basket. Bukan pemain basket dari negeri kita ini, tetapi pemain basket di negeri Paman Sam. Bukan pemain yang masih berlaga di musim tanding ini, namun pemain lawas yang namanya masih terus diingat orang, sebagai salah satu yang terbaik, terbesar, dan mendapat posisi istimewa sebab pencapaian-pencapaiannya selama berkarir di liga NBA. Kartu bergambar pemain basket ini telah menyihir saya sejak SMP.
Waktu itu, saya menyukai gagasan tentang pembuatan kartu basket. Daripada mengabadikan pemain basket yang lincah, atraktif dan atletis itu dalam bentuk foto ukuran postcard atau poster, lebih baik berbentuk kartu eksklusif seukuran saku. Hasilnya adalah kartu ekslusif, wangi, seukuran saku, bergambar pemain basket sedang beraksi dengan indah yang dipadu dengan hiasan atau warna yang serasi. Data personal dan statistik pencapaian, juga dicantumkan di bagian belakang. Bagi saya, ini adalah ide yang luar biasa. Era 1990-an, adalah tahun-tahun penuh kemeriahan di beberapa cabang olah raga, dan terutama Basketball. Hanya di cabang olah raga ini, tiga gerakan utama dalam atletik yakni lari, lompat dan lempar, bisa berpadu sempurna. Saat itu, saya adalah remaja tanggung yang juga turut larut dalam euforia Basketball ini. NBA adalah liga yang siaran langsung atau siaran tunda pertandingannya selalu saya nantikan. Terdapat pula program Televisi bertajuk NBA Action! yang tak pernah saya lewatkan. Bersama kawan, saya numpang nonton TV di rumahnya. Waktu itu, televisi boleh dianggap barang mewah, dan keluarga saya belum memilikinya di rumah kami. Jadi, nonton bareng bergiliran di rumah kawan yang memiliki TV di rumahnya adalah satu-satunya pilihan terbaik.
Bersyukur kepada Tuhan, untuk kartu bergambar pemain basket di negeri orang?? Aneh dan setengah Gila !! Tetapi kawan, bukankah impian bocah remaja tanggung adalah impian polos yang dipenuhi kegilaan dan kemusykilan untuk dapat diwujudkan pada saat mimpi itu berpendaran di nalar bawah sadar?. Sebab semua kita adalah mantan bocah remaja, maka saya percaya, kita pasti pernah mengalaminya. Impian itu bisa berupa apa saja, merambah dari soal materi ke immateri, dari soal yang fisika hingga metafisika. Pokoknya, dari mulai hal-hal yang realistis ke hal-hal yang musykil. Dari mobil-mobilan sampai mobil betulan, dari soal sepatu olah raga sampai urusan postur tubuh, impian menjelajah tempat baru, mendalami keahlian baru, soal lawan jenis bahkan ke soal-soal yang metafisik ataupun setengah klenik. Impian remaja merambah liar ke semua area. Karenanya, salah satu penderitaan terbesar yang musti ditanggung anak cucu Adam adalah impian masa remaja yang gagal diwujudkan pada waktunya, sehingga terus menghantui hingga tua. Jika anda terperangkap dalam situasi ini, mungkin sebagian orang menganggapnya sebagai musibah, sehingga muncullah mantera kutukan yang populer “Boys is always be The Boys”. Bagi saya, keterperangkapan ini mudah-mudahan menjadi berkah, sebab telah datang kesempatan bagi saya untuk merakit ulang mimpi masa puber saya yang hancur tercerabut dan tercabik.
Impian saya saat remaja, sewaktu masih duduk di bangku SMP, adalah saya bisa memiliki kartu-kartu bergambar pemain basket hebat yang terkenal. Lewat tabloid olah raga, majalah HAI, ulasan di koran, saya mengenal figur pemain lawas ini. KAREEM ABDUL JABBAR namanya. Suatu waktu, saya berjalan-jalan di sebuah Mall di Jakarta Timur, dan di sebuah HobbyShop disana, saya mendapati kartu basket Kareem Abdul-Jabbar dipajang di showcase toko, dalam pose Sky-Hook. Kartu yang dicetak tahun 1986 dalam keadaan setengah lusuh ini, dihargai Rp 250.000,-. Suatu nilai yang fantastis sekaligus gila!. Tetapi, mata terlanjur memandang, dan sejak detik itulah, timbul keinginan bahwa saya sangat ingin dan harus memiliki memiliki salah satu kartu Kareem Abdul-Jabbar. Kartu yang saya lihat waktu itu, adalah kartu pertama yang gambarnya ada di atas dan saya baru bisa dimiliki 6 bulan lalu, setelah penantian panjang bertahun-tahun. Tahun 1996, di awal masa SMA, saya memutuskan untuk membeli salah satu kartu Kareem Abdul-Jabbar yang dijual oleh Bang Yono, penjual kartu basket yang biasa mangkal di bawah pohon jambu air dekat gerbang SMP saya. Perjumpaan ini tidak sengaja, saat itu kami bertemu sehabis shalat Jumat di Masjid kompleks sekolah swasta tempat ia biasa mangkal selain SMP saya. Kartu ini saya beli seharga Rp 37.500,- setelah melalui negosiasi harga hampir satu jam. Inilah kartu terakhir yang saya beli darinya. Kepadanya saya bercerita bahwa menjelang EBTANAS SMP, hampir semua kartu saya dirampas teman-teman dan hanya tersisa beberapa buah saja. Saya mengatakan padanya bahwa saya telah memutuskan untuk berhenti mengoleksi kartu basket, dan menjadikan kartu Kareem Abdul-Jabbar ini adalah kartu terakhir yang saya beli sebagai kenang-kenangan. Anda masih bisa melihat list toploader (wadah kartu dari bahan plastik tebal) sudah mulai menguning.
Sekitar Bulan Oktober 2011, saat sedang browsing, saya menemukan website milik kolektor kartu basket Andre Susilo, seorang pemuda seusia saya yang tinggal di Bandung dan dari situs itulah saya mengetahui bahwa di kaskus, forum jagat maya terbesar di Indonesia ada berkumpul para kolektor kartu basket yang hampir semuanya seusia saya. Apa yang terjadi kemudian, adalah berkah bagi saya, sebab saya memperoleh kesempatan kedua untuk menulis ulang impian gila masa remaja. Beberapa bulan kemudian, saya berkenalan dengan paypal, ebay, dan mulailah saya keracunan mengoleksi kartu basket. Namun setelah saya mendapatkan kartu basket dibawah ini dari memenagkan lelang akhir tahun 2011 di situs ebay, perspektif saya tentang mengoleksi kartu basket sebagai sebuah memorabilia berharga fantastis menjadi berubah sepenuhnya. Kartu bertandatangan Kareem Abdul Jabbar ini saya peroleh setelah memenangi lelang akhir tahun dengan harga 28 Dollar saja ditambah biaya shipment dan packing 6 Dollar. Mungkin saya sedang beruntung waktu itu.
Pertengahan Januari 2012, saya melihat kartu yang jenisnya sama dengan kartu saya diatas, dijual orang di ebay seharga lebih dari 80 Dollar, belum termasuk shipment dan biaya packing. Ini gila, pikir saya.. Tetapi tidak butuh waktu lama hingga akhirnya saya benar-benar menyadari bahwa bisnis memorabilia adalah bisnis multi-milyar dollar, dan orang bisa menganggapnya sebagai barang investasi berharga semacam saham yang bisa naik turun harganya. Saya tambah takjub saat mengetahui bahwa Majalah Beckett, ternyata bisa didapatkan dengan mudah di kalangan teman-teman komunitas kolektor kartu basket, semudah kita memesan majalah bulanan lainnya. Majalah Beckett ini dulunya semasa saya SMP, memang menjadi acuan para pedagang kartu. Nah, setelah saya memperoleh gambaran besarnya, sekarrang saya menyadari bahwa saya boleh berharap adanya keuntungan finansial dimasa mendatang dengan mengoleksi memorabilia pemain basket terkenal. Belum lama ini, saya posting koleksi-koleksi saya yang bertajuk NBA 50 Greatest Player in History. Saya berniat mengumpulkan 50 kartu bergambar dan bertandatangan si pemain yang termasuk dalam 50 Greatest itu. Hingga saat ini sudah terkumpul 28 kartu basket dari 50 yang direncanakan. Nah, sekarang Kareem Abdul Jabbar sudah punya teman sesama 50 Greatest..
Saya meminjam nama putri saya sebagai nick-name di forum kolektor kartu basket di Kaskus, dan selalu menyertakan kertas serta tanggal posting untuk menjamin integritas gambar dan kartu basket yang saya posting adalah benar-benar milik saya, dan bukannya mengambil gambar milik orang lain, lalu mengaku-ngaku bahwa kita memiliki kartu yang gambarnya kita posting di kaskus. Hal ini lazim dikenal sebagai Pict-Steal. Bagaimanapun, mengoleksi benda haruslah tetap berpedoman pada suatu landasan etik yang dipahami dan disepakati bersama, agar mengoleksi tetap menjadi hal yang positif, dinamis dan berdaya hasil tinggi dimasa mendatang..
|
0 Responses

Posting Komentar

kirimkan tanggapan anda