kalam pencerahan
Urgensi pembangunan jaringan dan penyediaan layanan jasa telekomunikasi di wilayah terpencil dan daerah perbatasan melalui dana dari operator telekomunikasi seluler

Fajar Baru Peradaban Manusia; Era Teknologi Informasi dan Komunikasi

Menjelang akhir tahun 1982, majalah TIME yang terbit di Amerika Serikat, untuk pertama kalinya dalam sejarah penerbitan mereka, menampilkan sebuah mesin sebagai pilihan dewan redaksinya untuk mendapat predikat Man of The Year 1982. Mesin itu adalah sebuah Komputer Personal (PC). Tak ada tanggapan negatif atau komplain pembaca yang menolak atas keputusan dewan redaksi majalah TIME saat itu . Dewan redaksi majalah TIME dan publik pembaca setianya sadar betul, bahwa fajar baru peradaban manusia tengah berproses ditengah-tengah mereka. Embrionya terus membesar dan bertransformasi. Era Digital telah dimulai dan berpacu dengan cepat di benua Amerika, yang dampaknya segera dirasakan menyebar ke seluruh dunia. Publik Amerika sadar sepenuhnya bahwa era digital, yang dimulai dari benua mereka akan mengubah banyak hal dalam kehidupan mereka dan ummat manusia lainnya di tahun-tahun mendatang.

Kurang dari satu tahun setelahnya, pada bulan September 1983, US Federal Communication Commisions (FCC) menyetujui permohonan Motorola yang menciptakan DynaTAC 8000X telephone dan menetapkannya sebagai telephone bergerak berbasis jaringan seluler pertama yang dapat dikomersilkan. Sebelumnya, alat ini masih berupa prototype laboratorium sejak diciptakan oleh Martin Cooper pada 3 April 1973 . Fajar baru yang menandai dimulainya era teknologi telekomunikasi seluler baru saja dimulai, dan segera mendapat respon publik yang luar biasa di Amerika hingga tahun-tahun setelahnya yang semakin dimeriahkan dengan rangkaian penggembangan-pengembangan atas temuan baru ini. Semua orang yakin, bahwa mereka dapat mencapai titik produktifitas, efisiensi dan efektifitas tertinggi melalui alat komunikasi ini. Teknologi komunikasi bergerak berbasis jaringan seluler segera menjadi fokus perhatian publik di seluruh dunia. Teknologi komunikasi seluler ini berkembang beriringan dengan pesatnya perkembangan Internet yang membentuk jaringan komunikasi antar komputer personal. Perkembangan selanjutnya di era 1980-an dan 1990-an semakin dimeriahkan dengan penemuan-penemuan dan pengembangan teknologi informasi dan telekomunikasi yang benar-benar menentukan wajah dunia hari ini. Penemuan dan perkembangan ini masih terus berlanjut, dan kita masih menjadi saksi atas perkembangan era telekomunikasi dan informasi ini seraya menanti-nanti, perkembangan apa yang akan terjadi dan penemuan baru apa yang akan kita nikmati di tahun-tahun mendatang.

Kini persoalan jarak, waktu, ruang dan bahkan status sosial ataupun perbedaan budaya yang dimasa-masa sebelumnya masih dianggap sebagai hambatan utama dalam menjalin dan menghubungkan antar manusia yang berada pada ruang, waktu dan jarak yang berbeda menjadi hilang dan bahkan di berbagai tempat di negara maju, hal demikian merupakan suatu hal yang lumrah saja. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi memberi kita alasan untuk berharap bahwa kita akan memiliki sebuah dunia yang bebas dari perantara kekuasaan dan perantara ilmu pengetahuan. Kini individulah yang sepenuhnya berkuasa. Kita juga dapat berharap pada terciptanya sebuah dunia yang penuh harmoni, yang penghuninya merupakan masyarakat produktif, terbuka dan saling pengertian. Kita semua telah mencapai suatu tahapan efektifitas, kinerja dan kreatifitas yang bahkan belum dapat terbayangkan oleh banyak orang di masa-masa sebelumnya. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, khususnya teknologi komunikasi bergerak berbasis jaringan seluler benar-benar membuat perbedaan radikal yang mengubah sepenuhnya cara-cara kita dalam berproduksi, berfikir, berkarya, belajar dan berkembang baik dalam konteks individu ataupun komunitas.

Hari ini dan hari-hari sesudahnya kita menikmati betapa dimudahkannya kita dalam bertelekomunikasi seraya bertumbuh, belejar, bekerja dan berkembang dengan seperangkat alat telekomunikasi bergerak berbasis jaringan seluler yang telah dilengkapi dengan kemampuan menjelajah dunia informasi digital melalui sambungan mobile internet, ditambah dengan kemampuan navigasi GPS yang semakin meneguhkan posisi kita sebagai pewaris peradaban panjang dari ummat manusia dan sekaligus menjadi pihak yang paling bertanggung jawab atas kelangsungan dan keberlanjutan kehidupan seluruh makhluk hidup di planet ini.

Digital Gab; Tantangan besar perkembangan Teknologi Komunikasi Seluler

Berdasarkan laporan statistik perkembangan dunia yang dirilis oleh UNDP dan ITU, perkembangan akses publik pada teknologi informasi dan telekomunikasi, khususnya pada akses dan kepemilikan telephone bergerak berbasis teknologi seluler, mencapai titik yang mengagumkan dan semakin meninggi dari tahun ke tahun. Grafik berikut ini menggambarkan pertumbuhan akses publik di tingkat dunia pada tiga medium teknologi telekomunikasi dan informasi, yakni teledensitas telephone berjaringan kabel tetap (telephone rumah/kantor), pelanggan telephone bergerak berbasis teknologi seluler dan pengguna internet .



Indahnya sebuah dunia yang masyarakatnya saling terhubung, memiliki kemampuan berproduksi secara efektif dengan tingkat efisiensi tertinggi, memiliki akses yang sangat luas atas ilmu dan pengetahuan beserta perkembangan mutakhirnya, ternyata masih merupakan sebuah mimpi indah bagi sebagian besar penduduk bumi. Persoalan penyebabnya sangat kompleks dan beragam, mulai dari kemiskinan, rendahnya daya beli, lokasi tempat tinggal yang sangat jauh dari pusat pertumbuhan, minimnya ketersediaan perangkat teknologi komunikasi dan informasi beserta perangkat pendukungnya, hingga rendahnya kecakapan dalam hal penggunaan perangkat teknologi komunikasi dan informasi tersebut. Istilah yang dikenalkan oleh Program Pembangunan PBB (UNDP) dan International Telecommunication Union untuk merangkum kompleksitas masalah ini adalah Digital Gab.

Sebagian besar penduduk dunia, bermukim di wilayah pedesaan atau kantong-kantong komunitas yang jauh dari kota-kota pusat pertumbuhan. Wilayah ini dapat berupa pedesaan, wilayah terpencil, atau daerah perbatasan, namun tidak termasuk wilayah konflik yang infrastrukturnya dihancurkan sehingga mengakibatkan keterputusan warganya terhadap dunia luar. Berdasarkan kategori perkembangan dan untuk kemudahan penelitian sosial serta monitoring jangka panjang, negara-negara di dunia dibagi menurut dua pengertian, yakni negara maju (Developed Country) dan Negara Berkembang (Developing Country). Istilah ini lalu digunakan secara luas, terutama oleh lembaga dunia. Berikut ini adalah distribusi penduduk dunia yang bermukim di wilayah pedesaan .



Warga negara yang bermukim di negara berkategori “Negara Berkembang” mencakup 84% populasi dunia, dan 93% penduduk dari warganegara “Negara Berkembang” itu, berdomisili di wilayah pedesaan. Lebih jauh lagi, jika kita memeriksa statistik komposisi penduduk berdasarkan tingkat pendapatan per kapita nya, maka kita akan mendapati sebentuk dunia yang tidak adil dalam distribusi pendapatan. Sebuah Dunia yang terbelah, dan berpotensi menimbulkan ancaman bagi kemajuan peradaban manusia yang telah kita bangun bermilenium lalu.

Analisis distribusi pendapatan seluruh dunia pada 2006 menyatakan bahwa 94% dari hasil-hasil pendapatan di seluruh dunia dinikmati oleh 40% penduduk dunia, sementara 60% penduduk sisanya hidup dari mengandalkan 6% pendapatan dunia. Separuh penduduk dunia hidup hanya dengan US$ 2,- per hari. Lebih dari 1 Milyar penduduk bumi hidup hanya dengan US $ 1,- per hari atau kurang dari US $ 1,- Persamaan statistik demikian ini jelas bukanlah rumus yang baik untuk menghasilkan sebuah dunia yang damai dan harmonis.

Dengan metode analisis yang sama, jika data jumlah pelanggan telephone bergerak berbasis teknologi seluler dan statistik distribusi pendapatan dunia pada 2009 kita gabungkan, maka akan diperoleh piramida dengan komposisi distribusi sebagai berikut ;



Meskipun penetrasi teknologi informasi dan komunikasi khususnya teknologi telephone genggam berbasis jaringan seluler di tengah masyarakat dunia secara umum menunjukkan peningkatan luar biasa dalam lima tahun terakhir, namun kesenjangan akses teknologi baru ini masih tetap ada dengan besaran yang signifikan. Sekitar 2 Milyar manusia, terutama pada mereka yang berdomisili di wilayah pedesaan, wilayah terpencil dan daerah perbatasan masih belum dapat menikmati layanan telephone bergerak berbasis jaringan seluler ini. Padahal, kunci pertumbuhan dan masa depan teknologi telephone bergerak berbasis jaringan seluler terletak pada seberapa jauh keberhasilan pihak industri dan operator penyelenggara telephone bergerak berbasis jaringan seluler melakukan penetrasi yang sejauh mungkin mampu menjangkau kelompok ini. Sebab, di beberapa negara maju seperti Emirat Arab, Austria dan Jepang, tingkat kepemilikan telephone seluler sudah diatas 100. Artinya, di negara-negara tersebut penduduknya rata-rata memiliki lebih dari satu unit telephone seluler. Jika penetrasi tidak diperluas hingga menjangkau kelompok berpenghasilan dibawah US $2 per hari, hingga titik tertentu bisnis telephone seluler akan mencapai titik jenuh.

Dapatkah dibayangkan, betapa tidak praktisnya jika di masa-masa mendatang seseorang yang tinggal di kota atau pusat perdagangan, membawa banyak telephone seluler di sakunya, atau satu pesawat telephone mengandung 2 atau 3 chip seluler dari operator yang berbeda. Meski nampaknya praktis, namun hal ini jelas menggelikan sebab masalah utamanya belum dipecahkan, yakni bagaimana menyediakan dan memperluas akses telephone seluler kepada lebih dari 2 Milyar penduduk dunia yang belum memilikinya, sementara sebagian besarnya tinggal di pedesaan. Kita membutuhkan dunia yang saling terhubung sekaligus memastikan lestarinya perkembangan inovasi teknologi serta lestarinya bisnis telekomunikasi bergerak berbasis jaringan seluler yang semakin mempermudah kehidupan kita di setiap aspeknya.

Akses TIK untuk Semua; komitmen Global dan Pencapaian Indonesia.

Meski pengertian desa dan pemukiman pedesaan di masing-masing negara berbeda-beda, namun terdapat beberapa aspek dan fokus yang sama, yakni terdapat wilayah-wilayah pemukiman yang terpencil, dan disebabkan oleh beberapa faktor maka ia menjadi wilayah yang seringkali terabaikan dan hampir tidak tersentuh rencana pembangunan. Hal demikian jamak terjadi di banyak negara, terutama negara-negara berkategori “Negara Berkembang”.

Sejak tahun 2000, saat dicanangkannya Millenium Development Goals (MDG’s) oleh para pemimpin negara dari seluruh dunia yang salah satu indikator target keberhasilannya adalah melalui mekanisme kerjasama dengan sektor swasta, memetik keuntungan sejauh dimungkinkan melalui teknologi baru, khususnya pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi. Target ini dipertajam pada secara spesifik oleh komunitas dan pegiat serta pengusaha bidang telekomunikasi dan politisi pada pertemuan World Summit on the Information Society (WSIS) yang diselenggarakan di Jenewa-Swiss pada 2003 dan dilanjutkan di Tunisia pada 2005. Geneva Plan of Action yang dihasilkan pada kedua pertemuan dunia tersebut, mencakup 10 target yang harus tercapai pada 2015, yakni ;

1. Menghubungkan pedesaan dengan ICT dan membangun Community Access Points.
2. Menghubungkan Universitas, Colleges, Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah dengan ICT.
3. Menghubungkan Pusat Riset dan Ilmu Pengetahuan dengan ICT.
4. Menghubungkan Perpustakaan Publik, Pusat Kebudayaan, Museum, Kantor Pos, dan Kantor Arsip dengan ICT.
5. Menghubungkan Pusat Kesehatan dan Rumah Sakit dengan ICT.
6. Menghubungkan seluruh Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah serta Departemen Pemerintah, membangun situs web, dan alamat surat elektronik (e-mail).
7. Menyesuaikan seluruh kurikulum sekolah dasar dan sekolah menengah agar mencapai target Information Society sesuai dengan keadaan nasional setempat.
8. Memastikan seluruh penduduk dunia memiliki akses pada jaringan televisi dan radio.
9. Mendorong pembangunan materi isian (content) dan perangkat yang dibutuhkan agar semua bahasa di dunia mendapatkan tempat di Internet.
10. Memastikan lebih dari setengah penduduk dunia memperoleh akses ICT ke tempat terdekat yang dapat dijangkaunya.

Target ini dimonitoring secara berkala oleh International Telecommunicarion Union yang berbasis di Jenewa – Swiss untuk melaporkan kepada publik akan pencapaian-pencapaian yang telah diwujudkan serta memastikan arah dan tujuan program dengan tepat. Bahkan, ITU memunculkan sebuah konsepsi pengukuran pencapaian dan peringkat negara berdasarkan kriteria spesifik perkembangan ICT di tiap-tiap negara, yang dikenal dengan ICT Development Index (IDI).

Dalam konteks Indonesia, negara kita juga sedang mengalami perkembangan serta pertumbuhan akses yang signifikan pada ketersediaan teknologi informasi dan komunikasi. Dalam grafik berikut ini, nampak bahwa perkembangan akses publik dan penetrasi pada teknologi informasi dan komunikasi mencapai tingkat yang semakin meninggi terutama dalam kategori akses layanan telephone bergerak berbasis jaringan seluler.



Pada tahun 1998 rasio kepemilikan telephone bergerak berbasis jaringan seluler di Indonesia adalah (0,53). Ini berarti, dari 200 orang penduduk Indonesia hanya 1 orang saja yang memiliki dan berlangganan telephone seluler. Tetapi pada tahun 2009, rasio kepemilikannya naik drastis menjadi 69 penduduk dari 100 populasi penduduk Indonesia yang memiliki dan berlangganan telephone seluler. Kepemilikan telephone seluler ini, berpengaruh besar pada meningkatnya rasio penduduk Indonesia yang memiliki akses terhadap jaringan internet.

Berdasarkan laporan evaluasi 3 tahun Dewan TIK Nasional (DETIKNAS), bahwa dengan menggunakan infrastruktur satelit dan terestrial yang ada dan saat ini dimiliki oleh Telkom, Indosat, Lintasarta, dan PSN maka sesungguhnya kita telah mampu menjangkau 33 provinsi, 440 kabupaten/kota, 5.263 kecamatan dan 62,806 kelurahan di seluruh indonesia.

Data yang diterbitkan oleh Badan Regulasi Telekomuniksi Indonesia (BRTI) menunjukkan bahwa jumlah pengguna perangkat telephone bergerak berbasis jaringan seluler yang telah dilengkapi fasilitas akses 3G saja telah mencapai 6 juta pelanggan. Jumlah ini tidak termasuk pengguna yang melakukan aktifitas akses data Internet melalui GPRS/EDGE dan CDMA/EVDO. Data dari BRTI juga menunjukkan bahwa pada akhir tahun 2009 sebagian besar BTS dari 3 operator selular GSM utama di Indonesia telah siap melayani akses data Internet. Jumlah BTS Telkomsel mencapai 31,000, Indosat 29,000 dan XL 26,000 dengan jangkauan wilayah pelayanan telah meliputi lebih dari 90% kecamatan di Indonesia. Ini tidak termasuk tambahan penetrasi layanan paket data berbasis Fixed Wireless Access (FWA) yang dikenal dengan CDMA/EVDO. Sementara itu, jumlah nomor telephone bergerak berbasis jaringan seluler aktif yang telah terpakai mencapai 165 juta dengan perkiraan 135 juta diantaranya adalah nomor unik, yakni mewakili 1 orang pengguna .

Kondisi demikian didorong oleh banyak faktor, diantaranya adalah semakin kompetitifnya harga perangkat komputer untuk mengakses Internet yang sejak 2008 cenderung turun hingga di bawah US$ 500 (sekitar Rp 5.000.000,-). Sementara Pada tahun sebelumnya berkisar di angka US$ 700 (sekitar Rp 7.000.000,-) dan ada kecenderungan pengguna beralih ke perangat portabel yang lebih murah seperti Netbook (harga kisarannya 4 juta rupiah) dan PDA Smartphone yang saat ini harganya telah dibawah Rp 1.000.000,- Selain itu, semakin kompetitifnya tariff layanan telephone bergerak berbasis jaringan seluler yang ditawarkan oleh operator penyelenggara jaringan seluler juga menjadi pendorong tingginya penetrasi layanan telephone bergerak berbasis jaringan seluler kepada publik. Inilah pencapaian Indonesia secara umum, namun di negara kepulauan ini, persoalan kurangnya akses telekomunikasi masih harus menjadi agenda bersama untuk dituntaskan, terutama di wilayah luar pulau Jawa.

Penyediaan akses telekomunikasi dan Informasi untuk daerah Terpencil dan wilayah perbatasan dua daerah di Indonesia

Belum lama ini penulis bersama rekan sejawat melawat ke Kabupaten Seruyan, menuju ke tengah-tengah ribuan hektar perkebunan kelapa sawit, tepatnya di seputar wilayah Sungai Rungau, Terawan, Semilar dan Bukit Tiga. Kami berkeliling di desa-desa itu untuk mengunjungi sekolah-sekolah perkebunan disana dalam rangka memberi pelatihan kompetensi kependidikan bagi guru-guru yang berkarya dan mengabdi di sekolah-sekolah tersebut. Kabupaten Seruyan ini letaknya jauh di pedalaman provinsi Kalimantan Tengah. Dari Palangkaraya kami menggunakan mobil kijang sewaan yang biasa disebut “taksi” oleh penduduk setempat, menuju ke kota Sampit. Perjalanan ditempuh selama 9 jam dengan kecepatan rata-rata 70-80 KM per jam. Transit di kota Sampit, kami berganti kendaraan model L-300 ke Kabupaten Seruyan dan melanjutkan perjalanan darat kembali yang masih tersisa 3 jam. Kendaraan melaju dengan kecepatan sama, dengan alasan memburu waktu agar tidak terlalu malam saat tiba di tempat. Kondisi menjadi sangat buruk dan medan jelajah menjadi amat sukar jika musim hujan tiba.

Jarak yang sangat jauh dan bentang alam yang berbukit-bukit ini mengakibatkan banyak kesulitan rutin, diantara yang paling utama adalah terbatasnya pasokan listrik sebab jaringan PLN belum tersedia, sehingga warga mengandalkan genset yang hanya mampu memasok listrik paling lama 8 jam. Selain itu, masalah krusial lainnya adalah ketiadaan sinyal telephone seluler dan distribusi voucher pulsa. Selama berada di sana, saya tidak mendapati satu pun sinyal telephone seluler. Kami berlima merupakan pelanggan setia dari operator seluler yang berbeda-beda. Namun sayangnya tidak ada satupun yang dapat diandalkan. Para guru peserta pelatihan yang rata-rata sudah lebih dari 15 tahun mengajar dan menetap di Seruyan, juga mengalami masalah yang sama sejak mereka memiliki telephone seluler. Mereka perlu berkendaraan ke tempat yang lebih tinggi, sekitar 3 KM arah utara dari sekolah tempat kami menyelenggarakan pelatihan untuk mendapatkan sinyal dari salah satu operator seluler. Bukan kebetulan, tetapi sinyal XL memang satu diantara dua sinyal operator yang dapat diterima dengan baik di area tinggi tersebut. Selain persoalan sinyal, persoalan lainnya adalah pengisian ulang pulsa. Harga voucher pulsa disini berlipat dua bahkan di saat-saat tertentu dapat berlipat dari harga yang tercantum pada voucher. Ini dikarenakan, sulitnya mendapatkan voucher pulsa. Padahal, di saat-saat tertentu para guru perlu berkumpul dan berkoordinasi dengan guru sekolah lainnya untuk membahas persiapan ujian nasional atau ujian semester yang materi ujian dan soal test nya disusun di kecamatan.

Jarak yang jauh antar sekolah yang satu dengan sekolah yang lain sering mengakibatkan keterlambatan berita, gagal atau terlambatnya pengiriman dokumen ujian dari sekolah ke Dinas Pendidikan Kabupaten dan dari Kabupaten ke Dinas Provinsi. Kerumitan ini pernah berakibat fatal, yakni tidak lulusnya siswa kelas 3 SMP di salah satu SMP yang memang jauh letaknya akibat keterlambatan kurir dalam menyampaikan data hasil dan dokumen ujian nasional dari sekolah ke Dinas Kabupaten. Softcopy data gagal dikirim sebab motor si kurir mogok kehabisan bensin, dan tidak ada sarana komunikasi untuk menyampaikan berita kondisi yang dialaminya beserta tidak tersedianya sarana agar data yang ditunggu dapat disampaikannya kepada Dinas Pendidikan setempat hingga batas waktu yang ditentukan.

Pendapatan rata-rata guru-guru dan masyarakat di sekitar perkebunan sawit ini tergolong baik, melebihi batasan Upah Minimum Provinsi, bahkan gaji guru di sini nyaris sama besar dengan guru PNS di Jakarta. Persoalannya tidak terletak pada daya beli, namun pada ketersediaan barang yang dibutuhkan. Sebagai gambaran, guru-guru di sini hampir tiap beberapa bulan berganti nomor telephone seluler mereka, sebab masa tenggang kartu telah berakhir sebelum mereka sempat mengisi ulang pulsa. Biasanya setiap hari kamis siang menjelang sore, warga harus menunggu kedatangan penjual eceran yang datang dari Kota Sampit dengan bersepeda motor membawa rupa-rupa barang dan suku cadang yang tidak terdapat di Seruyan, termasuk diantaranya adalah voucher pulsa. Pedagang ini juga membawa jeriken bensin cadangan, sebab jauhnya perjalanan pulang pergi yang ditempuhnya.

Terbatasnya pasokan listrik, sulitnya distribusi dan sedikitnya pihak yang mau mendirikan toko untuk menyediakan rupa-rupa suku cadang elektrik dan voucher telephone seluler, mengakibatkan terbatasnya akses informasi dan telekomunikasi bagi mereka. Kesulitan-kesulitan ini meskipun pada akhirnya diterima sebagai suatu yang wajar oleh warga di Bukit Tiga, Terawan dan Semilar Kabupaten Seruyan namun mereka menyadari sepenuhnya bahwa sulitnya akses ini sewaktu-waktu dapat berakibat fatal seperti pada saat gagalnya pengiriman dokumen ujian nasional. Siswa SMP di Seruyan yang jelas sudah berpayah-payah mempersiapkan diri dan belajar selama tiga tahun di sekolahnya, harus menerima akibat fatal dari kondisi-kondisi yang tidak dapat mereka tolak. Mereka harus mengulang kembali, dengan resiko kegagalan akibat masalah teknis yang sama.

Kondisi keterbatasan akses ini tidak hanya dialami di wilayah Kalimantan Selatan, namun juga masih terjadi di wilayah Jawa Barat. Provinsi berpenduduk terbanyak di Indonesia ini juga masih mengalami problematika yang sama, sebab jauhnya pemukiman penduduk dari wilayah konsentris dan pusat pertumbuhan, serta faktor bentang alam yang berbukit dan sebagiannya berada di wilayah dataran tinggi. Kecamatan Tegal Buleud Kabupaten Sukabumi – Jawa Barat yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia, mungkin merupakan salah satu kecamatan terluar Indonesia. Sebagian besar wilayah kecamatan Tegal Buleud ini masih mengalami kesulitan akses yang tidak jauh berbeda dengan Seruyan di Kalimanatan Tengah. Baik di Seruyan maupun Tegal Buleud, keduaya bukanlah daerah miskin. Penduduknya berkecukupan pangan, sebab dari tanah mereka, padi, palawija dan sayur mayur serta beragam ternak dan ikan dapat hidup disana sehingga mencukupi kebutuhan gizi penduduk. Hanya saja untuk rupa-rupa hasil pabrikan yang merupakan bahan penunjang kehidupan dan tidak dapat diproduksi sendiri seperti semen, alat elektronik-mekanik beserta suku cadangnya, bahan bakar, bahkan sabun mandi, voucher pulsa telephone seluler dan korek api harganya berlipat tiga jika dibandingkan dengan harga eceran di kota konsentris terdekat dan bahkan harga tersebut mencapai lima hingga sepuluh kali lipat jika dibandingkan harga eceran di Jakarta. Hal demikian jelas mengganggu pertumbuhan.

Penulis sempat bertemu Pak Karta, seorang petani kelapa di Tegal Buleud yang mengaku pernah rugi besar sebab 850 liter minyak kelapa yang diproduksinya terlantar berhari-hari di desa kemudian memburuk kwalitasnya. Si Pembeli dari Kota Bogor gagal berkontak dengan Pak Karta sebab selain sinyal telephone seluler yang sering hilang saat cuaca buruk di Tegal Buleud, ternyata nomor telephone seluler milik Pak Karta sudah habis masa tenggangnya, meski pulsa yang dimiliki masih mencukupi jika digunakan untuk berkontak. Hal ini baru disadari Pak Karta setelah ia dan pembelinya bertemu tiga pekan kemudian. Voucher pulsa bukanlah barang yang mudah didapat di Tegal Buleud. Mungkin, di hari yang sama pada saat Pak Karta sedang cemas karena kesulitan berkontak dengan pembelinya, pada saat itu pula sebagian orang di kota besar ada diantaranya yang sedang mengoperasikan toko online-nya yang menjual rupa-rupa kain batik serta sedang berkontak dengan rekan bisnisnya di Singapore meski cuaca sedang buruk diluar rumahnya.

Kesenjangan digital ini nyata terjadi di sekitar kita, dan sudah selayaknya hal ini diakhiri, agar semua orang punya akses dan hak yang sama atas kesempatan untuk dapat bertumbuh, bekerja, berkembang dan belajar dengan cara-cara yang lebih baik, efektif, dan efisien. Jangan sampai terjadi di masa mendatang, masih terdapat Pak Karta- Pak Karta lainnya yang harus menderita kerugian besar akibat kesulitan mengakses layanan telekomunikasi seluler disebabkan sulitnya mendapatkan suku cadang, perbaikan perangkat, layanan purna jual produk, hingga yang paling krusial adalah voucher seluler. Pak Karta tidak miskin, ia mampu membeli perangkat telephone seluler yang sudah dilengkapi fasilitas jaringan 3G saat ia berkunjung ke Jakarta. Sebagai salah satu pengusaha lokal, ia juga memiliki beberapa kendaraan operasional kebun kelapanya. Ditempat yang sebagian besar pasokan listriknya berasal dari kincir-kincir air sederhana buatan warga ini, berlangganan melalui mekanisme Pasca Bayar bukanlah pilihan yang baik, sebab jika opsi ini dipilih, maka Pak Karta harus berkendaraan selama lebih dari 14 jam untuk mencapai ATM terdekat guna melunasi pembayaran tagihannya. Diperlukan suatu terobosan teknologi dan terobosan teknis, agar hambatan-hambatan yang dialami oleh warga yang tinggal di daerah terpencil maupun wilayah perbatasan, dapat ikut menikmati berkah abad teknologi informasi dan komunikasi.

Model Sentra Akses Komunitas; Menjangkau yang terpencil dan terabaikan.

Komitmen global sebagaimana dinyatakan dalam WSIS, bahwa sangat penting dibangun community access point, atau sentra akses komunitas di wilayah pedesaan terpencil pada lokasi-lokasi yang mudah dijangkau warga adalah gagasan yang relevan untuk menjawab permasalahan kesulitan akses yang dialami oleh sebagian warga dunia, dan hal ini dialami juga oleh Indonesia, meski secara spesifik dan detail teknis tidak dijelaskan apa dan bagaimana membangun sentra akses komunitas yang dimaksudkan oleh WSIS.

Dengan luas wilayah daratan mencapai 1.910.931,32 KM2, dan jumlah pulau mencapai 17.504 pulau yang secara administratif per Desember 2009 terdiri atas 33 provinsi, 497 Kabupaten/Kota, 6.652 kecamatan, dan 77.012 Desa/Kelurahan dengan dihuni 237.560.000 jiwa yang terdiri atas 300-an suku bangsa, maka Indonesia sebagai suatu negara berkepentingan dalam menyatukan bangsa besar ini dalam suatu jejaring telekomunikasi dan informasi yang mampu memperkuat kelekatan identitas nasional serta mempermudah proses integrasi nasional. Proses jangka panjang ini mensyaratkan tidak boleh terjadinya kesenjangan pembangunan yang terlalu ekstrim dan ketimpangan penyediaan infrastruktur vital termasuk diantaranya adalah akses telekomunikasi dan informasi. Pengabaian atau lambatnya penyediaan infrastruktur vital ini dapat sangat membahayakan keutuhan bangsa, sebab lambatnya informasi berarti lambatnya melakukan upaya antisipasi dan penyelesaian masalah. Jika keterlambatan informasi di level individu dapat merugikan diri sendiri atau sekelompok orang sebagaimana yang terjadi di Kecamatan Tegal Buleud atau Kabupaten Seruyan, maka keterlambatan informasi di tingkat keamanan negara dapat mengakibatkan keterlambatan atau bahkan kegagalan mengantisipasi ancaman keamanan negara yang juga membahayakan keselamatan warganya, termasuk dalam hal ini diantaranya adalah penanganan bencana alam atau bencana lingkungan.

Mengantisipasi hal-hal demikian, sudah saatnya kita merintis sebuah upaya pembangunan sentra-sentra telekomunikasi dan informasi komunitas berbasis desa. Penulis mendapatkan salah satu gagasan yang sangat relevan dengan upaya ini. Dengan menggunakan rumah warga atau membangun rumah di titik-titik yang berdasarkan pertimbangan lokasi tapak memungkinkan untuk dibangunnya suatu transmitter jaringan seluler serta pemasangan perangkat panel tenaga surya untuk mengantisipasi ketiadaan pasokan listrik, maka gagasan ini layak diujicobakan menjadi sebuah model. Berikut ini adalah model pembangunan sentra akses komunitas berbasis desa yang sedikit banyak merupakan upaya penciptaan model atas apa yang dimaksud oleh WSIS sebagai community access point. Skema ini didasarkan pada teknologi yang telah ada sekarang dan semaksimal mungkin menggunakan sumber daya yang ada di sekitar lokasi pendirian sentra akses komunitas ini. Pengembangan dan perbaikan model ini sangat dimungkinkan jika ternyata teknologi terbaru di masa mendatang memungkinkan peluasan daya jangkauan jaringan seluler dapat dengan modul yang lebih ringkas dan ramping.



Selama ini, pembangunan menara BTS dianggap merupakan pilihan terbaik untuk meneruskan signal telephone bergerak berbasis jaringan seluler ke perangkat penerima. Daya jangkaunya yang luas nampaknya menjadi pilihan untuk menggunakan menara-menara ini. Namun, kendala bentangan alam dan kontur yang berbukit seringkali menjadi penghambat yang mengakibatkan melemah atau hiilangnya signal. Disamping itu, biaya investasi dan operasional pembangunan menara-menara ini sangat tinggi, terlebih lagi jika proses distribusi material utama pembangun menara BTS ini musti menempuh jarak yang amat jauh dengan medan yang sukar. Tingginya biaya investasi ini sebagian besar disebabkan oleh banyaknya alokasi biaya untuk proses konstruksi menara, rupa-rupa pekerjaan sipil, serta biaya operasional dan perawatan berkala baik untuk bangunan menara, modul perangkat transmitter, generator listrik, biaya keamanan dan sewa lahan. Biaya-biaya ini dapat berlipat jumlahnya dibandingkan jika menara BTS dibangun di wilayah perkotaan, sebab faktor keterpencilan lokasi menara BTS. Skema pembangunan menara BTS yang demikian ini bukanlah pilihan terbaik untuk memecahkan persoalan sulit dan lemahnya jangkauan jaringan telekomunikasi seluler di wilayah-wilayah terpencil.

Pembangunan sentra akses komunitas berbasis desa sebagaimana tergambarkan dalam skema Rumah BTS Pedesaan diatas, kiranya dapat dipertimbangkan sebagai sebuah alternatif. Biaya investasi, perawatan dan operasionalnya dapat jauh lebih kecil jika pada lokasi yang sama dibangunkan menara BTS konvensional. Kita dapat menggunakan rumah warga desa di lokasi tapak yang sesuai dan paling memungkinkan. Jikalaupun di lokasi tapak yang ideal tidak tersedia rumah warga, maka di lokasi tersebut dapat dibangun suatu rumah yang dapat diakses dan digunakan bersama oleh warga untuk menikmati beragam layanan sekaligus, yakni warung telekomunikasi dan informasi, warung internet dan warung pusat layanan perbaikan perangkat seluler serta penjualan voucher pulsa seluler atau bahkan jika dimungkinkan, dapat dibangun semacam payment point untuk pembayaran rupa-rupa tagihan kredit warga, pengiriman dan pembayaran uang tunai semacam Western Union dan lainnya sejauh dimungkinkan. Rumah semacam ini menjadi asset publik, dan karenanya sangat penting penempatan satu atau dua orang operator yang bekerja di rumah BTS ini untuk melakukan eduksi bagi warga pengguna sekaligus konsumen mereka untuk menjelaskan dan mengajarkan langsung tentang bagaimana menggunakan dan memanfaatkan internet serta melakukan percakapan seluler yang efektif dan efisien.

Dengan adanya pekerja yang berfungsi ganda sebagai operator, teknisi dan edukator ini, maka rupa-rupa biaya perawatan, keamanan dan terutama biaya konstruksi sipil dapat direduksi seminimal mungkin. Pihak investor hanya perlu memikirkan bagaimana cara paling efisien untuk mengangkut perangkat modul transmitter jaringan seluler yang dengan teknologi saat ini bentuknya sudah sedemikian ringan dan ringkas ke lokasi tapak, menempatkannya diatas atap rumah warga pada lokasi tapak, memasang panel tenaga surya, merekrut dan melatih dua orang warga yang akan berfungsi ganda sebagai operator, edukator warga, teknisi dan sekaligus penjamin keamanan asset tersebut. Jika pada saatnya nanti para warga telah sampai pada tingkat kesadaran yang memahami sepenuhnya bahwa rumah BTS di desa mereka adalah akses mereka ke dunia diluar desa mereka, dan pada saat yang sama, perangkat ini dapat menyediakan peluang untuk promosi bisnis, pariwisata, pertukaran data dan informasi serta merupakan sarana terbaik untuk mengakses beragam ilmu dan pengetahuan aktual dari seluruh penjuru bumi, maka rumah BTS ini adalah asset milik mereka yang tak ternilai, dan menjadi tanggung jawab semua warga untuk memelihara dan menjaganya. Hal demikian bukanlah sebuah impian yang mustahil, jika para pihak yang berkepentingan terutama operator penyelenggara jasa layanan seluler mau merintis proyek ini sebagai bagian dari paket program CSR nya.

Epilog ; Siapa berperan apa ?

Tidak ada yang lebih baik dari sebuah sinergi. Sebab daya cipta yang dihasilkannya secara bersama-sama melebihi daya cipta maksimal yang dapat dilakukan oleh masing-masing pihak jika mereka melakukan aktifitas itu sendiri-sendiri. Digital gab adalah isu global yang juga dialami Indonesia. Kerja-kerja untuk menghapus kesenjangan digital selayaknya menjadi prioritas bersama para pihak yang terkait. Operator penyelenggara jaringan seluler harus memposisikan diri sebagai pihak yang mau mengambil porsi terbesar untuk proyek ini. Pembangunan rumah BTS di desa-desa terpencil atau daerah perbatasan perlu dipertimbangkan sebagai bagian dari agenda rangkaian pelaksanaan program tanggung jawab sosial perusahaan operator penyelenggara jaringan seluler. Hal ini sangat beralasan, sebab operator penyedia dan penyelenggara jaringan seluler berkepentingan untuk menjaga market sustainability. Pada akhir 2009, terdata lebih dari 31 juta penduduk miskin di Indonesia, yang 20 juta jiwa diantaranya tinggal di pedesaan . Angka statistik ini dapat saja berubah sewaktu waktu jika terjadi krisis atau bencana alam dan jumlah nyata di lapangan boleh jadi sangat berbeda dengan uraian statistik ini. Kita tetap perlu mengkaji kelayakan sosial dan finansial secara teliti dan menyeluruh dari proyek ini.

Pemerintah sebagai regulator, perlu mendorong dan memfasilitasi skema proyek Rumah BTS berbasis pedesaan ini. Penetapan bebas pajak bagi semua perangkat yang akan digunakan untuk ketetapan proyek ini, pembebasan pajak dari keuntungan operasional rumah BTS dengan syarat keuntungan tersebut dipergunakan untuk melakukan duplikasi program di lokasi lainnya, mempermudah proses perizinan pendirian Rumah BTS dan membantu menggerakkan birokrasi dari lingkup Pemerintah Provinsi hingga lingkup pemerintah desa sangat diperlukan untuk menjamin proyek ini layak dan mudah diselenggarakan, serta dapat diduplikasi ke banyak tempat sejauh memungkinkan. Demikianlah, selanjutnya kita dapat berharap bahwa di masa mendatang bangsa kita dapat lebih saling terlekatkan antara elemen yang satu dengan elemen yang lain, serta impian akan bangsa yang maju, besar, kuat dan bersatu dapat terwujud dengan beragam rintisan program sederhana, dan itu melalui tangan anak-anak negeri ini.

Onhoorbaar, groit de padie…
(padi bertumbuh tanpa bersuara)


Cengkareng, - Menjelang akhir tahun 2010

Karya ini ditulis dan dipublikasikan oleh Rahmat Akbar, sebagai salah satu syarat dalam mengikuti lomba karya tulis XL Award 2010


REFERENSI

Badan Pusat Statistik. Perkembangan beberapa Indikator sosial-ekonomi Indonesia – Agustus 2010. BPS, Jakarta: 2010

International Telecommunication Union. World Telecommunication/ICT Development Report : Monitoring the WSIS Targets, a mid-term review. Geneve-Switzerland; 2010

Salahuddien, Muhammad. Trend Keamanan Internet Indonesia 2010. Artikel pada Majalah BISKOM edisi Desember 2009.

Sinatriyo, Pandu. Rural Connectivity in next billion era. Handout Presentasi pada acara seminar Rural Connectivity – Convergence & Roadmap ICT. Mastel 2010

UNDP. World Human Development Report 2010. Palgrave McMillan, New York: 2010

Watkins, Craig S. The Young and The Digital. Beacon Press, Massachussets: 2009