<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss'><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888</id><updated>2009-10-01T16:32:24.590-07:00</updated><title type='text'>KALAM PENCERAHAN</title><subtitle type='html'>Mari Belajar...
Agar merdeka, terdidik dan tercerahkan.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>8</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>25</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-7179016393675041312</id><published>2009-05-07T00:27:00.000-07:00</published><updated>2009-05-07T00:37:56.941-07:00</updated><title type='text'>Episode Menjadi Guru, Dibawah Kaki Gunung Salak</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog ; Saat Mulai Jadi Guru&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mulai diamanahkan menjadi Guru Sejarah di SMP Internat Al Kausar pada hari Senin, 2 Agustus 2004. Tapi hari Rabu-nya saya mendapat S.K yang bunyinya &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Sdr Rahmat Akbar, S.Pd ditugaskan sebagai Tenaga Pengajar di unit SMP da mengampu 2 (dua) mata pelajaran ; Pendidikan Kewarganegaraan dan Sejarah untuk kelas 1,2 dan 3” &lt;/span&gt;Alasannya cukup jelas, Pak Firin, kepsek SMP tidak ingin lagi mengajar PKn karena kesibukan beliau sebagai Kepsek. Wah, gawat nih, saya tidak mempersiapkan diri untuk mengajar PKn. “Ah, nggak apa-apa, khan bisa dipelajari sambil jalan” kata Pak Firin. Saya tetap khawatir campur kaget, karena buat saya, ini masalah komitmen professional yang sudah seharusnya disiapkan sejak semula.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari pertama, semua murid datang terlambat, dan 5 dari 17 anak kelas I.A sakit dan nggak berangkat ke sekolah yang jaraknya cuma 150 meter dari tempat tidur mereka. Kelas I.B, jumlah yang sakit cuma 2 orang. Kelas 2 dan kelas 3, masuk dengan pakaian tidak rapi dan kelihatan kurang tidur. Percakapan dengan murid saat break snack pagi membuat saya terheran-heran dengan statement mereka yang beragam saat saya tanya mengapa banyak yang sakit di hari pertama ini, dan mengapa banyak yang terlambat serta tidak nampak rapi dalam berpakaian. Saya heran dan bertanya dalam hati, “ada apa dengan Asrama ?”. Saya niatkan, hari ini juga saya harus berkunjung ke asrama. Sorenya saya menuju Asrama SMP, hanya menjadi pengamat. Anak-anak berlarian, suara riuh hasil perpaduan nada dribbling bola basket, menggiring dan menyepak bola kaki, beberapa berteriak kesakitan karena bercanda (yang kelewatan, menurut saya) bercampur baur. Makanan tumpah dimana-mana, bungkus mie instant berserakan beserta bungkus snack lainnya, sementara air tergenang di beberapa sudut terutama di sekitar dispenser air. Disalah satu sudut lantai dua dekat tempat sampah dan dispenser, teronggok kotak-kotak makanan kantin yang mulai berjamur dan bau busuk. Becek, kotor, kumuh dan ribut kalau sore, kata Pak Bahar (Ka.Asrama waktu itu) adalah hal yang biasa. Saya jadi ingin tahu banyak tentang bagaimanakah anak-anak ini menjalankan kehidupnya di Asrama, terutama di malam hari. Akhirnya, saya memutuskan untuk tidur bersama anak-anak disana malam itu juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kondisi malam hari (2 Agustus 2004) tidak kalah memprihatinkan. Kotoran sore hari tadi tidak disingkirkan oleh pembina asrama (karena kata beliau itu bukan tugasnya) sementara petugas Cleaning Service juga tidak mau membersihkan (karena sudah lewat jam kerja yang berakhir sejak pukul 16.00 sore, kecuali ada perintah lembur, kata pak Tino kepala Cleaning Service). Dari Pak Tino saya mengetahui bahwa jam kerja Cleaning Service sesuai aturan yang ditetapkan di Al Kausar adalah jam 07.00 hingga 16.00. Beliau menjamin bahwa selama rentang jam kerja tersebut, kebersihan asrama dapat beliau jamin. Ini berarti asrama hanya bersih pada saat tidak ada satupun anak yang berada disana. Sehingga tiap malam anak-anak tidur beserta sampah dan rupa-rupa kotoran. Belum lagi banyaknya kelelawar dan burung walet, burung sriti atau burung pipit yang beterbangan dan membuat sarang di enternite gedung asrama. Jelas ada yang salah dengan cara Asrama ini dikelola.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam pertama saya di Asrama Al Kausar juga memberi keterkejutan sendiri. Sepanjang malam, terjadi dua kali perkelahian, satu di koridor kelas 1 antara Dante asal Banjarmasin, anak petinggi TNI disana dan Savero, anak Jakarta, putra petinggi POLRI. Awalnya   sederhana, pinjam   pulpen   tidak   diberi   lalu   saling   ejek   nama   ayah   sampai berlanjut pada tahap saling mengejek institusi si bapak. Tak lama perkelahian terjadi, namun belum dua menit keduanya saya tarik keduanya ke salah satu kamar, didamaikan dalam keadaan menangis, lalu masalah selesai. Hubungan keduanya baru dapat membaik setelah lewat dua pekan, saat kompetisi Bola setelah sebelumnya masing-masing pihak megorganisir kawan lainnya untuk memboikot dan memusuhi yang lainnya. Perkelahian kedua dimulai dengan cekcok mulut biasa antar teman kelas 2 (Bayu dan Naufal) di WC yang cuma berlangsung satu menit, karena tidak sempat terjadi kontak fisik. Pak Yusuf melerai sebelum peluang kontak fisik terjadi antar mereka. Apapun bentuknya, agresi terhadap kawan merupakan ancaman serius bagi semua upaya harmonisasi kehidupan di Asrama, terutama jika terjadi di kelas 1 yang masih rapuh dan belum terbentuk komunitas yang solid. Wah gawat, kelas 1 yang gamang dan rawan dibiarkan sendirian tanpa ada model pendampingan. Benarlah kekhawatiran saya, karena karena hari-hari berikutnya bullying menimpa sebagian kelas 1 yang dianggap “kurang hormat’ kepada seniornya, mereka juga kerap menjadi sasaran pemalakan makanan maupun uang oleh kakak kelasnya, biasanya terjadi beberapa jam setelah kunjungan dwi pekanan orang tua selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 2 pagi (3 Agustus 2004) saya keliling seluruh kamar di koridor kelas 1,2, dan 3. Diantara kamar yang berantakan itu, ada kamar yang berisi 6 murid, dan tidur di bawah (bukan di kasur). Saat saya bangunkan, mereka bilang bahwa mereka takut akan ada hantu di kamarnya, jadi tidur bergerombol. Ada pula kamar yang baunya pesing. Si A ngompol. Kawannya yang nggak bisa tidur karena bau pesing itu bertutur bahwa Si A hampir tiap malam ngompol (mereka sudah sepekan disana sebelum saya mengajar mereka, karena tiap tahun sebelum tahun ajaran baru dimulai diselenggarakan MOS bagi murid baru). Saat saya bangunkan, ia bercerita bahwa selain karena takut ke WC, ia juga punya kebiasaan ngompol sejak kecil, dan setelah teraphy sekian tahun, pada kelas 5 SD dinyatakan sembuh. Lantaran takut, ia sudah 8 hari ini rutin ngompol di kasur. Ketakutan ke WC juga yang menyebabkan si B, siswa kelas 2 mengaku sudah berkali-kali menyimpan air kencingnya di botol minuman atau bekas Pop Mie jika malam hari atau subuh dia kebelet kencing, tetapi takut ke WC karena susananya sepi dan nampak seram. Malam itu saya juga mendapati ada murid yang sakit perut karena lapar belum makan malam. Ia bertugas piket jaga (Harris, istilah yang dipakai di Al Kausar-dari bahasa arab yang artinya petugas jaga-) di asrama saat maghrib tadi, tapi tidak ada satupun murid yang membawakannya makan malam karena temannya yang dititip pesan lupa. Dia juga tidak shalat Maghrib dan Isya karena sibuk “menjaga asrama”. Masalah baru segera nampak dimuka, bagaimana menjamin suasana asrama yang nyaman lahir bathin bagi semua yang tinggal disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat subuh saya membantu pembina lainnya membangunkan para murid. 15 anak menolak berangkat ke Masjid dengan alasan sakit. Hanya 2 anak yang dibolehkan untuk tidak ke Masjid karena memang sakit betulan. Lainnya tetap berangkat namun terlambat dan harus kena hukuman. Selesai shalat shubuh, mereka dibagi berkelompok untuk melaksanakan Tahfidz Al-Qur’aan hingga pukul 06.00 pagi. Agenda berlanjut dengan sarapan pagi. Menunya roti tawar, selai, telur dadar dan susu sapi murni. Setelah izin ke petugas kantin (Pak Robiman Kholil namanya, namun biasa dipanggil anak-anak Pak Robin) untuk meminta selapis roti dan telur, saya ikut duduk makan bersama murid kelas 3. Makan pagi itu diwarnai suasana hiruk-pikuk dan jelas meja-meja berantakan, padahal beberapa menit sebelumnya sebagian besar murid mengikuti tahfidz dengan kantuk berat, dan malas. Hal menarik lainnya adalah pada saat petugas kantin mencemberuti dan menegur seorang guru yang dianggap mengambil roti dan selai terlalu banyak (lima tumpuk,  untuk  keluarga  di  rumah,  katanya).  Teguran  itu  disahuti  oleh  beberapa  murid dengan umpatan “Whuu, bapak maruk !”. Pak Guru tersebut menanggapi dengan cengiran dan timpalan kata “biarin !”, Saya sulit menerima sikapnya, karena bagi saya hal ini adalah masalah integritas guru, yang jelas akan berimbas pada kurangnya rasa hormat dari murid dan seluruh staf kantin. Saya mendapati pembenarannya saat dialog dengan staf kantin beberapa hari setelahnya bahwa hal serupa juga terjadi pada sebagian guru, jadi tidak hanya sikap satu atau dua orang. Saya baru ketahui juga bahwa segalanya dijatah di kantin, jadi jika ada yang mengambil melebihi kuota maka akan mengancam jatah milik orang lain, baik murid, guru atau karyawan kantin. Ada hukum tak tertulis,  bahwa karyawan kantin harus siap menjadi pihak yang paling menderita dengan kehilangan jatah pada saat situasi demikian terjadi. Usai sarapan, pada pukul 06.30 para murid dan guru tahfidz serta pembina asrama bersiap ke sekolah. Saya kembali ke Mess Guru di belakang sekolah (sekarang ditempati Bpk Hamdi Ridho, Guru SMA).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam 06.50 saya bersiap dimuka kelas, dan baru 2 murid yang berada di sekolah. Pukul 07.15, bel sekolah berbunyi dan dari 17 murid, hanya 8 anak yang siap menerima pelajaran. Sisanya mesti diproses oleh Tim Gerakan Disiplin Sekolah karena terlambat datang. Mereka lari keliling sekolah beberapa kali, yang banyaknya berbanding lurus dengan jumlah menit si murid terlambat datang. “Ah ini sih hal biasa disini pak Rahmat” kata Pak Hanafi, Humas Al Kausar dan salah seorang anggota Tim GDS. Murid terhukum baru masuk ke kelas sekitar pukul 08.00, tentu dengan kondisi yang tidak siap menerima pelajaran karena kelelahan hingga saat break sack pagi jam 09.30. “Baiklah anak-anak, karena sebagian teman terlambat, izinkan saya memperkenalkan diri, nama saya Rahmat”. Saya juga menetapkan standar aturan baku yang bisa dirubah sesuai kesepakatan, namun ada satu aturan yang tidak bisa dilanggar “Jangan sekali-kali memanggil Pak kepada saya. Panggillah dengan sebutan Kak. Saya belum cukup tua, dan saya rasa kita bisa saling lebih rileks dengan panggilan itu”. Saya ingin memahami murid saya, dan saya juga ingin dipahami oleh mereka, itu alasan utama saya. Persoalan anak terlambat, ternyata berimbas besar karena performance akademiknya cenderung menurun, meski secara fisik anak yang rajin terlambat lebih kuat dan lincah dibanding anak yang tidak pernah terlambat. Guru yang mengajar di jam mata pelajaran awal, juga rugi karena musti memberi pengayaan tambahan bagi mereka yang jarang masuk di awal pelajaran. Perlu ada sistem terintegrasi yang memastikan murid tidak lagi terlambat datang ke sekolah. (Kesimpulan ini saya presentasikan dalam Majelis Guru “Selasaan” setahun kemudian).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalat dzuhur dilaksanakan sekitar jam 12.00, dan masalah lain timbul lagi. Para murid, meski bersemangat meninggalkan sekolah menuju masjid, namun sesampainya di Masjid mereka tidak langsung berwudlu dan shalat. Ngobrol dan bercanda di dekat ruang wudlu, hingga saat iqomat dikumandangkan, barulah mereka berwudlu dengan sangat cepat tanpa memperhatikan kaidah wudhu. Selesai Shalat, kekurangan rekkat juga dikebut karena biasanya sebagian mereka terutama kelas 2, masbuk 1 rekaat. Selesai dzuhur saya tidak ada jam mengajar, maka saya putuskan mengunjungi perpustakaan. Ditempat yang buku kependidikannya jauh lebih banyak dan kaya materinya daripada perpustakaan kampus saya di Rawamangun, saya mulai menginventarisir masalah di sekitar saya, dan apa saja yang mungkin saya lakukan dalam mengurangi masalah tersebut sesuai kapasitas dan kewenangan saya. Siang itu, bayangan positif saya tentang Al Kausar yang begitu hebat sebagaimana digambarkan oleh Pak Rahmat (Staf Renbang-Al Kausar, senior saya sewaktu di IKIP Jakarta) dan Pak Habib saat wawancara lisan calon Guru baru segera saja sirna, berganti dengan tantangan baru yang memancing semangat tempur saya.&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Epilog ; Inovasi dan Aksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah melakukan pengamatan sambil merancang program yang makan waktu selama 2 bulan, saya mulai mendekati hampir semua pihak yang ada di Al Kausar, dari Cleaning Service (saya hafal nama-nama mereka) hingga Direktur Eksekutif dan Pak Muchsin Mochdar, pemilik dan pendiri Yayasan ABA (Holding Internat Al Kausar). Bulan ketiga, saya mengkampanyekan “Al Kausar yang nyaman untuk semua”, dengan fokus pada Asrama. Alasannya cukup jelas, karena sebagian besar waktu murid SMP Al Kausar (dulu belum ada SMA) dihabiskan di Asrama. Sehingga, sebagian besar masalah kemuridan bersumber awal dan terjadi di Asrama. Advokasi berikut ini saya jalankan sambil berprogram di asrama SMP.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Saya menyelenggarakan Focus Group Discussion, sebagai bagian dari inovasi pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan (Pokok Bahasan Demokratisasi dan Sistem Pemerintahan) bagi kelas 2 dan 3 SMP. FGD diarahkan pada pertanyaan pokok, Bagaimana mewujudkan asrama yang nyaman untuk semua ?. Para pembina dengan kebesaran hatinya, mengikuti tiap tahapan dan mau duduk semeja dengan murid. Tercapai konsensus tentang pembagian peran dan penyusunan peraturan asrama yang mengikat bagi siapapun yang tinggal disana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Dalam forum itu saya memperkenalkan Room Repport (Penilaian Kamar), dengan instrumen yang disepakati antara murid dan pembina asrama. Seorang murid akan tidak naik kelas karena PKn-nya bernilai 5, dan jika nilai kamarnya buruk selama satu semester. Penilaian dilakukan harian, setiap pagi dan malam, dan progress report dipajang di mading asrama sepekan sekali di hari Ahad, saat kunjungan orang tua (supaya ada kebanggaan di sisi murid, disamping sebagai sarana publikasi kinerja staf asrama agar citra positif atas kinerja pembina juga terbentuk di mata orang tua) Saya juga mendorong pembina untuk memberi rewards bagi tiga kamar berperingkat terbaik di tiap kelas pada tiap bulannya. Dananya diambil dari kas asrama, ditambah uang denda yang dibayarkan murid setiap pelanggaran kebersihan yang dilakukan (bagi staf asrama ini berarti tidak perlu keluar uang banyak untuk rewards, dan bagi murid, hal ini merupakan tantangan agar mereka serius dengan project ini). Disepakati pula bahwa pihak pembina asrama akan memberikan sapu baru dan tempat sampah baru bagi tiap kamar. Saat itu hari Jum’at, dan program baru dilaksanakan pada hari Senin, 1 November 2004. Berarti ada waktu dua hari bagi masing-masing pihak untuk menyiapkan diri dalam menjalankan kesepakatan ini. Hari Ahad adalah saat kunjungan dwipekanan bagi para orang tua murid. Saat itu saya sampaikan rencana ini kepada beberapa orang tua kelas 1. Salah seorang dari orang tua murid asal Bandung sangat antusias akan rencana saya ini dan sorenya ia kembali ke asrama dengan membawa 26 buah bak sampah plastik berkwalitas baik, sumbangan bagi asrama sebagai bentuk dukungan program ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sepekan, hasil dari program ini sangat nyata. Asrama berubah menjadi tempat yang bersih dan wangi aneka buah dan bunga, karena para murid tidak hanya menyapu dan mengepel kamar-kamar mereka, namun juga meyemprotkan pewangi ruangan tiap pagi dan sore. Dalam dua bulan berikutnya hasilnya signifikan, karena jumlah anak yang sakit berkurang, dan beberapa murid yang menderita alergi pernafasan(seperti yang diderita oleh Dika Danial-kelas 1), juga semakin membaik laporan kesehatannya. Raport kamar dijalankan secara konsisten. Dua pekan pertama saya dibantu seorang pembina menilai langsung ke kamar-kamar. Masalah timbul saat saya jadi sering kena tegur Kepsek karena datang telat untuk mengajar karena penilaian kamar biasanya selesai jam 07.30, ini berarti pada hari selasa dan kamis disaat giliran mengajar jam pertama saya harus terlambat 15 menit. Pekan ketiga, saya menunjuk beberapa murid sebagai penilai kamar (tiap jenjang kelas 2 murid, dan kelas 1 menilai kamar kelas 2, kelas 2 menilai kamar kelas 3, sementara kelas 3 menilai kamar kelas 1). Baru sepekan berjalan, timbul keluhan dari kelas 1 yang cenderung diintimidasi seniornya agar mencatat nilai tinggi bagi kamar seniornya, demikian juga kelas 2 yang diintimidasi kelas 3. Sementara, ada laporan bahwa seorang murid kelas 3 mencuri stock makanan ringan milik kelas 1 saat mereka melakukan inspeksi kamar kelas 1. Perlu sedikit akrobat sistem. Di pekan Keempat atas usulan pak Bahar (kepala Asrama waktu itu), dan ditambahkan rupa-rupa penyempurnaan ide oleh pembina lainnya dalam sebuah diskusi informal di Kantor Asrama pada Sabtu Sore, 20 November 2004 diputuskan bahwa mulai Senin besok, penilai kamar dibentuk berdasarkan grup. Ada empat grup beranggotakan 3 anak yang terdiri atas kelas 1,2 dan 3 dan didampingi pembina yang piket untuk menilai kamar. Pak Bahar bersedia mengatur jadual gilir bagi murid yang bertugas menilai kamar. Sistem ini berjalan dengan sangat baik. Kehadiran Ibu Titiek dalam kapasitas sebagai Ibu Asrama sangat membantu tegaknya sistem ini. Sistem ini masih tetap berlangsung hingga saat saya meninggalkan Al Kausar pada awal tahun ajaran baru 2006.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persoalan keterlambatan, baru muncul pemecahannya saat saya sudah 1 semester di Al Kausar. Kolektivisme yang sangat kuat antar kelompok guru wali (kelompok murid beranggotakan 10 orang, yang diasuh dan dibina oleh seorang guru pria) adalah asset berharga di Al Kausar dan dalam event tertentu semacam lomba-lomba, menjadi seperti trademark bagi murid maupun guru. Bersama Pak Rafiq, saya menggagas dan menyusn formulasi agar keberangkatan murid dari asrama menuju sekolah diatur per guru wali. Murid berangkat per 10 orang. Yang boleh berangkat adalah yang anggota guru walinya telah lengkap, dan bagi yang belum lengkap dilarang berangkat. Hal ini memacu kekompakan murid, dan rasa tanggung jawab. Sementara murid yang cenderung malas akan mendapat teguran keras atau sanksi sosial dari temannya karena gara-gara dialah (misalnya) seluruh anggota guru wali menjadi terlambat dan kena sanksi GDS. Bagi guru wali yang bersangkutan, program ini mendorong guru untuk semakin peduli pada murid asuhannya. Dalam program ini diberlakukan pula format absensi yang mencatat dengan jelas pada jam dan menit berapa kelompok guru wali Pak Rafiq, misalnya, berangkat meninggalkan asrama. Dalam format itu juga ketua kelompok guru wali membubuhkan tanda tangan bukti keberangkatan. Ini adalah dokumen sumber penilaian saya. Angka keterlambatan menurun drastis dan dalam sebulan, angka keterlambatan murid menjadi 0%. Saya senang, karena inovasi ini berhasil memecahkan satu masalah krois yang sulit dipecahkan selama beberapa tahun belakangan. Jelas bahwa keterlambatan adalah satu unsur serius yang saya masukkan dalam instrumen penilaian PKn. Keterlambatan dan Raport kamar berkontribusi 65% penilaian Raport untuk mata pelajaran PKn. Sistem pemberangkatan per guru wali juga masih konsisten dilaksanakan pada saat saya meninggalkan Al Kausar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Soal lainnya yang menjadi masalah kronis di Asrama adalah persoalan komunikasi yang tidak lancar antara murid dan pembina. Hal ini terjadi pula di sekolah, sehingga hambatan komunikasi juga dialami oleh guru pengampu mata pelajaran di sekolah.  Beragam  pelanggaran  terselubung  kerap  terjadi  dan  karena  tidak  sensitif  atau kurang peka nya orang dewasa di sana (guru atau pembina) maka anak dihadapkan pada beragam masalah teens syndrome yang harus diselesaikannya sendiri. Tanpa ada tempat bertanya, maka beragam kekonyolan yang menggelikan kerap terjadi dan dengan sendirinya statistik pelanggaran meningkat, murid tertekan, serta depresi bahkan tak jarang berujung pada keluarnya murid dari Al Kausar. Saya memikirkan perlunya suatu upaya kanalisasi ketersumbatan aliran komunikasi yang didahului dengan suasana cair, terbuka serta aman secara psikologis bagi anak, sampai pada titik ia yakin bahwa sang guru atau pembina, mau memahami dan mengerti masalah-masalah yang dihadapinya, dan bahwa sang guru atau pembina layak dipercaya dan kompeten dalam menangani masalah yang sedang dihadapinya. Pemecahannya ternyata sederhana, idenya hadir begitu langsung dan tiba-tiba. Saya meminta Asrama membeli DVD Player, dan setiap malam ahad di pekan ke 1 dan 3 (karena pekan ke-2 dan 4 adalah waktu kunjungan orang tua), para pembina dan murid nonton bareng di lobby asrama selepas makan malam sekitar pukul 08.15. Saya menyebutnya Malam Keakraban. Film yang diputar adalah film pilihan yang bebas pornografi. Rata-rata film kartun seperti Madagascar, Shrek, Shark Tale, atau film Superhero seperti Spider-man, Batman Begins, dll. Semua murid harus ikutan, dan harus berbaur. Sejak sore, para murid ramai-ramai membersihkan lobby, dan memasang bed cover atau meletakkan benda-benda tertentu sebagai penanda bahwa tempat itu sudah ada yang punya. Malam pertama itu berubah menjadi malam penuh keakraban. Film saya dapatkan dari seorang rekan di Glodok, dengan harga pertemanan Rp 2.500,- per keping. Hingga saat meninggalkan Al Kausar, saya menghibahkan 42 judul film kepada PSB Al Kausar. Pada pemutaran film selanjutnya, beberapa anak kelas 3 bermental entrepreneur meminta izin mendirikan semacam kafetaria yang menjual aneka snack dan minuman bersoda dengan harga kompetitif. Hal ini adalah buah yang tak terduga dari inovasi malam keakraban. Pengurus OSIS dan siswa kelas 3 berpartisipasi dalam mini kafetaria ini, untuk menggalang dana bagi program pembuatan buku tahunan mereka yang memang berbiaya besar. Meski lambat, dalam beberapa bulan setelah malam keakraban dirutinkan, para murid mulai mengakrabi pembina mereka, dan bahkan beberapa cenderung menjadi manja. Pujian datang dari orang tua saat penerimaan raport kenaikan kelas dan kelulusan kelas 3, yang dalam testimoninya mengatakan bahwa anaknya banyak cerita tentang asrama yang semakin nyaman buat mereka. Alhamdulillah, kuncupnya perlahan bermekaran jadi bunga yang harum untuk semua. Sebagaimana dua program lainnya, program ini juga masih konsisten dijalankan saat saya meninggalkan kampus Al Kausar.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wallahu a’lam.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-7179016393675041312?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/7179016393675041312/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2009/05/episode-menjadi-guru-dibawah-kaki.html#comment-form' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/7179016393675041312'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/7179016393675041312'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2009/05/episode-menjadi-guru-dibawah-kaki.html' title='Episode Menjadi Guru, Dibawah Kaki Gunung Salak'/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-8552337338373220982</id><published>2008-03-28T09:31:00.000-07:00</published><updated>2009-04-13T08:00:04.081-07:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;font size=2&gt;MELIHAT KE DALAM, BERKACA DI HADAPAN,&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;font  size=2&gt;BERFIKIR, LALU BERIKRAR...!!&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;font color="#000000"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Ditulis oleh Rahmat Akbar, Mahasiswa Smt 8 Jurusan Sejarah  FIS  UNJ, sebagai bahan diskusi dalam mata kuliah &lt;font color="#000000"&gt;&lt;i&gt;Sejarah Intelektual&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;font color="#000000"&gt;, di bawah bimbingan Prof.Dr.Diana Nomida Musnir, M.Pd. &lt;font color="#000000"&gt;&lt;i&gt;21 April 2003.&lt;/font&gt;&lt;/i&gt;&lt;/font&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Bacalah ; Dengan Nama Tuhan mu yang menciptakan...&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Boleh jadi, lembaran berikut ini tidak bisa menggambarkan secara jelas maksud yang hendak dicapai dari tujuan penulisannya, sesuai dengan kesepakatan kuliah pekan lalu atau yang sesuai dengan judul tulisan ini. Rasanya terlalu besar &lt;/font&gt;&lt;i&gt;beban &lt;/i&gt;yang harus ditanggung oleh tulisan ini jika ia memang diharuskan mengemban misi tersebut.&lt;br /&gt;	Dalam lintasan sejarah kemanusiaan di kurun waktu apapun, selalu muncul &lt;i&gt;anak-anak zaman&lt;/i&gt;yang menjadi salah satu penentu jalannya sejarah peradaban kemanusiaan. Terukirnya nama mereka seabadi karya yang dipersembahkannya pada kemanusiaan. Tinta yang menitis dari ribuan pena tak pernah kering hingga hari ini untuk terus melukiskan setiap detik kehidupan mereka dan menggali &lt;i&gt;pelajaran-pelajaran berharga&lt;/i&gt;yang menyejarah dari mahakarya-mahakarya yang dihasilkannya bagi peradaban manusia dan kemanusiaan. Di setiap diri merekalah mengalir recik-recik keteladanan yang tak lekangoleh zaman hingga hari ini. Prosesi pergulatan pencarian eksistensi dirinya dalam konteks kemanusiaan hingga mampu  menjadikan diri mereka teladan di muka bumi merupakan salah satu potongan episode kehidupan mereka yang amat menarik untuk dibahas dan dibicarakan dengan bahasa apapun dan dalam konteks kemanusiaan manapun. Mereka unggul atas manusia-mansia lainnya di bumi. Mereka telah memahami, lewat pencariannya yang tak kenal henti akan eksistensi diri dalam konteks mikro dan makro kosmos. Kini kita mencoba menelusuri &lt;i&gt;jalan setapak&lt;/i&gt; yang boleh jadi akan menguras seluruh potensi diri kita. Jalan inilah yang diyakini sementara orang sebagai jalan yang di tempuh &lt;i&gt;anak-anak zaman&lt;/i&gt; itu menuju keabadian lewat mahakaryanya yang dipersembahkannya bagi kemanusiaan. Atas dasar pola berfikir demikianlah, maka tulisan ini dibuat, yang merupakan pantulan refleksi penulis setelah membaca dan berusaha memahami Harun Yahya lewat karya-karyanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Lihat dirimu, dan perhatikan Semesta ..&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	Selalu, dalam pentas peradaban dunia terjadi pergulatan akan eksistensi. Ada kebenaran di satu sisi, dan ada kebatilan di sisi lainnya, dan dalam konteks mikro, ada pergulatan &lt;i&gt;diri&lt;/i&gt; dalam pencarian hakikat kemanusiaan dirinya di tengah manusia lainnya. Untuk pergulatan semacam inilah, perlawananterberat perlu di lakukan agar tak sesat jalan. Keluar dari cangkang kebekuan zaman, lepas dari belenggu materialisme dan system kapitalis yang menghegemoni adalah langka awalannya. Kita telah menemukan, mengapa kita pada hari ini hidup terkotak-kotak, antara eksistensi dan essensi diri. Dalam konteks ke eksistensian diri, kita perlu membuktikannya melalui mahakarya kita bagi peradaban ummat di hari ini. Namun, dalam konteks peneguhan essensi diri, maka perlu ada pencarian yang tak kenal waktu, serta lepas dari konteks keruangan. Ketimpangan dari salah satu proses, akan berakibat fatal. Apabila &lt;i&gt;locus&lt;/i&gt;pembuktian eksistensi diri menjadi focus utama investasi kehidupan kita di dunia ini, maka yang cenderung terjadi adalah arogansi dan munculnya mental-mental serakah, penindas dan dibuktikan dengan bertebarannya rezim-rezim tiran di pentas peradaban ummat dalam konteks waktu dan ruang manapun. Di sisi lain, apabila &lt;i&gt;locus&lt;/i&gt;pencarian essensi kemanusiaan menjadi pilihan diri kita untuk menginvestasikan seluruh waktukehidupan kita di dunia, maka yang terjadi adalah tenggelamnya kita dalam ruang-ruang maya, hingga keberadaan kita tak dirasakan manfaatnya oleh manusia-manusia lain, serta tak ada sedikitpun pembuktian bagi kemanusiaan yang dapat kita sumbangkan sebagaihasil dari pencaran eksistensi diri kita. Kini, kita hidup dalam dunia yang serba kompleks, sistematik dan konsekwensinya, pola hidup semacam itu tak dapat diterima oleh siapaun, sehingga &lt;i&gt;Ibnu Qoyyim Al Jauziyah&lt;/i&gt;, seorang filsuf kenamaan dari abad 12 di pentas peradaban muslim berikrar bahwa &lt;i&gt;orang semacam itu,layaknya bangkai busuk yang harus disingkirkan !&lt;/i&gt; Tentulah kita tidak ingin mengalami ketimpangan semacam itu. Meski kehihidupan kita hari ini dikungkung oleh system yang hegemonic dan menindas secara sistematis, namun pertanyaannya adalah mengapa kita &lt;i&gt;harus &lt;/i&gt;hidup di dunia yang terkotak antara &lt;i&gt;essensi &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;eksistensi&lt;/i&gt;, antara &lt;i&gt;agama&lt;/i&gt; dan &lt;i&gt;sains&lt;/i&gt;, antara  &lt;i&gt;fakta &lt;/i&gt;dan &lt;i&gt;imaji&lt;/i&gt; ? Hal ini terjadi, karena adanya &lt;i&gt;penbiasan&lt;/i&gt;dari tujuan pencarian yang di alami oleh manusia, sehingga pencarian &lt;i&gt;kebanaran&lt;/i&gt; atas prosesi penciptaan di muka bumi tidak mendorong terjadinya &lt;i&gt;kristalisasi&lt;/i&gt; keyakinan akan &lt;i&gt;kebenaran&lt;/i&gt;essensi dirinya yang juga seseorang yang merupakan produk ciptaan dari Sang Maha Pencipta. Jika saja penelusuran kita atasprosesi penciptaan semesta ini mendorong kita semakin yakin akan essensi diri kita dalam konteks kesemestaan, maka respons kesombongan, arogansi dan pengingkaran dapat dikekamg agar tak muncul dengan munculnya kesadaran diri dari dalam nurani kita akan hakikat siapa kita sesungguhnya, mengapa kita ada dan diciptakan, serta untuk tugas apa kita diciptakan ?. Kalau alurnya sudah demikian, maka kekhawatiran bahwa essensi dasar penciptaan terlupakan dengan gemerlap eksistensi imajiner yang dibangun dan diciptakan melalui prosesi pencarian kebenaran empiris &lt;i&gt;a la&lt;/i&gt; sains modern, tidak akan terjadi.        &lt;br /&gt;	&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;&lt;u&gt;Kerangka Acuan Diskusi ;Tawaran Metodologi Spiritual Engineering&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Melihat kedalam berarti menelisik ulang tentang siapa, apa dan bagaimana kita kelak ?&lt;br /&gt;Bagaimana dengan visi hidup, tawaran realitas dan bekalan rasio serta pengalaman empiris sebagai penuntun ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkaca di hadapan berarti kita mulai mencari jawaban di dalam dengan melakukan penjelajahan ke luar lingkaran diri, dan mengumpulkan data serta fakta untuk mencari bukti atas kebenaran Illahiah&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berfikir berarti mengolah dan merefleksikan, memantulkannya dan mengolahnya sendiri untuk mengendapkan serta meresapi alternatif jawaban yang mungkin kita temukan dan akan kita pilih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikrar adalah syahadat kita, statemen prbadi sebagai pantulan pencerahan spiritual kita, yakni sesuatu yang kita dapatkan setelah melalui eksplorasi, elaborasi dan refleksi kita yang panjang. Ini adalah buah dari &lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;spiritual engineering &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;bagi sang pembelajar agar tak hanya terdidik, tapi juga harus tercerahkan secara spiritual, moral dan intelektual yang terpantulkan melalui sikap hidupnya di tengah-tengah manusia pada umumnya.&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;font size=2&gt;NOTULENSI  DISKUSI  &lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=1&gt;Mata Kuliah	: Sejarah Intelektual&lt;br /&gt;Hari / Tanggal : Senin, 21 April 2003    		Waktu 	:   Pukul 08.10  09.47 WIB&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Pemerhati Diskusi&lt;/b&gt;&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;	&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;Agung Pardini &lt;br /&gt;&lt;/font&gt;Bagaimana tentang keberadaan Manusia Purba menurut Harun Yahya, bukankah keberadaan Manusia masa purbakala adalah suatu fakta tak terbantahkan  ?&lt;br /&gt;	&lt;/font&gt;Evolusi, menurut konsepsi serta konstruksi paradigma yang saat ini kita kenal, dapat dibagi menjadi evolusi fisik dan evolusi kebudayaan, yang pada hakikatnya merupakan sebentuk &lt;i&gt;perubahan menuju kesempurnaan.&lt;/i&gt;Jika kita mengacu pada pendapat-pendapat Harun Yahya, maka kita dapati bahwa evolusi adalah suatu kemustahilan. Bagaimana menurut anda ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;      2.   Asep Khambali&lt;br /&gt;a.	&lt;/font&gt;Bagaimana status Nabi Adam selaku manusia pertama ciptaan Tuhan sebagaimana yang telah diyakini oleh banyak orang ?&lt;br /&gt;b.	&lt;/font&gt;Bagaimana dengan teori &lt;i&gt;Missing Link ?&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3.	&lt;/font&gt;Muhammad Irfan &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.	&lt;/font&gt;Ilmuwan harus Independen, dengan kata lain ia harus melepaskan semua keterkaitannya dengan dogma-dogma agama yang bias mendistorsikan keobjektifannya dalam megemukakan analisisnya. Sementara kita melihat Harun Yahya menggunakan pendekatan Agama untuk menganalisis fenomena sains, bagaimana menurut anda ?&lt;br /&gt;b.	&lt;/font&gt;Adakah bukti-bukti Ilmiah dari pemikiran Harun Yahya, apakah pemikirannya hanya sekedar persepsi atau benar-benar fakta ?��&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;u&gt;&lt;font size=1&gt;Jawaban Pemakalah&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;	&lt;/font&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;(untuk Sdr. Agung Pardini)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.	&lt;/font&gt;Harun Yahya, dalam karya-karyanya menentang TeoriEvolusi, berpusat pada perang Paradigma Berfikir tentang suatu obyek permasalahan yakni ; proses penciptaan manusia. Akan halnya manusia purba, memang benar bahwa hal tersebut adalah fakta yang tak terbantahkan. Namun perlu dipahami bahwa manusia purba pada hakikatnya adalah ras manusia yang hidup di masa lampau, ribuan bahkan mungkin jutaan tahun yang lalu. Dan sekali lagi, manusia purba tetap manusia purba dan ia, sebagaimana yang diyakini oleh Harun Yahya sendiri, tidak mengalami proses evolusi biologis. Sehingga, keragaman bentuk fisik tak lain merupakan sebentuk variasi ras-ras manusia sebagaimana jikakita lihat ras Afrika dan ras Eropa. Namun, tetap saja mereka adalah manusia yang Tuhan menciptakannya dalam bentuknya yang paling sempurna, tanpa proses evolusi.&lt;/font&gt;&lt;br /&gt;b.	&lt;/font&gt;Pada prinsipnya, manusia adalah makhluk dinamis, yang senantiasa mengalami perubahan, namun, prosesi perubahannya bukanlah sebentuk perubahan fisik dari struktur fisik yang sederhana menuju struktur fisik yang lebih rumit. Perubahan yang terjadi harus dimaknai sebagai sebentuk proses adaptasi fisik atau psikis dalam rangka mempertahankan eksistensi kehidupannya di tengah derasnya tantangan kehidupannya. Prosesi adaptasi ini kadangkala, diikuti dengan sebentuk adaptasi fisik yang tidak terlalu signifikan, karena meski misalnya, ukuran kakinya lebih lebar dari manusia kebanyakan, atau memiliki selaput di sela-sela kaki &lt;/font&gt;&lt;i&gt;(sebagaimana ditemukan di Kepulauan Sangier)&lt;/i&gt;tetap saja status mereka sebagai bagian dari ras manusia, dan perubahannya adalah sebentuk adaptasi, dan bukannya evolusi. Sebab, evolusi merupakan perubahan tahap demi tahap menuju titik sempurna, sementara perubahan yang terjadi diras manusia sejah ini hanya dapat dipandang sebagai sebentuk adaptasi semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Untuk Sdr. Asep Khambali)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a.	&lt;/font&gt;Perihal Nabi Adam a.s, maka kami berkesimpulan bahwa beliau adalah seorang Nabi, dan jika kita kembalikan kepada pengertian dari Nabi itu sendiri, maka akan didiapati fakta bahwa yang dimaksud &lt;i&gt;Nabi&lt;/i&gt; adalah Hamba Tuhan Pilihan, yang diutus untuk mengemban misi Ke Tuhan an di muka bumi atas suatu komunitas manusia &lt;i&gt;(ummat. &lt;/i&gt;Dari pengertian tersebut, jelaslah bahwa Adam adalah Nabi pertama yang diutus Tuhan kepada ummat manusia, sehingga wajar apabila kita temukan keterangan di dalam teks &lt;i&gt;Al Quraan&lt;/i&gt; mengenai kekhawatiran akan &lt;i&gt;penciptaan seorang&lt;/i&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt; khilafah &lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;i&gt;yang boleh jadi nantinya hanya akan membuat kerusakan di muka bumi sebagamana manusia manusia sebelumnya. &lt;/i&gt;Adam, tidak dinyatakan dengan tegas oleh Allah Sang Pencipta melalui pengkabarannya dalam Al Quraan sebagai manusia pertama yang diciptakan Nya untuk kemudian ditempatkan di Bumi, namun yang pasti, dia (Adam) adalah manusia yang menyandang gelar &lt;i&gt;Khilafah&lt;/i&gt;yang pertama, sekaligus utusan Tuhan yang pertama atas ummat manusia di muka bumi, sebagaimana termaktub dalam Al Quraan.&lt;br /&gt;b.	&lt;/font&gt;Hingga hari ini, teori &lt;i&gt;mssing link &lt;/i&gt;masih merupakan teori yang dipandang secara sinis oleh banyak cabang ilmu pengetahuan, terutama Biologi. Teori missing link pada dasarnya hanya dilandasi atas sebuah asumsi belaka yang sangat sulit dibuktikan kebenarannya dengan postulat atau metode ilmiah manapun. Hendaknya kita memperlakukan &lt;i&gt;asumsi (bukan teori) adanya missink link&lt;/i&gt;ini dengan wajar, sebagaimana kita memandang suatu asumsi subyektif belaka, sehingga hal demikian semestinya tidak menyibukkan kita, apalagi sampai pada taraf membingungkan kita. Karena  itu, sebaiknya kita tetap bersikap &lt;i&gt;wait and see &lt;/i&gt;karena perkembangan asumsi ini masih terus berkembang hingga hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;(&lt;/i&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Untuk Sdr. Muhammad Irfan)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;a.	&lt;/font&gt;Berkenaan dengan masalah Independensi seorang Ilmuwan, maka nampaknya ita semua harus menempatkan masalah ini dengan seadil mungkin, yakni dengan melihat pokok masalahnya. Fenomena &lt;i&gt;&lt;b&gt;Sekularisasi&lt;/i&gt;&lt;/b&gt; ilmu pengetahuan ini telah dimulai sejak &lt;i&gt;abad pencerahan&lt;/i&gt; , yang ketika itu otoritas Gereja dan Negara dibedakan dengan tegas. Bahwa agama, adalah urusan pribadi, sementara Negara adalah rusan publik. Proses domestikasi Agama ini terus berlanjut hingga merambah ke bidang-bidang &lt;i&gt;Publik &lt;/i&gt;lainnya, termasuk Ilmu Pengetahuan dan pengkajiannya. Karena Ilmu pengetahuan dan hasil-hasil pengkajiannya adalah &lt;i&gt;milik publik, &lt;/i&gt;maka ia harus ebas &lt;i&gt;nilaii dan muatan apapun, termasuk agama. &lt;/i&gt;Sehingga, ilmu pengetahuan semakin sekuler. Kesalahkaprahan ini terjadi karena alur demikian itu. Masalah &lt;i&gt;bebas nilai&lt;/i&gt; sendiri, adalah masalah yangsampai hari ini mengundang perdebatan di kalangan ilmuwan sendiri, terutama para filsuf etika dan pakar filsafat Ilmu Pengetahuan. Netralitas sendiri, sesunggunya adalah suatu yang tak mungkin dilakukan, mengingat tujuan dari pengkajian Ilmu Pengetahuan adalah proses pencarian Kebenaran. Bukankah &lt;i&gt;kebenaran&lt;/i&gt;itu sendiri merupakan suatu nilai, atau setidaknya suatu yang mustahil muncul tanpa dilandasi oleh itikad baik dan nilai-nilai luhur semacam kejujuran. Arogansi pendapat bahwa Ilmu harus netral, lebih dimaksudkan agar ilmu terlepas dari usaha politisasi dan upaya lainnya yang dapat mengurangi kwalitas hasil pengkajian ilmu tersebut dan obyektivitas dalam prosesnya. Akan halnya Haryn Yahya, maka saya sangat sependapat atas usahanya. Pengkajian harun Yahya, merupakan sebentuk pengkajian Ilmu Pengetahuan yang &lt;i&gt;bertujuan&lt;/i&gt; untuk &lt;i&gt;&lt;b&gt;membuktikan&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;eksistensi sang pencipta, dengan jalan melakukan analisis tajam dan mendalam terhadap fakta-fakta social-politik dan realitas kesemestaan, melakukan perbandingan antara asumsidan paradigma Materialisme, dengan paradigma dan argumentasi Illahiyah yang tercantum dalam &lt;i&gt;Quran,&lt;/i&gt;serta diyakini kebenarannya oleh sebagian besar ummat Islam. Upaya perbandingan ini dilakukan dengan cara mengeksplorasi hasil-hasil pengkajian empiris para ilmuwan masa kini,&lt;i&gt;(misalnya tentang penyelidikan proses penciptaan alam semesta)&lt;/i&gt; dan mengkomparasikan dengan asumsi Paradigma Materialisme untuk kasus yang sama (&lt;i&gt;misal ; asumsi proses penciptaan alam semesta)&lt;/i&gt;. Kemudian, ia melagkah lagi dengan menyodorkan &lt;i&gt;informasi dari Quran &lt;/i&gt;masalah penciptaan alam semesta tersebut, dan dari komparasi ketiga aspek tersebut, ditariklah suatu kesimpulan akhir yang memutuskan kebenaran berada di pihak siapa, apakah informasi &lt;i&gt;Illahiyah&lt;/i&gt; sebagaimana termaktub dalam Quraan atau asumsi Materialisme sebagaimana diyakini sebagian orang di muka bumi ini.&lt;br /&gt;&lt;font face="Times New Roman"&gt;b.	&lt;/font&gt;Pengkajian harun Yahya sehingga dapat menghasilkan karya-karya besar yang mampu membuka cakrawala pemahaman kita atas realitas empiris di alam semesta ini sesuai dengan perspektif &lt;i&gt;Qurani&lt;/i&gt;jelas bukan merupakan suatu asumsi-asumsi yang dipoles dengan sedikit fakta empiris, sehingga seolah-olah nampak merupakan suatu yang rasional, masuk akal, dan layak disebut Ilmiah, padahal sesungguhnya tidak mengandung kebenaran Ilmiah sama sekalisebagaimana yang kita temukan pada asumsi dan Paradigma yang digunakan oleh filsafat Materialisme dalam memandang suatu Fakta, sehingga bayak kalangan yang semula meyakini cara pandang demikian, berubah menjadi pihak yang paling menentang materialisme. Pandangan, pendapat dan hasil-hasil Karya dari Harun Yahya adalah hasil dari pengkajian Ilmiah yang dapat dibuktikan, sehingga secara rasional dapat diterima dan secara empiris dapat dipertanggung jawabkan. Kita dapat melihat hal itu dalam eksplorasinya membongkar kekeliruan &lt;i&gt;teori evolusi&lt;/i&gt;. Dalam usahanya itu, ia menyertakan bukti bukti serta temuan pakar terdahulu. Sebenarnya usaha Harun Yahya dalam membongkar ketidak ilmiahan teori Evolusi merupakan suatu usaha pengumpulan fakta terdahulu yang jarang di ekspose oleh kalangan akademisi dan ilmuwan, sehingga Harun Yahya, hanya mempertegas kembali kekeliruan teori Evolusi ini dan menawarkan suatu pendekatan baru yang lebih &lt;i&gt;Qur'ani. Wallahu a'lam.. &lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-8552337338373220982?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/8552337338373220982/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2008/03/melihat-ke-dalam-berkaca-di-hadapan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/8552337338373220982'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/8552337338373220982'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2008/03/melihat-ke-dalam-berkaca-di-hadapan.html' title=''/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-1209454775458778572</id><published>2008-01-12T11:18:00.000-08:00</published><updated>2008-01-12T11:54:19.263-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;font size=4&gt;Pemberontakan pada Kapal Tujuh Propinsi&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, pada waktu itu memang banyak terjadi pemberontakan. Setiap harinya pasti ada peristiwa-peristiwa menegangkan yang terjadi, selalu ada unjuk rasa dan pertemuan, serta di bagian utara Sumatera terjadi pemberontakan penduduk, Semua ini membuat pemerintah kolonial menjadi panik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari selanjutnya adalah hari yang berat bagi pemerintah Belanda. Pada tahun 1928-1929 di Jawa dan Sumatera banyak terjadi pemberontakan hebat yang menentang kekuasaan pemerintahan Belanda, meskipun berbagai upaya telah dicoba untuk meredam tetapi semangat pemberontakan tetap saja berkobar. Ditambah lagi dengan terjadinya krisis ekonomi dunia pada tahun 1929, dimana kas negara beberapa tahun terakhir mengalami defisit ratusan juta. Berhemat, itulah semboyan yang muncul, dan akibatnya armada laut Pelayaran Hindia Belanda pun mendapat potongan gaji sebesar 5% kemudian menjadi 8%. Pada pemotongan ketiga sebesar 10%, yang berarti ini sudah batas pemotongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada waktu itu saya adalah pemimpin Perkumpulan Armada Laut Eropa dan kami pun segera mengadakan pertemuan unjuk rasa dengan suasana hati yang berkobar-kobar. Kami mulai dengan mengirimkan sebuah telegram kepada pemerintah yang isinya antara lain adalah bahwa Badan Pengurus tidak memiliki rasa tanggung jawab terhadap personil armada laut untuk masih mentaati peraturan angkatan. Kemungkinan pemerintah masih syok, kami di Badan Pengurus memutuskan untuk mengadakan hubungan dengan Perkumpulan Armada Laut Pribumi yang pengurusnya sudah mulai menentang penjajahan kulit putih. Aksi kami berhasil, keesokan harinya kami mendapat berita bahwa pemotongan gaji tidak akan berlanjut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pimpinan armada laut terkejut. Segera tersedia sejumlah kapal berawak. Tujuannya jelas yaitu untuk menguasai peraturan kelautan dibanding daratan, dan dengan prinsip itu dipisahlah orang-orang umum dengan raddraaiers (yang ahli). Saya sendiri mendapat perintah untuk menaiki kapal Tujuh Propinsi yang dikirim untuk mengelilingi Sumatera selama dua bulan tetapi tanpa hasil. Itu adalah sebuah perjalanan, setidak-tidaknya itulah yang tertancap di benak kami sebagai pimpinan armada laut. Suasana di kapal pastinya tidak baik dan makanan tidak layak ada di sana sebagai bagian dari sebuah kesalahan yang tidak begitu penting. Sebagian makanan yang tersedia adalah persediaan makanan selama perang, yang sudah 15 tahun disimpan dan digantikan sebagai barang dagangan yang segar. Jadi selama 15 tahun kami memakan sejenis ikan laut dari kaleng dan &lt;i&gt;capucijners  &lt;/i&gt;yang diproduksi pada tahun yang sama. Senin harinya koki menyediakan &lt;i&gt;knikkers&lt;/i&gt;  dengan beberapa soda dan ini berlangsung sampai hari Kamis. &lt;i&gt;Kentang Juliana , &lt;/i&gt;kami menyebutnya. Keluhan bertubi-tubi datang dari komandan, namun dijawab makanan itu memang tidak begitu segar tetapi masih pantas untuk dikonsumsi. Sejak awak kapal menolak mengikuti pertandingan sepak bola persahabatan dengan kesebelasan Sibolga (dengan perut kosong bagaimana mungkin kami bisa bermain sepak bola) dapat dijelaskan dengan kalimat sederhana dan siapa yang tidak ambil bagian akan dikirim ke provoost.··&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya datang berita bahwa pemotongan gaji tetap berlaku sebesar 7%, bukan 10%. Para pemuda menjadi marah karena berita ini dan dari ruang sein kami mendengar berbagai reaksi dari para armada kapal. Di Surabaya para armada akan mengadakan unjuk rasa tetapi tidak dijinkan dan ditolak oleh dinas yang berkepentingan. Sejumlah pemuda dijebloskan ke dalam penjara. Hingga kami mengadakan pertemuan unjuk rasa di kapal Tujuh Propinsi diijinkan, baru akhirnya keluar juga kata-kata yang selama ini disembunyikan : tidak ada pembicaraan mengenai pemotongan gaji lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada saat Bagian Kesekretariatan mengirimkan telegram yang berisi Turut prihatin dan lanjutkan aksimu langsung menghilang selama 14 hari dalam penjara. Suasana pun menjadi sangat panas. Pelabuhan Oleh-leh pun dibom.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menenangkan situasi para komandan bersaing untuk membuat pesta di sekitar Oleh-leh seharga 500 gulden, dimana di sana akan bersenang-senang dan berdansa dengan wanita Eropa. Kabar ini menimbulkan kecurigaan karena dimana-mana terjadi perselisihan antara kelasi dan prajurit kolonial. Kami sangat memahami bahwa pesta ini adalah sebagai sarana untuk menarik perhatian. Sangat sedikit orang Eropa yang menghadiri pesta ini. Dan pada umumnya orang Indonesia juga tidak menghiraukan undangan ini...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada malam hari tanggal 3 Februari  awak kapal Indonesia mengambil sebuah keputusan, pimpinan Tujuh Propinsi mengambil inisiatif untuk berlayar ke Surabaya membebaskan teman-teman yang tertangkap. Awak Eropa tidak percaya melihat hal  ini. Mereka sama sekali tidakmenduga. Pagi hari tanggal 4 Februari, Ketua Cabang Perkumpulan Armada Laut Dalam Negeri, Hendrik, berkata pada saya,Malam ini kita akan berlayar ke Surabaya, tetapi saya menanggapinya sebagai sebuah gurauan. Aksi ini dipersiapkan dengan teliti, siapa yang masih hidup dia yang akan menjadi pimpinan Perkumpulan Angkatan Laut Eropa. Dengan jiwa reformisnya dia berdiri diam seharian di bagian tepi kapal terhanyut dengan pengetahuannya. Tanggal 4 Februari saya memiliki sebuah sekoci (Oleh-leh tidak mempunyaipelabuhan dan Tujuh Porpinsi berlabuh sekitar 1 sampai 1½ km dari pantai). Seharian suasana damai, beberapa pemuda pergi ke daratan, ini pun dapat dipahami. Malam harinya tiba-tiba datang seorang letnan kelas tigamengejar dan memerintahkan saya untuk membawanya ke kapal. Ternyata pimpinan sudah tewas, di bawah hati nuraninya dan komandan pun berteriak di tengah riuhnya pesta di kantin KNIL. Peristiwa ini benar-benar dianggap sebagai lelucon yang sangat lucu, tetapi membuat suram bagi salah seorang bawahan, yang sekarang sedang bersama saya menuju kapal. Ketika kami bersandar di sisi kapal, ternyata tempat kejadian tadi rusak. Segera kapaldipenuhi oleh orang-orang Indonesia bersenjata dan seorang opsir yang datang dengan tergesa-gesa. Bagian penutup meriam dipukul, amunisi mulai berbunyi, lampu sorot mulai terlepas. Di bawah, Paradji dan Gosal (pemimpin) memberi perintah, apakah mereka tidak pernah melakukan hal ini dan kotak amunisi yang berisi granat sepanjang 15cm diangkat  atau ini hanyalah urusan yang berkepentingan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melihat raut wajah orang Indonesia yang bersenjata, terlintas dalam benak saya bahwa tidak boleh ada korban lagi! Saya berlari ke belakang dan bertemu dengan sejumlah opsir yang berbicara kasar kepada saya bahwa saya harus membuat peraturan dan menangani situasi ini. Saya pun mencoba untuk mengatur dan mengatasi keadaan ini. Saya yakin bisa melakukan yang terbaik dan mereka pun percaya. Tentu saja tidak banyak yang bisa saya lakukan. Orang-orang Indonesia sangat keras. Saya berusaha mengatasinya dengan cara tidak menembak dan keadaan baru dapat ditangani ketika ada kesepakatan bahwa tidak ada penggunaan senjata, sebagaimana yang juga dilakukan opsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dari pejuang berjalan ke arah radiohut dan saya masih dapat menerima bahwa dia juga hidup melalui tiupan. Sayang sekali kopral, seru seorang Indonesia. Itu baru saja menjadi miliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mendengar, Kembali ke kommandohut,. Ruang sein masih dikuasai opsir dan awak kapal bertanya apa yang harus dia lakukan. Bawa dia pergi, jika dia melawan, tembak saja, ini adalah sebuah perintah. Saya meminta dan mendapat kesempatan untuk tidak mengurusi masalah ini, mengambil pistol (yang tidak berisi peluru) dan berlari menuju ruang sein, dimana di sana terdapat sebuah ancaman dari baron De Vos van Steenwijk terhadap seorang Eropa. Katika Baron melihat saya memegang pistol, dia menjadi jinak dan perlahan mundur ke belakang. Perlahan saya mengetahui bagaimana proses pemberontakan terjadi. Rencana awalnya adalah pukul satu dini hari akan dijalankan. Siang harinya Paradji tertangkap basah ketika dia membongkar gudang amunisi, dan dilaporkan pada Gosal, tetapi dia hanya ditegur dan disuruh mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada opsir satu. Ini dikritik sebagai perbuatan bodoh sepanjang hidupnya, dan memerintahkan melalui Paradji untuk berpakaian sopan (dia mengenakan jeans pendek dan baju belel). Paradji memberitahu ke semua pimpinan dan penyerbuan pada senapan pemulur adalah sasaran berikutnya. Pemberontakan adalah sesuatu kenyataan. Ketika semua opsir merasa mulai tidak aman, saya turun ke bawah dan bertemu dengan stoker Eropa dan Indonesia yang sedang sibuk menghasilkan uap guna menjalankan mesin dan dengan hati-hati menjalankan Tujuh Propinsi ke lautan bebas saat tengah malam. Satu-satunya pengertian yang bisa diterima dari persaingan armada Indonesia akan digambarkan nanti. Pangkalan laut Oleh-leh adalah perairan yang berbahaya. Siang harinya komandan memerika dua mesin yaitu kemudi dan kapal tunda sebagai persiapan bantuan. Tujuh Propinsi berlayar hanya untuk memutar arah pada mesinnya (mesin kemudi yang sudah dipasang opsir) pada malam gelap. Lagipula masih terdapat banyak sekoci yang tidak sempat digerek.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemberontakan merupakan sebuah tamparan bagi rezim kolonial. Tidak hanya menjadi kontroversi diantara armada Eropa dan Indonesia tetapi juga diantara kelompok penduduk Indonesia. Seorang Menado memiliki gaji yang sama tingginya dengan seorang Ambon dan juga sama seperti seorang Jawa. Tetapi sekarang orang Indonesia diberi batas dan bekerja rukun untuk melayarkan Tujuh Propinsi ke Surabaya. Tamparan ini bagi rasa kesombongan orang Eropa mendapatkan gambaran bahwa orang Indonesia hanyalah pekerja rendahan yang bisa dibohongi. Tanpa mengikuti sekolah pelayarankelasi Paradji menjadi pimpinandalam pelayaran kali ini. Kelasi kelas satu Kawilaran berfungsi sebagai ahli navigasi, yang sudah banyak belajar dari navigator Eropa. Rumambi berada di bagian komunikasi telepon, Hendrik sebagai pengatur bahan baker, dan kopral Gosal yang mengurusi bagian kesehatan. Sepanjang malam saya tetap berada di ruang mesin. Saya merasa jenuh tetapi meskipun dibawa tidur tetap saja hanya tidak mempunyai banyak waktu lagi. Keesokan harinya opsir mencoba berunding untuk mengambil hati orang Indonesia. Mereka menjadi majikan di kapal, sehingga mereka harus bertanggung jawab. Satu-satunya kebenaran adalah menjadi komandan dalam pelayaran ke Surabaya dan selanjutnya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara ini kami mendapat perintah, Aldebaran yang dipenuhi oleh prajurit dan sisanya opsir. Pemandangan yang aneh, seberapa cepat kapal berjalan, pada saat Paradji membidikkan meriam sekitar 15cm. Opsir-opsir menyesuaikan diri dengan keadaanyang tak terhindarkan dan memberi ijin pada personil Eropa untuk melakukan pekerjaan mereka, Oleh karena tidak ada yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak telegram membanjiri ruang sein yang meminta kami memberi jawaban terhadap Berlayarlah ke Surabaya. Aksi ini ditujukan sebagai protes terhadap pemotongan gaji dan penggantian armada laut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Empat hari berlalu tanpa ada perkembangan yang berarti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hari kelima kami mendapat perintah untuk mengerek kapal perang milik Hindia Belanda melalui pengamatan kapal penjelajah Java, tetapi pemimpin kapal Tujuh Propinsi menolak mentah-mentah perintah ini dan membalas telegram yang berisi, Tetap berlayar ke Surabaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya dipaksa menyerah, karena kami sudah tidak mempunyai kesempatan lagi. Tujuh Propinsi adalah salah satu kapal pelayaran tertua, pelan seperti siput, tanpa adanya pertahanan udara, dan di udara kami melihat sekelompok Dornir pesawat pengebom-. Hal ini sangat jelas bahwa kami akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Usaha saya sia-sia dan kemudian saya berjalan menuju geladak komando. Saya berjarak sekitar 10 meter ketika bom meledak, mengenai sekelompok orang yangsedang berdiri memandangi pesawat. Semburan api pun mulai menjalar ke geladak,tekanan udara membuat saya terlempar menjauhi geladak dan segera saya mencari tempat yang aman. Pesawat pengebom lainnya terbang berputar-putar tanpa menyia-nyiakan kesempatan.Selanjutnya saya berlari menuju geladak. Air mata pun membasahi pipi saya. Di sana bergelimpangan para korban, pemuda dan anak-anak. Semuanya terbakar. Yang lainnya bergulingan berlumuran darah dengan luka yang mengerikan. Seorang teman saya, pemukul gendering terluka ada sebuah lubang di dadanya-. Sementara di sana masinissedang berbagi dengan pemadam kebakaran, setiap orang berlari menuju pos dan berusaha secepatnya memadamkan api. Selanjutnya kami menghitung jumlah korban. Korban terbesar berasal dari pimpinan, Kawilarang dan Rumambi yang paling parah. Ketika api sudah dapat dipadamkan barulah opsir berdatangan, tetapi dokter menolak menangani korban untuk kami para tahanan. Kamudian datanglah sekoci dengan tentara bersenjata dan menagkap kami. Pemberontakan kapal Tujuh Propinsi pun berakhir....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Balas dendam terhadap Pemerintah Kolonial pun dimulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja tidak mungkin untuk mengakui bahwa orang Indonesia-lah yang memimpin. Itu tidak bisa dan tidak boleh. Mereka masih terlalu bodoh untuk membedakan mana sisi kiri dan kanan kapal, ujar komandan di Oleh-leh dan ini cukup berpengaruh bagi kepercayaan diri orang Indonesia, sama halnya seperti persaingan kelasi menghiasi Toewan Blanda. Orang-orang Holland di kapal diorganisir dan dipimpin menjadi pemberontak, menentukan pimpinan dan semua yang diajukan cukup untuk menyesuaikan antara kenyataan dan gambaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut situasinya, yang bersalah harus digantung dan yang paling berkesempatan untuk itu adalah saya. Apakah saya bukan termasuk pimpinan perkumpulan armada laut? Apakah saya tidak didesak untuk bekerja sama dengan armada laut Indonesia? Apakah saya memiliki radiohut? Apakah saya memiliki.. singkat kata, bukan kenyataan tetapi pimpinan armada laut menyatakan apa yang terjadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap pernyataan dari kami sewaktu pemeriksaan  tidak seseuai dengan pola pimpinan armada laut, dijawab dengan: Jebloskan pria ini ke penjara. Setiap kami mengajukan situasi yang koperatif, kamu berbohong itulah jawabannya. &lt;br /&gt;Kebohongan opsir diterima sebagai kebenaran yang hakiki. Dan apakah pria-pria ini berbohong. Tentu saja mereka melakukannya. Ketika mereka menegaskan penjelasan dari kami, mereka akan bersikap menyedihkan. Ketika pemberontakan menjadi dikenal dan tentunya kami harus berhati-hati terhadap para pejabat. Pembelaan kami disangkal dan dibantah atau mereka bilang sudah tidak bisa diingat lagi sudah lupa-, jawaban yang menjatuhkan kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya penyelidikan berlangsung rumit, sebagai seorang opsir sekaligus saksi dan tersangka, sebagai terdakwa dan pemimpin dari sebuah pemeriksaan. Kamisudah tidak peduli lagi. Kami sadar bahwa sudah tidak ada lagi kebebasan dan kami pun berusaha menyesuaikan diri. Keadaan ini sama sekali tidak menyentuh. Kami dipindahkan dari satu penjara ke penjara lainnya sebagaimana yang dialami penjahat ataupun pembunuh. Akhirnya drama komedi ini sampai juga ke Mahkamah. Kami berusaha untuk tidak saling mengintimidasi, kami juga menyadari bahwa sangat kecil kemungkinan untuk menang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan kami dituntut 644 tahun, saya sendiri 16 tahun. Karena kami tidak memperlihatkan bagaimana perasaan kami, terlihat kekecewaan di wajah beberapa orang pejabat. Setelah 9 bulan dalam pengasingan, setiap peristiwa menjadi suatu kegembiraan bagi saya ketika berkumpul bersama teman-teman dalam penjara-. Bagi Mahkamah Militer, lagi-lagi ini seperti komedi. Pengacara saya (dan 19 orang teman lainnya) mendesak adanyaklemasi. Sebenarnya kami tidak menginginkan klemasi, yang inginkan adalah KEADILAN. Melalui kata-kata penutup saya pun membela diri dan saya diberi keringanan 6 tahun. Putusan hakim sangat mengecewakan, 10 tahun...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke Holland. Tiga tahun penjara di Leeuwarden. Satu atap dengan pembunuh, ini lebih baik baik bila dibanding penjara Indonesia. Sebelum direktur sempat mengetahui sesuatu, muncullah desas-desus bahwa kami akan memperolah grasi pada akhir 1936 jika Putri Juliana jadi menikah. Tidak seorang pun yang menanggapi hal ini, begitu pun Pangeran Bernhard. Ternyata desas-desus itu benar. Dengan adanya pernikahan itu kami memperolah grasi ketiga, dan sisanya sebagai prasyarat saja. Sejumlah teman-teman Indonesia dibebaskan pada tahun 1942, saat Indonesia dijajah Jepang.&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;*****&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;&lt;font size=1&gt;Artikel ini diambil dari majalah  &lt;i&gt;De Ulienspiegel &lt;/i&gt;edisi 3 Februari 1963 &lt;br /&gt;ditulis oleh Maud Boshart, salah satu anggota Pemberontak&lt;/i&gt;&lt;i&gt;.&lt;br /&gt;Sumber : Surat Pembaca nomor 3 Komisi Indonesia CPN&lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-1209454775458778572?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/1209454775458778572/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2008/01/pemberontakan-pada-kapal-tujuh-propinsi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/1209454775458778572'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/1209454775458778572'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2008/01/pemberontakan-pada-kapal-tujuh-propinsi.html' title=''/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-1962328606915170509</id><published>2008-01-12T11:15:00.000-08:00</published><updated>2008-01-12T12:05:53.860-08:00</updated><title type='text'></title><content type='html'>&lt;div align="center"&gt;&lt;b&gt;&lt;font size=4&gt;"Bagaimana saya Bekerja"&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;Oleh; &lt;/b&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Charles Tilly&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;······&lt;font size=2&gt; Banyak pekerjaan harian saya melibatkan orang-orang muda untuk bantuan mempelajari prosedur praktis dengan analisa historis. Saya tidak punya niat di sini untuk menginventarisir semua alat, ilmu pengetahuan tentang teknik, dan perangkat utama yang kami gunakan pada suatu waktu tertentu. Saya mengingat dengan jelas betapa ahli sosiologi historis George Homans mengatakan &lt;i&gt;"Orang-orang melakukan riset ilmu sosial dengan cara-cara menyebalkan!" &lt;/i&gt;(George menikmati slogan ini karena dapat menggetarkan orang-orang dalam perdebatan dengan dia, satu aktivitas yang sangat disukai dan selalu dimenanginya. Dalam hal ini, bagaimanapun, desakannya, bimbingannya, dipraktekkan secara berbarengan). Saat ini kami memperluas jangkauan dengan model eksplanasi disertai anggaran biaya yang masuk akal, saya juga akan melakukan metode sosiologis apapun yang secara moral yang dapat dipertahankan. Bagaimanapun, paparan yang saya rencanakan disini adalah untuk membuat suatu kasus atau fenomena sosial menjadi sebentuk kombinasi tertentu dari gaya, ontologi, logika eksplanasi, dan mekanisme. Pembaca cerdik tidak meragukan aroma pilihan pribadi saya untuk analisa proses, realisme berhubungan, mekanisme mendasari keterangan, dan mekanisme berhubungan, tapi saya berharap rekan sejawat itu akan berlanjut melakukan hal terbaik mereka dengan program yang bersaing. Itu akan mengijinkan generasi berikutnya dari ahli sosiologi historis untuk membandingkan hasil dan strateginya sendiri dengan cendekiawan lainnya sebagai pembanding.  &lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;······ Dari pada mencoba untuk menyetel orang lain melakukan investigasi historis dengan baik, izinkanlah saya menawarkan beberapa saran umum dalam rangka melakukan analisa historis dari satu perspektif ilmu sosial. &lt;br /&gt;&lt;div align="justify"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;1. Berhati-hatilah dalam mendefinisikan fenomena apa yang anda mau deskripsikan dan jelaskan, mempertimbangkan seluas apa definisi anda sendiri, siratkan pembatas historis. Bagaimana nantinya anda mengenali satu kejadian ketika anda melihatnya?  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;2. &lt;/font&gt;Jika memungkinkan, ujilah paling tidak tiga kejadian dari fenomena itu dan sketsa minimum untuk pembuatan beberapa hal sebagai perbandingan, kemudian apakah kesimpulan dari perbandingan itu menghambat atau menghasilkan satu kejadian baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;3. &lt;/font&gt;Pikirkan di waktu kapan dan ditempat yang bagaimanakah fenomena itu terjadi, kemudian uraikan konteks waktu dan tempat  itu. Itu akan memulai proses identifikasi dengan waktu dan tempat yang lain dimana fenomena (yang sama) terjadi secara berbeda, dengan intensitas yang bervariasi, atau berbeda sama sekali. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;4. &lt;/font&gt;Pelajari uraian ahli dari sejarah yang relevan dan keterangan apa dari kerangka waktu dan tempat itu yang ditawarkan untuk fenomena tersebut, terutama di aspek mana mereka saling berbantah satu sama lain atau dengan otoritas karya sejarah yang terbit sebelumnya. Melihat lekat pada bukti macam apa yang mereka pergunakan, bagaimana mereka mempergunakan bukti, dan bagaimana mereka membangun karya mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;5. &lt;/font&gt;Selesaikan teori anda sendiri terutama teori yang teruji mengenai bagaimana sumber didapat dari kejadian nyata, bagaimana ahli sejarah mengidentifikasi, memilih, dan menyajikan sumber itu, dan bagaimana ahli sejarah yang datangi di tagihan hutang mereka. Persoalan tentang gaya, ontologi, strategi bersifat menjelaskan, dan mekanisme pertolongan itu memperjelas pilihan pada sosiologi historis juga akan menolong menetapkan bagaimana ahli sejarah melakukan pekerjaan mereka.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;6. Nyatakan dengan tegas bagaimana analisa anda sendiri dibangun dari telaah mendalam atas fenomena di atas, tingkatkan analisis anda pada saat itu, atau bedakanlah karya anda dari penulisan historis terbaik yang pernah anda telah temukan pada materi pokok yang sama. Sekali lagi pertanyaan sekitar gaya, ontologi, strategi eksplanasi, dan mekanisme harus disajikan sebagai penolong.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Khususnya, putuskan apakah pekerjaan anda telah setara dengan seorang kritikus sejarah sosial dalam mengidentifikasi pola, bidang lanjutan, analisa proses, atau beberapa kombinasi terbaik yang tergambar dari gaya itu. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;8. Ketika anda telah mempunyai keputusan itu dengan jelas di kepala, menelaah ulang beberapa pekerjaan kelas satu pada cara anda memilih gaya, menajamkan ontologi, strategi eksplanasi, mekanisme, sumber, metode, pengukuran, observasi dari tiap unit, dankonstruksi dari argumen. Nyatakan dengan jelas, apa yang mempengaruhi koreksi anda sendiri untuk sama atau beda dari pekerjaan kelas satu lainnya itu.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9. &lt;/font&gt;Pada satu atau dua kalimat, nyatakan argumen utama yang anda mau buat disekitar fenomena. Kemudian menyatakan darimana anda peroleh argumen, dan kenapa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;10. &lt;/font&gt;Pada satu atau dua kalimat lain, ringkaskan bagaimana anda akan menentukan bahwa argumen tersebut adalah benar. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;11. &lt;/font&gt;Pilih versi anda sendiri dari duabelas nada gubahan -seperangkat konsistensi, ketentuan efektif untuk pengumpulan data dan meneliti bukti- dan berdisiplinlah dengan itu !!. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;12. &lt;/font&gt;Kumpulkan satu contoh kecil dari materi historis yang relevan, coba satu versi miniatur dari analisa anda, tuliskan, berikn kritik paling tidak sesungguh anda mengkritik orang lain pada pekerjaan sebelumnya, kemudian perbaiki rencana anda agar sesuai. Ulangi pernyataan hingga susunan kalimat yang berulang-ulang berikutnya tidak menghasilkan perubahan besar dari rencana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;13. &lt;/font&gt;Selesaikan investigasi anda dan tuliskan laporan hasilnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;14. &lt;/font&gt;Kenali bahwa anda akan segera menghadapi empat macam kritik: &lt;font size=2&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;satu&lt;/font&gt;&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;font size=2&gt;dari ahli sejarah yang mengaku paling paham soal waktu, tempat, sumber, dan/atau gejala social dibandingkan anda; &lt;u&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;dua&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;,&lt;/u&gt;&lt;/i&gt; dari advokat pada argumen anda yang secara implisit telah atau dengan tegas ditolaknya; &lt;u&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;tiga&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;u&gt;&lt;i&gt;, &lt;/u&gt;&lt;/i&gt; dari ahli analisa yang lebih suka gaya lain, ontologi, strategi eksplanasi, mekanisme, sumber, dan cara dibandingkan gaya yang telah anda pilih; &lt;u&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;empat&lt;/u&gt;&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;i&gt;, &lt;/i&gt; dari diri anda sendiri pada celah, ketidakselarasan, ketidak-pastian, dan pernyataan yang dilebih-lebihkan pada analisa.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;15. &lt;/font&gt;Sebisa mungkin, tulis dengan sangat jelas bahwa empat pihak pengkritik ini sebenarnya akan melahirkan apa yang anda memaksudkan untuk dikatakan lebh baik dibandingkan oleh seseorang, termasuk anda!  yang telah dengan sembarangan anda ingin katakan.   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;16. &lt;/font&gt;Kalau anda sedang mencoba untuk mempengaruhi betapa orang lain menyelesaikan penelitian mereka sendiri dan memberi suara dengan menulis nama sosiologi historis, boroskan sedikit waktu pada aktivitas diskusi dan debat..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;font size=2&gt;17. &lt;/font&gt;Disamping itu, pisahkan, laksanakan, dan laporkan hasil kajian anda ; &lt;font size=2&gt;&lt;b&gt;a)&lt;/font&gt;&lt;/b&gt;&lt;font size=2&gt;dengan jelas menghubungkan pertanyaan penting di ilmu sosial dan sejarah, &lt;b&gt;b )&lt;/b&gt; wujudkan prosedur yang dapat ditiru dan diperluas, &lt;b&gt;c ) &lt;/b&gt;analisislah suatu bukti yang tersedia dan dapat terjadi berulang kali di banyak waktu dan tempat lainnya, &lt;b&gt;d )&lt;/b&gt;siapkan satu atau dua tahun (sebagai bagian upaya serius dari satu peneliti terlatih), hingga kemudian pantas disajikan sebagai artikel, thesis master, dan disertasi doktoral, &lt;b&gt;e )&lt;/b&gt; dengan seketika menuntut substansiasi, pengembangan, sangkalan, atau pengembangan lanjutan.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;······&lt;font size=2&gt; Saat saya mulai &lt;i&gt;memutar kunci kontak untuk menjalankan motor,&lt;/i&gt;awalnya saya mendengar suara gradak-gruduk yang sumbang semacam hasil campuran dari lagu nina bobo dan paduan suara Gereja. Izinkan saya menutup musik dengan satu penutup cepat: &lt;i&gt;Sosiologi historis mengoperasikan sedikit risiko dan makin atheoretical &lt;/i&gt;&lt;i&gt;(tidak berteori) &lt;/i&gt;&lt;i&gt;dan particularistic&lt;/i&gt;&lt;i&gt; (terserak)&lt;/i&gt;. Ini mengoperasikan banyak teori, tidak hanya mengaitkan gejala yang diselidiki, tapi juga mengaitkan keduanya dalam proses historis seperti halnya generasi dengan pengetahuan historis. Ini bekerja dengan baik ketika para praktisi mengetahui gaya, ontologi, logika eksplanasi, mekanisme, sumber, metode, dan argumen yang mereka telah pilih, kenapamangadopsi, dan apa yang menjadi penyebab pilihan itu. Tentu saja tidak masalah untuk mempunyai kejenakaan, kemahiran, dan keahlian dari Alban Berg atau Bella Bartuk. Tetapi bahkan dengan sedikit bakat kami dapat menghasilkan perpaduan indah dari harmonisasi lagu nina bobo dan orkestra Gereja seiring waktu.&lt;/font&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;This in an excerpt from &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;"Lullaby, Chorale, or Hurdy-Gurdy Tune?"&lt;/span&gt; an afterword to Roger Gould, ed., The Rational-Choice Controversy in Historical Sociology (University of Chicago Press, 2002)&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-1962328606915170509?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/1962328606915170509/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2008/01/bagaimana-saya-bekerja-oleh-charles.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/1962328606915170509'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/1962328606915170509'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2008/01/bagaimana-saya-bekerja-oleh-charles.html' title=''/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-5671243097461310631</id><published>2007-12-25T18:40:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T18:55:43.659-08:00</updated><title type='text'>Penulisan Sejarah dalam abad 21 ; Arah dan Tantangan</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pengantar ; Senjakala Ilmu Sejarah ?&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dunia dan perkembangannya yang kita saksikan serta realitas mikro maupun makro kosmos yang kita hadapi pada hari ini sangat berbeda dengan dunia di hari-hari kemarin. Perkembangan yang begitu cepat di satu aspek menstimulasi perkembangan di aspek lainnya   yang pada akhirnya juga ikut mengalami percepatan. Pencapaian inovasi teknologi informasi dalam beberapa puluh tahun terakhir menstimulasi hampir semua aspek kehidupan. Hampir dapat dipastikan, jika ada beberapa aspek atau hal tertentu yang gagal mengakselerasikan diri dan komunitasnya dengan percepatan ini, maka perkembangannya cenderung melambat bahkan berada diambang kepunahan. Kajian sejarah, sebagai suatu asset milik masyarakat manusia, tak luput dari dorongan percepatan dunia sekarang ini. Setidaknya ada beberapa tiga tantangan utama yang nantinya memaksa ilmu sejarah untuk memoderasi beberapa aspek prinsip dan teknis dalam dirinya sehingga sanggup mempertahankan identitasnya sebagai asset berharga milik masyarakat. Ketiga aspek tersebut adalah ; pertama, tantangan penafsiran ulang atas waktu dan ruang serta “posisinya” dalam menentukan periodisasi perkembangan masyarakat, kedua, tantangan paradigma “kebenaran” dalam historiografi dan “kebenaran” dalam system nilai masyarakat, serta ketiga, tantangan untuk berdamai dengan modernitas. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tantangan pertama ; Penafsiran Waktu dan Ruang&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Penulisan sejarah, senantiasa terkait dengan dua hal mendasar sebagai medium utama kajian sejarah, yakni waktu dan ruang. Namun, bagaimana jadinya jika pada perkembangan epistemology (perangkat cara pandang) ilmu pengetahuan dalam beberapa dasawarsa terakhir ini memunculkan suatu hipotesis baru yang dianggap mampu menafsir secara lebih logis tentang hubungan waktu dan ruang dengan proses social ?. Ilmu sejarah, yang mendasarkan kajiannya dalam perspektif waktu dan ruang juga perlahan-lahan akan mengalami penuntutan tersebut agar dianggap mampu menyesuaikan dengan paradigma baru dan perkembangan mutakhir yang berangsung ditengah masyarakat. Keterlibatan waktu dan ruang dalam teori ilmu-ilmu social dan ilmu sejarah merupakan suatu yang tidak dapat ditawar. Daya konstitutif waktu dan ruang itu tampak jelas dalam gejala bahwa waktu dan ruang menentukan makna tindakan kita dan menjadikan perbedaan nama tindakan yang satu dengan tindakan yang lain. Sesuatu, tidak hanya berada dalam konteks waktu dan ruang, tetapi lebih dari itu, waktu dan ruang lah yang telah membentuk makna dari sesuatu tersebut. Singkatnya, hubungan antara waktu, ruang, dan tindakan merupakan hubungan ontologis. Tanpa waktu dan ruang, tidak akan ada yang disebut sebagai tindakan, dan bagitu pula sebaliknya. Dalam konstelasi pemikiran abad informasi ini, “waktu dan ruang” semakin disadari perannya karena keduanya adalah unsur utama pembentuk identitas atas tindakan beserta makna yang dikandungnya. Hubungan timbal balik dan saling mempengaruhi antara waktu dan ruang merupakan factor yang lebih sentral dalam menjelaskan keberadaan hidup masyarakat, Pilihan atas bagaimanakah cara hubungan waktu dan ruang dikoordinasi dalam praktik social, merupakan hal yang membedakan antara masyarakat modern dari masyarakat sebelumnya. Illustrasi sederhananya sebagai berikut ini ; Seseorang di Banten yang menghubungi keluarganya di Mataram pada abad 17 membutuhkan waktu setidaknya sebulan perjalanan. Pada saat itu, “waktu” ketika bertemu tidak dapat dipisahkan dari “tempat” dimana ia bertemu. Dengan demikian, kapan (waktu) harus bersatu dengan “dimana” (tempat). Sementara, seseorang yang melakukan hal yang sama di tahun 2006, maka kini ia hanya butuh sepersekian detik untuk menghubungi keluarganya melalui telephone seluler, atau paling lama sehari jika ditempuh dengan angkutan umum jalan darat. Pada saat ini, “kapan” tidak lagi berhubungan dengan “dimana”. Gejala penghilangan “waktu” atas “ruang” demikianlah inilah yang menjadi salah satu ciri tak terbantahkan dari masyarakat modern. Dapat dikatakan, masyarakat adalah pelintas waktu dalam sejarah pertumbuh kembangannya. Kini, waktu dan ruang tidak lagi dianggap saling berhubungan, namun diyakini sebagai suatu yang terpisah, atau setidaknya tidak saling melengkapi. Jika terminology “waktu” dan “ruang” telah mengalami perubahan, maka bagaimanakah sejarah akan ditulis dan dikisahkan?.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tantangan kedua ; Historiografi dan system nilai masyarakat&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perkembangan teknologi informasi beserta akses perolehan informasi yang semakin mudah, memunculkan sebentuk kehidupan dunia yang bergerak cepat dan trend percepatannya berbanding lurus dengan ragam inovasi peralatan kehidupan yang memungkinkan terlaksananya percepatan-percepatan tersebut. Bagaimanakah kajian sejarah dan penulisan sejarah menghadapi fakta yang demikian ini ? Pada saat realitas “waktu” tidak lagi berhubungan dengan realitas “ruang” maka dapatkah dibayangkan corak penulisan sejarah di masa mendatang, misalnya 200 tahun yang akan datang sejak 2006 ?. Kebenaran sejarah mengalami pemisahan yang tegas dan dalam beberapa aspek akan berada pada posisi yang saling berhadapan bahkan berlawanan. Kebenaran akademis atau kebenaran secara metodologis, yang tentunya spesifik dan penguasaannya hanya dimiliki sedikit orang, akan mendapat “pesaing” yakni kebenaran menurut system nilai yang dapat diterima masyarakat. Jika kebenaran metodologis-akademis adalah sesuatu yang dicirikan dengan penguasaannya yang terbatas dan oleh sedikit orang , memiliki parameter yang jelas dan berlaku dalam jaringan komunitas global yang sama  maka kebenaran “yang dapat diterima” menurut system nilai masyarakat dicirikan dengan kepemilikan dalam spectrum yang luas serta terjadi proses dialektika yang berlangsung terus menerus  dan karenanya tidak ditemukannya suatu parameter baku tentang apakah kebenaran dan bagaimana kebenaran tersebut dapat diterima. Boleh jadi, seiring dengan semaraknya inovasi teknologi yang membantu percepatan proses social dan kemandirian masyarakat, akan ada sangat banyak sistem nilai yang kemunculannya seiring dengan kemunculan komunitas-komunitas manusia yang membentuk suatu masyarakat. Disinilah letaknya tantangan bagi sejarawan yakni bagaimanakah mengkomunikasikan hasil penelitian sejarah yang sudah dilakukannya kepada masyarakat sehingga aspek aksiologis dari ilmu sejarah dapat terpenuhi. Sejarawan, dengan metodologi yang dimilikinya memang dapat mengungkap beragam rupa kebenaran sebagai hasil dari proses dialognya dengan masa lalu. Ia dapat saja menyingkap, meneguhkan bahkan mendekonstruksi identitas suatu masyarakat, namun system nilai yang berlaku di suatu masyarakat itu sendirilah yang akan menentukan apakah hasil karya sang sejarawan dapat diterima atau ditolak, diperlakukan secara sacral sebagai suatu yang monumental dalam ingatan kolektif masyarakat, atau akhirnya hanya mendapat tempat sebagai sebuah pengetahuan yang sepintas lalu untuk kemudian terlupakan, tenggelam dalam hiruk pikuk masyarakat yang mengalami percepatan terus menerus. Jika tantangan mengkomunikasikan ini gagal dijawab, atau bahkan pada akhirnya berada pada situasi yang saling berhadapan dan bertentangan, maka sejarawan beresiko akan kehilangan masyarakat sebagai pendengar sekaligus peminat setianya, dan implikasi lanjutannya adalah historografi tidak lagi memiliki aspek aksiologis (kebermanfaatan kajian) yang dihasilkannya bagi pertumbuhkembangan masyarakat. Jika tahap ini telah sampai dan dialami oleh ilmu sejarah, maka kepunahan ilmu sejarah dalam belantika ilmu pengetahuan tinggal menunggu waktu. Kehilangan ruh aksiologisnya, menjadikan ilmu sejarah sepi peminat, dan mengalami kegagalan kaderisasi. Kalaupun masih ada yang menekuni Ilmu Sejarah pada situasi demikian, akan serupa dengan nyanyian sunyi seorang bisu di tengah dunia yang tunggang-langgang (silence voices in a runaway world).  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Tantangan ketiga ; Berdamai dengan modernitas&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari kedua tantangan utama sebagaimana dipaparan diatas, maka focus pertanyaannya beralih pada hal-hal yang sifatnya praktis dan teknis. Bagaimanakah Ilmu sejarah mempertahankan dirinya agar identitas agungnya sebagai asset miik masyarakat tetap dapat dipertahankan. Jika pertanyaan ini tidak segera memperoleh jawaban praktis yang bisa diterima masyarakat, maka Ilmu sejarah tidak lagi dipandang sebagai asset berharga yang mampu terus-menerus memberikan kontibusi konstruktif bagi masyarakat, melainkan akan menerima perlakuan sebagai rongsokan besi tua yang harus disingkirkan dan dilupakan. Untuk itu, dalam paparan berikut ini ada beberapa rekomendasi yang dapat penulis ketengahkan. Kunci utama dalam memoderasi diri dalam dunia yang tunggang langgang (runaway world) sekarang ini adalah bagaimana menciptakan suatu yang semula rumit dan sukar prosesnya serta membutuhkan waktu yang lama menjadi lebih mudah, murah dan cepat namun tanpa mengurangi kualitasnya dari produk aslinya. Ini tidak lantas serta merta menjadikan ilmu sejarah sebagai “barang dagangan” di pasar liberal, namun merupakan sebentuk ikhtiar di senjakala Ilmu Sejarah agar masih mampu berkontribusi bagi pertumbuh kembangan masyarakat. Rekomendasi pertama adalah membuka seluas-luasnya hasil penelitian para sejarawan akademis kepada public, dan juga sumber sumber asli penelitian sejarah direproduksi atau direstoasi ulang serta diarsipkan dalam bentuk digital untuk kemudian dibuka akses yang seluas-luasnya kepada public. Ini merupkan langkah stimulasi kepada masyarakat agar karya sejarah apapun yang akan dibuat oleh masyarakat (sejarawan non akademis) dapat merujuk pada sumber asli atau karya yang dihasilkan sejarawan akademis tersebut, sehingga ada semacam “referensi pembanding” disamping “sumber asli” yang sama-sama diketahui public. Distorsi, pemalsuan dan pembungkaman sejarah akan dapat dihindarkan dengan sendirinya dan masyarakatlah yang menjadi hakim atas kebenaran macam apa yang nantinya akan dapat diterima. Demikian, sehingga dialektika sejarah berlangsung tanpa batas waktu dan ruang dan dalam spectrum yang luas, serta yang pasti tidak ada kebenaran tunggal yang berlaku di masyarakat kecuali kebenaran metodologis hasil karya sang sejarawan, dan sejarawan kembali muncul sebagai pemenang sementara dalam pergulatan modernitas. Selanjutnya, dalam rangka membudayakan penulisan sejarah yang tetap mempertahankan kesahihan sumber dan kebenaran metodologis, maka proses belajar penulisan sejarah perlu dipermudah, dengan pembuatan semacam manual book dalam bahasa dan contoh yang mudah dipahami masyarakat. Manual Book ini berisikan landasan konsepsi, gambaran umum, dan teknis detail beserta contoh pada tiap tahapan yang harus dilalui dalam menghasilkan penelitian sejarah. Manual Book ini juga harus dapat diakses dengan mudah oleh masyarakat. Dan terakhir, perlu dilakukan perluasan kewenangan lembaga komunitas sejarawan yang semula sebatas pemelihara komunitas dan pusat kajian, kini mengembangkan diri menjadi semacam lembaga penjamin mutu yang dapat memunculkan fatwa atau keputusan benar tidaknya suatu historiografi secara metodologis, disamping sebagai produsen tunggal manual book diatas&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-5671243097461310631?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/5671243097461310631/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/penulisan-sejarah-dalam-abad-21-arah.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/5671243097461310631'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/5671243097461310631'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/penulisan-sejarah-dalam-abad-21-arah.html' title='Penulisan Sejarah dalam abad 21 ; Arah dan Tantangan'/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-3310901081337552410</id><published>2007-12-25T18:19:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T18:39:04.824-08:00</updated><title type='text'>MENELISIK   POTENSI  KONFLIK  PADA  MASYARAKAT  MAJEMUK  DI  INDONESIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;PROLOG  ;  Perihal Pembenaran Atas Ketidaksamaan&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;   Judul ini dipilih sebagai sebuah pantulan dari kegelisahan intelektual penulis atas hal-hal yang terjadi di Indonesia pasca Gerakan Reformasi 1998 dikumandangkan rakyat Indonesia, dan dalam tulisan ini penulis mencoba untuk menelisik lebih jauh lagi hakikat kemajemukan masyarakat Indonesia dan dikaitkan dengan potensi konflik    yang dimiliki oleh suatu masyarakat majemuk, khususnya masyarakat Indonesia. Dengan   bersandar pada tesis Furnifall (1940), disamping sumber-sumber antropologis dan sumber disiplin ilmu yang relevan  lainnya, penulis mencoba menelusuri akar kemunculan kemajemukan dalam masyarakat sekaligus menelisik sisi-sisi dari kemunculan kemajemukan tersebut yang menyimpan potensi konlik yang nantinya tidak hanya membahayakan eksistensi entitas-entitas yang terlibatt konflik, namun juga mengakibatkan disharmonisasi dalam masyarakat majemuk, yang pada akhirnya justru akan membunuh masyarakat majemuk sendiri, sehingga terjadi suatu pola yang linier antara entitas sosial sebagai unit dari maasyarakat majemuk dan potensi konflik yang ada di dalam masyarakat majemuk.   &lt;br /&gt;Ciri utama masyarakat majemuk (plural society) menurut Furnifall (1940) adalah kehidupan masyarakatnya berkelompok-kelompok yang berdampingan secara fisik, tetapi mereka (secara essensi) terpisahkan oleh perbedaan-perbedaan identitas sosial yang melekat pada diri mereka masing-masing serta tidak tergabungnya mereka dalam satu unit politik tertentu. Dengan merujuk pada kasus model masyarakat masa Hindia Belanda di Indonesia, Furnifall melihat bahwa masyarakat Hindia Belanda pada waktu itu berdiri terpisah-pisah dalam pengelompokan komunitas yang didasarkan pada ras, etnis, ekonomi dan agama yang dianut. Tidak hanya antara kelompok yang memerintah dan diperintah terpisahkan oleh ras yang berbeda, tetapi juga masyarakatnya secara fungsional terbelah dalam unit-unit ekonomi seperti misalnya antara pedangang Arab, Cina, atau India dengan kelompok Petani Pribumi atau Pengusaha Pribumi. Menurut Furnifall dalam studinya terungkap bahwa masyarakat padaa unit-unit ekonomi ini hidup menyendiri dalam suatu lokalitas tertentu (exclusive) dan dengan sistem sosialnya masing-masing. Adanya upaya sistematis dan terencana dari pihak penguasa atau dari sekelompok elite dalam struktur suatu masyarakat tertentu ini, membuktikan bahwa aadanya sebuah pembenaran atas ketidaksamaan-ketidaksamaan dalam masyarakat majemuk. Di tempat lain, pengkotak-kotakan masyarakat dilakukan atas dasar perbedaan-perbedaan agama seperti pada masyarakat Irlandia, yakni antara penganut Kristen dan Katholik, atau di India dengan adanya sistem kasta yang memiliki basis pembenaran religi atas adanya perbedaan status, dan kepemilikan ekonomis dalam strruktur masyarakat India, yang sudah ada jauh sebelum awal Masehi, sehingga muncullah pembenaran berbasis religi ini. Sementara upaya pengkotakan masyarakat ini dilakukan oleh para penguasa –sebagaimana kasus di Hindia Belanda-- sebagai sebuah upaya meminimalisir konflik dalam skala luas dalam masyarakat yang heterogen, ternyata tak dapat dipungkiri pula, bahwa di tempat-tempat tertentu, justru dengan adanya penerapan pola pengkotakan masyarakat berdasar ketidaksamaan-ketidaksamaan baik sosial atau ekonomi, menjadi sumber kemunculan konflik atau bentuk-bentuk disharmoni sosial lainnya. Hal ini dikarenakan, bahwa pengkotakan masyarakat hanya mampu menekan eskalasi konflik dan disharmoni sosial dalam masyarakat, namun ia tidak mampu menghilangkan poensi-potensi konflik yang telah lama dan masih terpendam dalam masyarakat. Konflik dan disharmoni sosial dapat muncul karena mereka –kelompok-kelompok sosial tersebut— tetap hidup berdampingan secara fisik dalam suatu komunitas masyarakat. Pembenaran atas ketidaksamaan, pada hakekatnya adalah juga sebentuk pembenaran terhadap adanya potensi potensi konflik dalam masyarakat yang pluralis. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;KONTEKS : Menelisik Sumber-Sumber Kemajemukan di Indonesia&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;   Dalam konteks kemajukan, maka anatomi masyarakat Indonesia yang aada sekarang masih dapat dikategorikan sebagai masyarakat majemuk, sebagaimana akar masyarakat Indonesia dahulu, kketika Furnifall melakukan studinya lebih dari 60 ttahun lalu di Indonesia (dahulu masih diberi identitas komunal sebagai Hindia Belanda). Kemajemukan masyarakat Indonesia masih terlihat secara jelas, dan dalam pluralitas budaya tersebut integrasi nasional tetap utuh, meskipun harus diakui adanya beberapa disharmoni sosial yang bermuara pada konflik sosial di beberapa lokalitas komunitas masyarakat tertentu, sebagai sebuah konsekwensi yang harus diyakini akibat adanya disharmoni sosial dalam masyarakat Majemuk. Secara teoritis, keragaman suku, agama, budaya, adat, kelompok, dan entitas sosial lainnya dalam masyarakat Indonesia dinilai memiliki potensi-potensi dan sumber konflik. Cara pandang, perilaku, gaya hidup, sikap dan nilai-nilai masing masing etnis dan entitas sosial yang berbeda memang daapat menimbulkan gesekan atau bahkan benturan-benturan secara frontal. Namun, perbeedaan-perbedaan ini tidak menjadi ada dengan sendirinya. Ia lahir dari suatu proses yang panjang dan telah mengakar kuat di masing-masing entitas. Lahirnya perbedaan-perbedaan dalam masyarakat jika dilihat dari aspek sebab atau cara kemunculannya, maka dapat diajukan dua tesis yakni  perbedaan yang muncul secara alami tanpa adanya rencana di satu sisi dan pembedaan yang dimunculkan dengan terencana di sisi lainnya. Dua jalur kemunculan inilah yang akan memunculkan beragam bentuk-bentuk perbedaan identitas sosial dalam suatu masyarakat. Identitas yang berbeda, pada dasarnya termiliki oleh suatu entitas tertentu karena identitas adalah sesuatu yang diberikan kepada satu unit entitas oleh unit-unit lainnya, sehingga ia menjadi sesuatu yang dimiliki oleh entitas tertentu tersebut, dikarenakan adanya ciri, karakter atau suatu yang khas dari entitas itu, yang tidak dimiliki oleh entitas lainnya. Identitas yang muncul dari identifikasi oleh pihak-pihak di luar entitas tersebut seringkali hanya merupakan strereotype etnic belaka. Namun, identitas sosial suatu entitas pada hakikatnya juga merupakan sumber perbedaan yang diakui secara umum dalam masyarakat, dan karenanya, ia adalah juga merupakan salah satu bentuk pengakuan atas ketidaksamaan, sekaligus memunculkannya menjadi saalah satu faktor dari kemajemukan dalam masyarakat. Ketidaksamaan yang akhirnya menjadi bagian dari kemajemukan inilah yang juga menjadikan adanya potensi untuk memunculkan konflik yang dilatar belakangi oleh perbedaan-perbedaan yang sudah ada dan mengakar. Dalam setiap perbedaan, --ini berarti kemunculannya tidak terencana--selalu ada kemungkinan bagi munculnya konflik dalam masyarakat. Namun, setiap pembedaan –hal ini berarti kemunculannya merupakan sesuatu yang terencana-- pastilah akan memunculkan konflik yang dipicu oleh salah satu pihak yang merasa dirugikan secara sosial,ekonomi atau politis akibat adanya pembedaan dalam masyarakat tersebut. Kesamaan antar keduaanya adalah bahwa masing-masing pola –perbedaan dan pembedaan— tersebut muncul dari dalam maasyarakat majemuk sendiri. Motif-motif  perbedaan atau pembedaan dapat beraneka ragam, karena hal ini selalu dikaitkan dengan adanya satu atau beberapa ciri khas yang umumnya terdapat dalam suatu entittas tertentu, dan hal ini menjadi identitas bagi entitas tersebut. Ketidaksamaan identitas yang dalam bentuk praksisnya termanifestasikan melalui gaya hidup, dan perilaku umum yang dianut oleh suatu entitas tertentu inilah yang seringkali menimbulkan gesekan dengan gaya hidup atau perilaku dari entitas lainnya, sehingga timbullah ketidakserasian, disharmoni sosial atau bahkan tak jarang hal demikian berubah menjadi konflik horizontal antar entitas sosial yang mengancam proses integrasi dan eksistensi masyarakat majemuk secara umum. Menelisik pola yang linier demikian, maka jelaslah bahwa potensi konflik yang ada dalam masyarakat majemuk merupakan pantulan dari besar kecilnya perbedaan atau kesenjangan yang dimilliki oleh masing-masing entitas sosial terhadap entitas lainnya dalam masyaraakat majemuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;EPILOG ; Menju Masyarakat Terbuka &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;  Masyarakat Indonesia yang majemuk ini, jika ditinjau dari sisi mentalitasnya dengan menggunakan pendekatan historis maaka akan dittemukan bahwa keadaan sosial masyarakat majemuk di Indonesia sekarang ini sesungguhnya adalah pantulan atas konflik besar yang hingga kini masih terjadi dalam tubuh masyarakat Indonesia, yakni antara masyarakat Warisan di satu sisi, melawan masyarakat Merdeka di sisi lainnya. Masyarakat warisan disini adalah masyarakat yang kelahirannya dilatar belakangi oleh kondisi sosial Indonesia masa pemerintahan Kerajaan Konsentris dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, sehingga masyarakat ini masih memakai pola kolonialis, feodalistik dan patriarkhi dalam segenap corak dan sisi kehidupannya, dan pola demikian masih diwariskan dari generasi terdahulu ke generasi sekarang dalam bentuk semangat zaman, dengan mencoba menghadirkan kembali mentalitas masyarakat Indonesia masa lalu dalam konteks kekinian. Umumnya penganut pola masyarakat warisan memandang masa kekinian dengan penuh sinisme dan dalam menentukan langkah sosial dan budaya yang dilakukannya, selalu bercorak konservatif serta pendukung setia atas kemapanan saat ini, yang di-claim sebagai bukti kejayaan dan produk keagungan masa lalu, oleh karenanya mereka juga berpendapat bahwa konstruksi sosial yang ada sekarang sudah stabil dan ideal, karenanya perubahan yang mendasar dalam masyarakat adalah suatu hal yang dipandang tidak perlu oleh masyarakat warisan ini. Sedangkan masyarakat Merdeka ini lahir dilatar belakangi oleh semangat zaman pada masa kemerdekaan ketika bangsa indonesia terlepas dari dominasi pemerintah kolonial dan elite lokal feodal. Sebagai masyarakat yang lahir kemudian, maka mentalitas masyarakat Merdeka merupakan pantulan perlawanan terhadap mentalitas masyarakat warisan. Karakter masyarakat merdeka yang anti terhadap segala bentuk status Quo dan akan melakukan segenap cara yang mungkin dapat dilakukan untuk memberangusnya. Hal demikian dilakukan karena traumatis masa lalu yang dialaminya. Dalam hal visi akan realitas, maka masyarakat Merdeka ini memandang masa depan dengan penuh optimisme serta cenderung memandang realitas dengan pandangan jauh ke depan (visioner), membawa “masa depan” dalam konteks kekinian, dan sangat menghargai karya-kaarya kekinian yang orisinil. Pergulatan sosial antara kedua corak masyarakat ini tetap terus berlangsung, sehingga masing-masing kelompok memendam potensi konfliknya masing-masing yang seringkali percikan-percikan api konflik tersebut mencuat kepermukaan pada bidang-bidang kemasyarakatan yang memungkinkan mereka untuk bertemu, semisal pada bidang perpolitikan. Jika stabilitas dan harmonisasi sosial adalah harapan yang ingin direalisasikan dalam bentuk praksis di tengah-tengah masyarakat, maka harus ada suatu format masyarakat majemuk baru yang dapat memendam potensi konflik lebih dalam lagi, sehingga resistansi terhadap konflik dapat lebih kuat, serta senantiasa memakai cara-cara yang tidak mengganggu stabilitas masyarakat pada umumnya jika terjadi gesekan, benturan atau disharmoni sosial antar entitas dalam masyarakat majemuk. Format baru bagi masyarakat majemuk ini adalah aapa yang penulis sebut sebagai Masyarakat Terbuka. Istilah ini mengadopsi konsep Karl R Popper, The Open Society (1984). Masyarakat ini terlahir dari kondisi Indonesia pasca Gerakan Reformasi 1998, mentalitas yang lahir pasca mentalitas masyarakat merdeka ini mewakili kondisi intelektual muda Indonesia dengan karakter khasnya yakni ; senantiasa menggunakan pendekatan dialogis dalam membina keselarasan sosial, meminimalisir dan mengelola konflik secara sehat dengan mengakui serta menerima segenap perbedaan dalam masyarakat, serta menyadari bahwa realitas yang ada saat ini adalah saat untuk berkarya sebaik-baiknya untuk investasi masa depan. Kecenderungan sikap antara pragmatis dan visioner ini menjadikan generasi pasca Reformasi 1998 adalah generasi yang lebih mendahulukan pemahaman atas segala sesuatu serta penuh perhitungan. Akan halnya masa lalu, maka masyarakat terbuka akan lebih selektif dalam menghadirkan masa lalu itu ketengah-tengah kekinian, karena yang ingin dicapai adalah harmonisasi sosial dalam masyaarakat. Mentalitas masyarakat teerbuka ini adalah gambaran ideal bagi Masyarakat majemuk Indonesia di masa yang akan datang di tengah himpitan ddan tekanan globalisasi di segenap bidang hidup kemanusiaan dalam konteks global di satu sisi, dan ancaman disintegrasi bangsa Indonesia sebagai tantangan lokal ke-Indonesiaan yang mampu mengancam keutuhan Indonesia sebagai bangsa majemuk yang terintegrrasi. Mentalitas tengah-tengah antara mentalitas masyarakat Warisan dan masyarakat Merdeka ini, pada awalnya bersifat elitis, yakni hanya di kalangan mereka yang terdidik saja. Namun, kesenjangan ini dapat diatasi dengan adanya sosialisasi ideologi masyarakat terbuka ini yang dilakukan secara terus menerus dan berkelanjutan. Gerakan penyadaran akan pentingnya membangun mentalitas masyarakat majemuk dalam konteks ke-Indonesiaan ini perlu dilakukan dengan segera di segenap cara yang mungkin di lakukan, dengan menggunakan jalur pendidikan sebagai jalur utama dari strateegi penyadaran massal ini. Pola dan corak Masyarakat baru ini muncul sebagai pola tandingan sekaligus juga sebagai jawaban atas dua pola masyarakat yang telah ada sebelumnya yang telah terbukti gagal dalam mencapai harmonisasi sosial, bahkan pangkal dari disharmoni sosial yang terjadi di Indonesia selama ini berasal dari konflik berkepanjangan antara dua masyarakat penganut-penganut dua mentalitas masyarakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Catatan&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ditulis di Pemuda Asli II/2, Rawamangun pada 6 Juli 2002, sebagai Tugas Akhir Semester dari Mata Kuliah Integrasi dan Asimilasi, pada perkuliahan Semester Genap 2001-2002, dibawah bimbingan Drs. Budiaman, M.Si.&lt;blockquote&gt;&lt;blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;/blockquote&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-3310901081337552410?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/3310901081337552410/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/menelisik-potensi-konflik-pada.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/3310901081337552410'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/3310901081337552410'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/menelisik-potensi-konflik-pada.html' title='MENELISIK   POTENSI  KONFLIK  PADA  MASYARAKAT  MAJEMUK  DI  INDONESIA'/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-2631009491409216685</id><published>2007-12-25T18:02:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T18:11:11.029-08:00</updated><title type='text'>Mewaspadai Bangkitnya Totaliterianisme</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Prolog  ; Dialog di SCTV dan Jajak Pendapat di Harian Kompas &lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Belum lama ini, sepulang dari kantor saya menyaksikan acara dialog pekanan di SCTV, beberapa jam menjelang pergantian hari. Tampil di layar kaca, petinggi tiga parpol besar, seorang pengamat dan pemandu dialog. Dialog berlangsung intens dan menyoal topik yang hangat dalam kancah politik yakni “reshuffle kabinet” pemerintahan SBY-JK. Pada saat dialog mengulas peluang dibentuknya “zaken cabineet” yang merupakan pengejawantahan menteri non-partisan dan non-parpol, serta merta petinggi parpol menegaskan bahwa “pemerintahan tidak akan jalan” karena DPR pasti akan “menjegal” semua usulan program pemerintah dan terutama dari kementerian.&lt;br /&gt; Pengamat politik yang turut serta dalam dialog itu dan presenter acara, nampak jelas resah dan kecewa dengan statement petinggi parpol yang saling menegaskan bahwa “jatah menteri” tetap penting dibagi-bagi kepada parpol-parpol pengusung presiden terpilih. Terlebih lagi ketika para petinggi parpol tersebut menegaskan bahwa betapa pengorbanan mereka sudah teramat banyak dalam upaya mendudukkan presiden di posisinya selama pertarungan panjang Pilpres 2004, dan seharusnya hal tersebut layak “dibalas” dengan pemberian jabatan kementrian yang “strategis”. Soal kompetensi, para petinggi parpol tersebut menjamin bahwa mereka “punya banyak stock” kader yang kompeten dalam internal parpol mereka. Kekecewaan dan sinisme sang pengamat maupun presenter ini amat beralasan, karena mereka percaya bahwa inilah sesungguhnya pembenaran dari politik “dagang sapi” yang pasti berlangsung saat pasar sapi dibuka dimusim “reshuffle”. Pengamat dan presenter, yang sedikit banyak mewakili opini pemirsa, memahami bahwa sekompeten apapun kader parpol dalam menangani kementrian, tentu kalah kompeten dengan para pakar yang di kepalanya tidak terpasung oleh agenda titipan parpol, tetapi fokus pada pencapaian hasil, mutu, kinerja, dan profesionalisme untuk kemudian bertanggung jawab secara langsung kepada CEO-nya, yakni Presiden. Pengamat dan presenter, sama-sama mafhum bahwa kata-kata “balas jasa” atas kinerja parpol pada saat pilpres, dan “posisi strategis” kementrian, yang meluncur dari lisan petinggi parpol tersebut tak lain adalah soal perebutan sumber daya karena sumber daya, terutama finansial yang mencukupi, amat penting sebagai ongkos mobilisasi politik pada saat pemilu nasional, atau pilkada tingkat lokal digelar, agar mereka tetap langgeng di pentas politik nasional. Sumber daya tersebut juga bermanfaat, karena semakin penting posisi di kementrian yang diperoleh, maka tidak hanya posisi tawar parpol yang semakin tinggi namun beragam efek berantai bakal terjadi, mulai dari pengaruh yang dimiliki di tingkat eksekusi kebijakan, kucuran proyek strategis, hingga pada peningkatan kesejahteraan pengurus parpol yang terjamin secara otomatis. Namun sinisme dan nada kecewa dari presenter serta pengamat politik nampaknya gagal ditangkap para petinggi parpol dan lenyap ditelan arogansi petinggi parpol tersebut, yang menegaskan dan menempatkan diri sebagai “penentu” keberlangsungan pemerintahan sekarang, termasuk tentunya, agenda-agenda wellfare state. Sepanjang dialog, sang pengamat politik banyak tersenyum dan tertawa miris, sementara sang presenter berkali-kali terkejut tak habis pikir, sementara para pimpinan parpol tetap duduk dengan anggun sembari mengemukakan pernyataan yang mengundang rasa miris dan sinis dari pemirsa seperti saya.&lt;br /&gt; Hal menarik justru saya dapatkan saat membaca hasil jajak pendapat dari Tim Litbang harian Kompas dan diterbitkan di harian yang sama pada edisi selasa, 20 Maret 2007 yang lalu, masih soal perlu tidaknya reshuffle kabinet. Pada point pertanyaan “Yakin atau tidak yakinkah anda, kabinet yang dibentuk tanpa melibatkan orang-orang Partai Politik, akan lebih efektif dalam menjalankan tugas-tugasnya ?” ternyata sebagian besar (52,9%) dari 836 responden menjawab “yakin”. Responden, umumnya (54,8 %) menyatakan dengan jelas parpol pilihannya pada saat Pemilu 2004, sehingga bolehlah kita berasumsi bahwa responden adalah kader, atau setidaknya simpatisan dari parpol besar seperti ; Golkar, PDI Perjuangan, PKB, PPP, Partai Demokrat, PKS, dan PAN. Bayangkan, kader parpol pun ternyata umumnya lebih meyakini bahwa anggota kabinet tidak perlu sepenuhnya “orang partai”. Bagi seluruh responden pada jajak pendapat, perbaikan pada bidang vital seperti Politik dan Keamanan, Ekonomi, Penegakan Hukum, serta Kesejahteraan sosial perlu disegerakan, dan tidak penting dari parpol manakah menterinya. Apakah ini dapat diterjemahkan sebagai rendahnya kredibilitas dan kinerja kader partai di kabinet ?  &lt;br /&gt;         &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Demokrasi dan Partai Politik di Indonesia, 1945&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Pada tanggal 5 November 1945, beberapa waktu setelah pendaratan pasukan sekutu ke Indonesia, atas inisiatif Wakil Presiden Pertama Republik Indonesia yang belum lama dilantik, diumumkanlah Maklumat Wakil Presiden tentang pembentukan partai-partai politik, dan menegaskan bahwa sistem pemerintahan yang akan dijalankan di Republik muda ini adalah Demokrasi Parlementer. Ini merupakan langkah politik yang agak mengejutkan karena beberapa waktu sebelumnya, diantara bentuk-bentuk pemerintahan yang dapat dipilih, bentuk Demokrasi Presidensiil tampak lebih “seksi” dalam diskusi-diskusi yang mengemuka diantara founding fathers Republik, terutama, tentu saja, Ir Sukarno sang Presiden yang dipilih secara aklamasi 2 bulan sebelumnya. &lt;br /&gt; Dalam konteks gelombang demokratisasi yang semakin menguat bersamaan dengan meletusnya Perang Dunia II pada waktu itu, jelaslah bahwa langkah Drs Mohammad Hatta, wakil presiden yang mengumumkan maklumat tersebut merupakan langkah berani, bahkan dikemudian hari, beliau mengatakan bahwa langkah itu bersifat “setengah kudeta” karena mampu melampaui kewenangannya sebagai wapres. Langkah cerdik dan berani ini jelas terbukti mampu menyelamatkan “muka” republik yang baru saja berdiri di dalam konstelasi politik dan diplomasi Internasional. Jika saja maklumat tersebut tidak jadi atau terlambat diterbitkan oleh pemerintah Indonesia kala itu, maka tentara pendudukan Sekutu sebagai pemenang sah perang Dunia II yang mengalahkan Jepang, dapat saja menangkap Sukarno-Hatta, dan pemimpin pergerakan lainnya dengan tuduhan penjahat perang, karena politik kooperatif yang dijalankan oleh Sukarno, Hatta dan beberapa pemimpin pergerakan lainnya selama Jepang menduduki Hindia Belanda. Perlu diingat, bahwa Sukarno mengakui dalam memoarnya “Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” bahwa dialah yang paling bertanggung jawab atas pengerahan dan kematian ribuan tenaga romusha, selama pendudukan jepang. Jika saja bentuk pemerintahan yang disepakati founding fathers adalah demokrasi presidensiil, atau bahkan kerajaan, dapat dipastikan pasukan sekutu akan meringkus founding fathers republik dengan status penjahat perang atau petualang politik yang hanya mementingkan pencapaian kekuasaan semata, dan anti demokrasi. Sementara, pasukan sekutu yang dimotori Amerika Serikat dan Inggris, selalu menjadikan isu demokratisasi sebagai “dagangan utama” dalam setiap perang pendudukan yang dilancarkannya, hingga hari ini.&lt;br /&gt;Begitulah akhirnya, sejarah mencatat bahwa pasukan sekutu datang ke Indonesia “hanya” utuk melucuti dan menawan tentara Jepang dan tidak terlalu “ngotot” bicara soal tema-tema “pendudukan”, atau “pengembalian kekuasaan seperti sebelum pendudukan jepang”. Meski pasukan Belanda “nekat” hendak menduduki kembali Hindia Belanda, sesuai dengan perjanjian Postdam 1945. Hal itu tidak pernah terjadi, karena Belanda, setelah mendapat tekanan keras dunia Internasional terutama dari Asia, Afrika, Amerika dan Australia akhirnya mengakui Indonesia minus Irian Barat, sebagai Republik yang berdaulat pada 19 Desember 1949. Amerika Serikat, dan Australia, merupakan dua negara “barat” yang cukup banyak membantu republik Indonesia di masa awal, baik dalam pembentukan KTN sebagai mediator konflik Indonesia-Belanda, atau mendukung lahirnya UNCI di PBB. Diplomat Australia, juga gencar menolak anggapan diplomat Kerajaan Belanda bahwa pemerintahan RI adalah “ekstrimis” dan pengacau keamanan, serta yang paling nyata adalah gebrakan Pemerintah Amerika dengan melakukan penghentian pemberian bantuan Marshall Plan bagi Belanda. Keyakinan dua negara berpengaruh ini, didasarkan atas laporan-laporan intelejen mereka bahwa Demokrasi telah tumbuh di Indonesia sejak mula-mula republik ini lahir, dan alasan inilah yang membuat Amerika dan Australia memberi dukungan-dukungan yang amat berarti dalam konteks perjuangan diplomasi di masa-masa awal republik. Akan halnya maklumat wakil presiden tersebut, maka maklumat wakil presiden tentang pemberian peluang kepada masyarakat Indonesia untuk mendirikan Partai Politik, dicatat sejarah sebagai bagian dari deretan “Peraturan-peraturan awal” sekaligus tonggak demokrasi di Republik Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Demokrasi dan Partai Politik di Indonesia, 2006&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan ini, muncul gejala-gejala yang mengkhawatirkan bagi proses demokratisasi di Indonesia. Ditengah gencar-gencarnya banyak kalangan menyuarakan tema-tema global yang “selangkah lebih maju” daripada tema Demokratisasi seperti ; Perlawanan terhadap Korupsi, Civil Society, Good Governance, Transparansi, Accoutability, Partisipasi masyarakat Sipil, dan lain-lain, tingkat kepercayaan masyarakat kepada Partai Politik justru menurun drastis. Salah satu indikator nyata dalam gejala ini adalah statistik partisipasi Rakyat dalam Pemilihan Umum atau Pilkada justru menunjukkan penurunan. Meski sikap anti-partai bukan satu-satuny penyebab penurunan partisipasi, namun ada kasus menarik di Aceh. &lt;br /&gt;Di Pilkada Gubernur Aceh, perolehan suara dari calon independen justru mendominasi dibanding calon-calon yang didukung “mesin” parpol. Kebencian publik kepada elite-elite parpol juga cenderung memuncak akhir-akhir ini, dibuktikan dengan sumpah serapah dan cemooh publik yang marak di media ketika diberitakan bahwa sebagian besar anggota DPRD se-Indonesia yang nota bene adalah kader parpol tingkat wilayah atau daerah, ramai-ramai ngeluruk ke Jakarta, menginap di hotel mewah, untuk menolak revisi PP 37/2006. Hal demikian terjadi saat sebagian wilayah Jakarta dilanda banjir besar. Sinisme publik kepada elite parpol jelas bermuara pada trust. Sebagai wakil rakyat, mereka yang duduk di lembaga legislatif adalah orang-orang yang diberi kepercayaan oleh konstituennya untuk memperjuangkan agenda-agenda komunitas yang diwakilinya. Ketika proses demikian tidak terjadi, maka apatisme dan sinisme publik merebak dimana-mana. Posisi sebagai anggota dewan yang pada dasawasa lalu masih dianggap posisi yang terhormat, kini dipandang profesi biasa, atau bahkan dilaknat sebagai biang kekisruhan politik, macetnya agenda-agenda pembangunan, macetnya arus dana-dana yang seharusnya segera sampai ke publik, dan lain-lain disebabkan panjang dan berbelitnya proses kompromi politik maupun belum selesainya produk legislasi yang memayungi tata-laksana suatu kebijakan publik. Kemacetan proses politik akibat lambannya pihak legislatif dalam bekerja, atau tidak kompetennya eksekutif tingkat menteri titipan parpol karena persoalan buruknya kinerja dan kompetensi, menjadikan opini publik atas parpol semakin buruk. Arogansi (izinkan saya menyebutnya demikian) parpol yang ngotot ingin memasukkan kadernya dalam struktur Kabinet Indonesia Bersatu seiring derasnya desakan reshuffle kabinet yang juga diteriakkan lantang oleh Parpol, jelas membuat publik dan terutama pengamat politik menjadi semakin jengah, lalu perlahan, muncullah sikap sinisme yang dibarengi apatisme. Mentalitas demikian muncul karena terjadi diskontinuitas dan kesenjangan saluran aspirasi antara kehendak publik yang sesungguhnya, dengan kehendak parpol yang mengatasnamakan publik. Perlahan namun pasti, akan tiba masanya bahwa publik tidak lagi merasa terwakili oleh Partai Politik, dan serta merta gelombang ketidakpuasan publik segera menjelma menjadi sebentuk opini-opini yang menguat dari sekedar word level (aras kata) menjadi work level (aras tindakan). Bentuk aksi-aksi yang berbahaya bagi kelangsungan demokrasi adalah meningkatnya jumlah kelompok perlawanan anti parlemen, dibarengi dengan dukungan media massa yang beropini sinistik terhadap lembaga parlemen, sehingga menggiring masyarakat untuk menolak memberikan suaranya dalam kotak-kotak suara pemilihan Dewan Perwakilan Rakyat atau Dewan Perwakilan Rakyat Daerah. Ini mungkin saja terjadi, karena secara teknis, UU Pemilu mengatur bahwa pemilihan Presiden-Wakil Presiden, tidak bersamaan dengan Pemilihan DPR-DPRD dan DPD. Lebih jauh lagi, surat suara antara DPRD-DPR dan DPD berbeda dan dalam lembar terpisah. Rakyat bisa saja melakukan perlawanan dengan menolak mencoblos wakil parpol, tetapi mencoblos anggota DPD dan Presiden-Wakil Presiden. Skenario demikian dapat saja terjadi. Biar bagaimanapun, rakyatlah yang punya kuasa di dalam sistem demokrasi, meski pada akhirnya pilihan rakyat nanti dapat juga mengubur demokrasi itu sendiri dan berganti dengan totaliterianisme.&lt;br /&gt;     &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Hancurnya Parpol berarti Matinya Demokrasi&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sinisme publik atas parpol, tentu saja menimbulkan persoalan yang tidak dapat dipandang sepele. Keberadaan lebih dari satu Partai politik dalam suatu negara, merupakan salah satu “instrumen konfirmasi” dari sistem demokrasi, disamping terselenggaranya pemilihan umum secara berkala, dan keterwakilan publik dalam lembaga legislatif yang nantinya memproduksi seperangkat aturan soal ke arah mana suatu bangsa dan negara akan melaju dan berkembang. Saya menyebut “instrumen konfirmasi” karena keberadaan parpol, lembaga legislatif, dan proses pemilu adalah sarana dan perangkat utama untuk menandakan bahwa demokrasi, secara formal masih “ada” di suatu negara meski instrumen-instrumen tersebut tidak menjamin bahwa demokrasi benar-benar ditegakkan secara konsisten dan berkelanjtan di suatu negara. Pada beberapa negara totaliter, instrumen itu tetap ada, tetapi tidak terjadi proses demokratisasi di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara karena gerakan oposisi ditindas dan dilarang, pers diberangus, transparansi tidak dijalankan, akuntabilitas tidak terjadi, dan partisipasi sipil dipersempit, sementara militer memegang kendali penuh atas nama stabilitas nasional dan pembangunanisme. Pemerintahan totaliter, tidak muncul secara serta-merta, tetapi ia muncul secara bertahap dan merangkak, menyelinap ditengah sinisme dan kegelisahan publik atas kebuntuan politik, kekisruhan dan krisis ekonomi berkepanjangan. Pola-pola kemunculan pemerintahan totaliter membutuhkan beberapa pra-kondisi, dan gejala awalnya dari tiga hal utama penyebab munculnya pemerintahan totaliter adalah timbul dan meluasnya public unrest,  adanya ekspektasi masyarakat yang terlalu tinggi terhadap presiden terpilih atau figur pemimpin tertentu, dan ketidaksabaran militer dalam mengikuti irama langkah politik sipil. Agenda pertama dan utama dari sebuah pemerintahan totaliter adalah pengharaman atas segala bentuk oposisi, dan pengebirian partai-partai politik, karena hanya dengan cara demikianlah Parlemen dapat “diatur”, sehingga diharapkan “kekisruhan” politik mereda, bursa saham semarak kembali, pembangunan terlaksana dan stabilitas terjaga. &lt;br /&gt;Logika publik demikian dapat muncul dan menjadi virus politik yang mematikan demokrasi, hngga memunculkan totaliterianisme dalam berbagai model dan bentuk, namun pola dan cirinya yang menindas tetap sama. Corak totaliterianisme memang pernah muncul di Indonesia, bahkan dua kali. Pertama, terjadi pada saat doktrin “Demokrasi Terpimpin” yang dicetuskan Sukarno sebagai reaksi akibat kebuntuan politik di level legislatif saat perumusan UUD pengganti UUD 1945. Eksperimen Totaliterianisme ini menyeret Indonesia menuju keterbelakangan dan keterasingan diplomatik. Kedua, terjadi pada saat “kudeta merangkak” yang memunculkan pemerintahan totaliter Orde Baru, dan menganut sistem Demokrasi Pancasila, yang pada hakikatnya adalah “Demokrasi Terpimpin-Konstitusional” berdoktrin Stabilitas dan Pembangunanisme, namun sarat Korupsi, Kolusi dan Nepotisme yang akhirnya nyaris membuat Republik ini bangkrut dan tenggelam untuk kedua kalinya, sebelum akhirnya gelombang Reformasi datang “menyelamatkan”  bangsa dan negara dengan menggiring demokratisasi ke permukaan. Pengalaman buruk atas kemunculan Totaliterianisme ini seharusnya menjadi pelajaran berharga dalam pentas politik Nasional kita, dan para politisi yang sejatinya adalah kader parpol atau representasi kelompok kepentingan, sudah selayaknya terdewasakan oleh pengalaman lampau yang demikian.    &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;Epilog ; Selamatkan Parpol, selamatkan Parlemen, selamatkan Demokrasi&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Di alam Demokrasi, terdapat peluang melimpah ke arah pertumbuhan, kemakmuran dan pendewasaan sebagai bangsa yang berdaulat dan bermartabat. Kualitas pelaksanaan demokrasi adalah salah satu tolok ukur penting yang membuat seberapa terhormat dan seberapa banyakkah peluang pertumbuhan ke arah kemakmuran yang tersedia. Demokrasi dan pertumbuhan ekonomi memang sulit untuk dibahasakan terpisah, meski pertumbuhan kwalitas salah satunya belum tentu menjamin perbaikan kwalitas di sisi lainnya. Namun, tidak ada yang meragukan bahwa hanya di iklim demokrasilah, segalanya memiliki kesempatan yang sama untuk dapat tumbuh dan berkembang, termasuk pemberian kesempatan bagi orang-orang yang anti-demokrasi agar boleh terus hidup, berkembang dan berkarya dengan bebas dan terjamin hak kebebasannya. Demokrasi karenanya mensyaratkan adanya gerakan oposisi yang dalam fungsi dan koridor etisnya adalah untuk memastikan bahwa kehendak rakyatlah yang senantiasa menjadi acuan utama tentang kemana arah berjalannya roda pemerintahan. Demokrasi, juga mensyaratkan adanya lembaga perwakilan rakyat yang merupakan representasi dari kehendak masyarakat suatu negara. Demokrasi, juga menghedaki adanya kelompok-kelompok masyarakat yang terhimpunkan oleh kesamaan agenda, kesamaan tujuan dan asas. Kelompok-kelompok ini biasanya berhimpun dalam Partai Politik, dan mereka diperbolehkan mengirimkan wakil-wakilnya yang terpercaya untuk duduk bersama dengan wakil-wakil dari kelompok lain, membahas permasalahan bangsa, merumuskan jaan keluar, dan tak kalah penting, turut ikut serta memastikan agar agenda-agenda bersama yang sudah disepakati dijalankan dengan baik dan benar.  &lt;br /&gt;    Krisis kepercayaan yang dihadapi oleh Partai Politik, adalah masalah utama dalam kehidupan kita sebagai bangsa yang bersepakat menjalani sistem Demokrasi. Partai Politik hendaknya menyadari akan perlunya dengan segera untuk melakukan serangkaian langkah perbaikan Internal, agar citra yang memudar kembali cemerlang. Dibutuhkan keberanian untuk membersihkan kalangan partai politik dari bandit-bandit yang mencari keuntungan finansial dengan memperalat partai dan massa. Boleh jadi, masuknya para bandit tersebut adalah karena orang-orang baik seperti anda, lebih memilih berkeluh kesah saat krisis politik ini mendera dan bukannya terjun langsung sebagai kader di salah satu partai dengan missi utama mendepak para bandit tersebut dan bekerja keras menyelamatkan demokrasi yang benihnya ada pada eksistensi Partai Politik. Wallahu a’lam..  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Penulis adalah warga negara Indonesia penikmat kehidupan demokratis di negerinya. &lt;br /&gt;Kini tinggal di Cijantung.&lt;br /&gt;Ditulis pada 20 Maret 2007, dipublikasikan di KALAM pada 25 Desember 2007.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-2631009491409216685?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/2631009491409216685/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/mewaspadai-bangkitnya-totaliterianisme.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/2631009491409216685'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/2631009491409216685'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/mewaspadai-bangkitnya-totaliterianisme.html' title='Mewaspadai Bangkitnya Totaliterianisme'/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-5565946706435862888.post-3051372319808660821</id><published>2007-12-25T17:30:00.000-08:00</published><updated>2007-12-25T18:01:27.463-08:00</updated><title type='text'>Ketika Ruang dan Waktu Telah Tercerabut ;</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Peran Strategis Operator Seluler dalam mewujudkan Masyarakat Berkelimpahan(1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;oleh ; Rahmat Akbar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Abstraksi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesuai dengan paradigma strukturasi, lanskap dunia telah berubah seluruhnya pada saat ditemukannya cara-cara baru dalam berinteraksi dan bertelekomunikasi. Dunia telah mencapai suatu tingkatan yang sama sekali berbeda sejak dua dekade terakhir ini. Teknologi komunikasi seluler, dan Internet telah membuat perbedaan bagi banyak orang dalam belajar, bekerja dan berkembang. Data yang dipublikasikan oleh UNDP menunjukkan signifikansi penggunaan telephon seluler di seluruh dunia terhadap ketersediaan akses informasi dan peluang pertumbuhan ekonomi. Perbedaan tingkat pertumbuhan ditentukan dari cara seseorangdalam memanfaatkan teknologi telekomunikasi, oleh karenanya penting sekali untuk mendidik publik dalam mentransformasikan kebiasaan penggunaan telephone seluler dari sekadar entertainment tools kepada entrepreneur tools, agar setiap orang dapat melakukan aktifitas produktif yang nantinya dapat mewujudkan masyarakat berkelimpahan. Sinergi antara operator penyelenggara  jaringan seluler dan pemerintah perlu dilakukan dalam rangka mendidk publik dan menyediakan akses telekomunikasi bagi siapapun dan dimanapun, dengan cara pengurangan pajak peralatan dan jasa telekomunikasi, menciptakan suatu  pusat pertumbuhan sebagai transforming model, hingga tayangan iklan operator jasa telekomunikasi seluler yang lebih mendidik bagi publik.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;kata kunci : operator seluler, sinergi, kebijakan pemerintah, masyarakat berkelimpahan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;I. Pengantar; Lanskap Sosial yang telah berubah(2) &lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Ada yang berubah dengan dunia kita. Perubahannya berlangsung cepat, radikal dan meluas. Pada masa-masa sebelumnya, “waktu” dan “ruang” selalu menjadi tantangan utama dalam menjalin interaksi antar sesama manusia. Kesatuan waktu dan ruang membentuk pola interaksi masyarakat yang bersifat tatap muka dan langsung. Selain itu, waktu dan ruang memiliki daya konstitutif yang membentuk dan memaknai sebuah tindakan. Waktu dan ruang bukan sekadar domain utama dalam berinteraksi, namun ia juga merupakan pembentuk tindakan itu sendiri. Semua tindakan, hanya dapat dilakukan di dalam suatu waktu dan ruang tertentu, dan definisi tindakan tersebut didapatkan dari perbedaan antara waktu, ruang dan tindakan yang dilakukan didalam keduanya. Misalnya, seseorang di Mataram yang hendak mengunjungi rekan bisnisnya di Buitenzorg (Bogor, sekarang) pada tahun 1800, membutuhkan waktu hampir dua minggu perjalanan darat. “Waktu” ketika mereka bertemu, tidak dapat dipisahkan dari “tempat” mereka bertemu. Di masa itu dan beberapa masa sesudahnya, pengertian “kapan” yang merujuk “waktu”, harus bersatu dengan pengertian “dimana” yang merujuk pada suatu tempat yang spesifik. Namun bagi seseorang yang ingin melakukan aktifitas yang sama di tahun 2007, masing-masing pihak tidak perlu beranjak dari tempatnya berada, cukup memijit nomor-nomor yang spesifik merujuk pada subyek yang dituju pada telephone seluler yang digenggamnya, maka percakapan yang kini diperkaya visualisasi masing-masing dapat dilakukan segera dan saat itu juga. Prosesnya hanya memerlukan hitungan waktu sekian detik, dan selanjutnya seluruh interaksi dan transaksi dapat dilakukan, tanpa harus kehilangan makna kemanusiaan. Waktu dan ruang, telah dipadatkan menjadi sebuah pijitan nomor-nomor yang merujuk pada suatu subyek atau kode transaksional tertentu. &lt;br /&gt; Sejak ditemukannya Internet dan teknologi seluller, seluruh struktur sosial telah berubah sepenuhnya dan memberikan peluang-peluang pertumbuhan yang terus meluas bagi semua orang di semua bidang. Hal ini dikarenakan telah terjadi transformasi radikal dalam cara manusia berinteraksi. Waktu dan ruang telah tercerabut dari domain utama dalam berinteraksi, dan segalanya menjadi nisbi. Waktu dan ruang telah sepenuhnya dikendalikan oleh manusia. Kesadaran akan ruang dan waktu mengalami perubahan, bahwa seseorang dapat menjelajahi tempat-tempat yang belum pernah terbayangkan sebelumnya, dan bahwa keterbatasan pribadi menjadi semakin nisbi. Setiap orang dapat melampaui ruang yang lebih luas daripada yang mampu dijangkau oleh fisiknya sendiri. Dunia menjadi semakin “datar”, dan setiap kejadian di satu sudut dunia dapat diketahui seketika itu juga oleh sudut dunia lainnya, dan juga dapat diketahui secara massal. Pencapaian dan inovasi teknologi telekomunikasi telah membuat banyak perbedaan dalam cara manusia untuk berinteraksi, belajar, bekerja dan berkembang secara radikal. Perubahan ini menyodorkan tawaran akan tingkat efektifitas dan efisiensi yang tidak pernah terbayangkan hingga dua dekade sebelumnya.&lt;br /&gt; Di masyarakat modern sekarang ini, cara-cara berproduksi tidaklah sepenting cara-cara mengkoordinasikan ruang dan waktu dalam menciptakan nilai tambah yang menghasilkan manfaat dalam spektrum yang lebih luas dan berkelanjutan. Kwalitas seseorang atau suatu masyarakat kini ditentukan dari seberapa jauhkah ia dapat mengkoordinasikan ruang dan waktu dalam mencipta nilai lebih. Kini kemampuan dan cara manusia dalam mengkoordinasi ruang dan waktu, adalah parameter utama yang membedakan kwalitas tingkat perkembangan suatu kelompok masyarakat dengan masyarakat lainnya. Kemampuan mengkoordinir waktu dan ruang menjadi pembeda paling tegas antara manusia modern dengan manusia belum modern. Kini setiap orang memiliki peluang yang sama untuk bertumbuh, belajar, bekerja dan berkembang sampai pada tingkatan yang mereka inginkan. Setiap orang berpeluang sama untuk dapat mengembangkan bakat-bakatnya serta memperoleh hasil yang maksimal dalam setiap kinerjanya. Ketersediaaan akses informasi yang luas dan tak terhingga di setiap komunitas merupakan prasyarat utama dalam mencapai kemajuan. Orang kini semakin yakin bahwa jika setiap orang diberdayakan, maka akan banyak tersedia cukup banyak sumber daya bagi setiap orang. Inovasi tak terduga yang melahirkan solusi permasalahan bersama menjadi semakin mungkin. Setiap orang berpeluang untuk menjadi seorang pemberi solusi bagi yang lainnya. Kemakmuran yang massif dan massal sangat mungkin diwujudkan. Bukan sekadar melalui harga produk barang dan jasa yang semakin murah dan massal, namun juga akses tak terbatas bagi siapa saja jelas tak sekadar mampu menyediakan banyak pengharapan perbaikan bagi siapa saja tetapi lebih dari segalanya, siapapun dapat memperbaiki kwalitas kehidupannya kini dan masa mendatang.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;II. Teledensitas(3)  Jaringan Seluler dan Pertumbuhan Ekonomi.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt; Fungsi asli dari tata pemerintahan negara adalah memenuhi kebutuhan warganegaranya, menjamin ketersediaan sumberdaya dan akses bagi siapapun. Jika seseorang diberi akses komunikasi dan informasi yang mampu menisbikan hambatan waktu dan ruang, asumsinya maka dia memiliki peluang untuk lebih berkembang dengan porsi yang lebih besar daripada mereka yang minim akses atas informasi dan komunikasi.. &lt;br /&gt; Pertumbuhan kemakmuran suatu negara, salah satunya ditentukan oleh seberapa terhubungkah penduduknya dengan penduduk di wilayah lainnya dalam negara tersebut atau seberapa jauhkah penduduk suatu negara memiliki akses yang memungkinkan mereka terhubung dengan penduduk dari negara lainnya(4). Data yang dipublikasikan oleh UNDP(5) menunjukkan bahwa besarnya kenaikan nilai GDP(6) di Indonesia sejak 2001 hingga 2004 rata-rata sebesar 21 %, sementara itu kenaikan jumlah pengguna telephone seluler per tahunnya sejak 2000 hingga 2004 rata-rata sebesar 69 %. Sebagai perbandingan, berikut ini dikemukakan data tentang seberapa besarkah pertumbuhan GDP yang terjadi dan seberapa luaskah telephone seluler digunakan di negara beberapa negara. Data berikut mencakup di dua negara maju di kawasan Eropa, yakni Norwegia dan Inggris dan dua negara di kawasan Asia yakni India dan Malaysia.&lt;br /&gt; Inggris mengalami pertumbuhan pengguna telephone seluller sejak 2000 hingga 2004 dengan besaran kenaikan rata-rata 8,6% , sementara pertumbuhan rata-rata GDP sejak 2000 hingga 2004 juga mengalami kenaikan rata-rata sebesar 10,5%.  &lt;br /&gt; Sementara di India, pertumbuhan jumlah pengguna telephone seluller per tahun sejak 2000 hingga 2004 rata-rata sebesar 83,5%. Pertumbuhan GDP di periode yang sama juga mengalami kenaikan rata-rata sebesar 10,9%.&lt;br /&gt; Pertumbuhan jumlah pengguna telephone seluler di Malaysia rata-rata mengalami kenaikan sebesar 29% sejak 2000 hingga 2004. Pada periode yang sama, pertumbuhan GDP per tahun rata-rata sebesar 7,25%. Sebuah catatan khusus, pada periode tahun 2000-2001 terjadi penurunan GDP sebesar 1%, namun jumlah pengguna telephone seluler pada periode tersebut justru naik sebesar 47%, yang merupakan kenaikan periodik terbesar hingga 2004. &lt;br /&gt; Pertumbuhan pengguna telephone seluller di Norwegia sejak 2000 hingga 2004 rata-rata naik sebesar 4,6% sementara GDP negara tersebut sejak 2000 hingga 2004 juga mengalami kenaikan sebesar 11,55%. Terdapat fakta yang menarik, bahwa jumlah pengguna telephone seluller pada tahun 2004 menurun sebesar 1% dari jumlah pengguna pada tahun 2003, Pencapaian pertumbuhan GDP pada tahun 2004, meski meningkat sebesar 13% dari tahun 2003, namun angka ini merupakan “penurunan” jika dibandingkan dengan data pencapaian pertumbuhan GDP pada tahun 2003 yang naik 16% dari tahun 2002. Sementara pada tahun 2003 tersebut, jumlah pelanggan seluller naik 7,7% dari tahun 2002. Penurunan jumlah pengguna telephone seluler sebesar 1% ini diduga turut berkontribusi pada penurunan kemampuan pertumbuhan ekonomi nasional di periode 2003-2004 yang mengalami penurunan sebesar 2% jika dibandingkan dengan pencapaian pertumbuhan GDP pada periode 2002-2003. &lt;br /&gt; Mencermati data pertumbuhan GDP dan pertumbuhan pengguna jaringan seluler di Malaysia dan Norwegia, ternyata meningkatnya pertumbuhan pengguna telephone seluler di Malaysia, tidak serta merta turut menumbuhkan tingkat GDP negara tersebut, sebagaimana terjadi pada pertumbuhan pengguna telephone seluler di Inggris, India dan Indonesia. Sementara di Norwegia, penurunan jumlah pengguna telephone seluler justru mengakibatkan penurunan kemampuan pertumbuhan GDP di negara tersebut. Data di India, Indonesia dan Malaysia yang menunjukkan pertumbuhan pengguna telephone seluller sebanyak dua digit, berkontribusi pada pertumbuhan GDP sebesar satu digit. Data ini boleh jadi mewakili kawasan Asia. Kebalikannya terjadi di Norwegia dan Inggris, yang pertumbuhan pengguna telephone seluler hanya satu digit, ternyata pertumbuhan GDP di kedua negara tersebut sebesar dua digit. Data ini dapat mengantar kita pada sebuah kesimpulan sederhana sesuai dengan pendapat Anthony Gidens tentang perbedaan tingkat perkembangan suatu masyarakat dalam paradigma strukturis, bahwa cara seseorang dalam memanfaatkan akses dan teknologi, itulah yang membuat perbedaan dan peningkatan kapasitas.        &lt;br /&gt; Meningkatkan teledensitas merupakan salah satu cara dalam mendorong keterhubungan antar penduduk di suatu negara atau antar penduduk di negara yang berbeda. Namun, untuk konteks Indonesia, pembangunan sarana dan prasarana pendukung lainnya selain jaringan seluler juga amat diperlukan. Hingga tahun 2003, rasio elektrifikasi kawasan perdesaan baru mencapai 78 persen, sementara jumlah desa yang tersambung prasarana telematika baru mencapai 36 persen(7). Ditargetkan, pada akhir 2009 nanti pembangunan fasilitas telekomunikasi perdesaan sekurang-kurangnya 43000 sambungan baru di 43000 desa dan pembangunan community access point di 45000 desa, dengan target peningkatan persentase desa yang mendapat aliran listrik dari 94 persen pada tahun 2004 menjadi 97 persen pada tahun 2009.&lt;br /&gt; Banyak faktor yang dapat mendorong kemakmuran suatu negara. Sistem pemerintahan yang berlaku, serta pola kebijakan yang diterapkan merupakan hal penting sebelum seluruh infrastruktur teknis dan prasarana pendukung dibangun. Sistem pemerintahan negara-negara di dunia menjadi lebih demokratis dalam dua dekade belakangan ini(8). Peran teknologi komunikasi berbasis seluller dapat menjadi penyangga demokratisasi di tingkat lokal, bahkan penguatan per individu. sebagai alat, ia memiliki daya yang luar biasa dalam menembus kebekuan birokratis dan mendorong transparansi. Kontrol sosial, dan jejaring informasi tanggap darurat bencana alam, dapat tersebar efektif melalui teknologi seluler. Disisi lain, teknologi seluller juga meningkatkan efisiensi penyelenggaraan tata pemerintahan, dan meningkatkan kapasitas negara dalam melakukan penginderaan melekat atas nama keamanan negara. Kebermanfaatannya yang menjangkau hampir keseluruhan aktivitas manusia dalam kerangka interaksi antar manusia maupun antara manusia dengan institusi atau otoritas kelembagaan, menjadikannya layak diprioritaskan untuk pengembangan lebih jauh dan berkelanjutan. Negara, pihak swasta, dan para pemangku kepentingan masih perlu lebih didorong dan saling mendukung untuk memunculkan inovasi teknologi tinggi dan keseriusan melakukan investasi lebih jauh di bidang pemanfaatan dan peningkatan teledensitas jaringan seluler di Indonesia&lt;br /&gt; &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;III. Pergeseran Paradigma: dari Alat Konsumtif menuju Alat Produktif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Dari data yang telah disajikan pada bagian kedua diatas, nampak jelas bahwa jumlah teledensitas jaringan telekomunikasi di suatu negara mempengaruhi tingkat pertumbuhan ekonomi yang dapat dicapai negara tersebut. Namun, jauh lebih penting untuk memastikan bahwa pemanfaatan teknologi telekomunikasi dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk aktifitas produktif yang mampu merangsang pertumbuhan ekonomi para penggunanya. Hal inilah yang membuat perbedaan penting dari pertumbuhan yang terjadi di kawasan Eropa, dengan pertumbuhan di kawasan Asia. Orientasi pemanfaatan teknologi, ternyata menjadi jauh lebih penting dari teknologinya sendiri.&lt;br /&gt; Ada satu gagasan yang perlu disampaikan kepada operator penyelenggara jaringan seluler agar operator seluler memperbesar porsi dalam mendidik masyarakat tentang manfaat besar yang akan diperoleh masyarakat jika mereka mau memutuskan untuk beralih cara dalam bertelekomunikasi. Hal inilah yang masih perlu untuk dikembangkan lebih lanjut. Masyarakat perlu dilatih dan dididik bagaimanakah seharusnya teknologi telekomunikasi terutama yang berbasis seluler dimanfaatkan seluas-luasnya untuk aktifitas-aktifitas produktif. Jika kita telisik lebih jauh lagi, fungsi telephone seluller bagi sebagian besar pengguna di Asia boleh jadi hanya sebatas alat hiburan, sebagaimana layaknya Game Watch® dan Walkman® yang populer di era 1980’an dan 1990’an atau iPod® yang kini populer. Ini terbukti dengan adanya sebagian kandungan dalam ponsel berupa permainan modul digital dan pemutar musik dalam beragam format dan beragam layanan tambahan lainnya yang disediakan oleh produsen telephone seluller maupun pihak operator penyelenggara jaringan seluller. Berkomunikasi melalui telephone seluller juga dianggap sebagai bagian dari aktifitas hiburan oleh sebagian pengguna, sehingga fungsi telephone seluler berhenti menjadi sekadar alat telekomunikasi instant. Bagi kelompok masyarakat semacam ini, hadirnya telephone seluler yang mumpuni(9) dengan layanan 3,5G adalah kesempatan berbicara langsung dengan sang pacar, atau keluarga di wilayah lain, dan dapat langsung memandangi wajah dan senyuman lawan bicaranya. Fungsi hiburan semestinya tidak dipilih menjadi fungsi utama dari kemunculan telephone seluler, karena sejak semula kandungan tersebut hanya dimasukkan sebagai tambahan semata, bukan merupakan fungsi utama. &lt;br /&gt; Pentingnya mendidik publik agar merubah dan memaksimalkan fungsi telephone seluler dari sekadar entertainement tools agar menjadi entrepreneur tools dapat dimulai oleh operator seluler melalui iklan yang lebih mendidik dan berbobot. Barangkali perlu dicoba, iklan yang menggambarkan pertumbuhan sebuah desa yang produktif seperti sentra perkebunan tembakau di Bansari – Temanggung(10), atau sentra kerajinan meubelair ukir di Tahunan- Jepara(11) sebelum tahun 1980’an dan sesudah jaringan telephone, jaringan seluller mulai masuk di wilayah tersebut pada tahun akhir 1990’an. Perubahan yang terjadi di kedua kawasan tersebut amat mengagumkan, disebabkan jaringan telephone dan jaringan seluler serta Internet yang membuat produktifitas, efektifitas dan efisiensi penduduk di kedua wilayah tersebut mencapai tingkat yang tinggi, justru pada saat seluruh wilayah di Indonesia mengalami dampak puncak dari krisis moneter. &lt;br /&gt; Lebih jauh lagi, masyarakat tidak sekadar perlu diberitahu apa-apa yang akan terjadi dan manfaat apa yang akan mereka peroleh jika mereka mau melakukan transformasi sosial dan kultural tersebut, tetapi operator seluller dan bersama-sama pemerintah perlu meyakinkan publik dan mengedukasi secara simultan dan berkelanjutan tentang kemungkinan cara-cara yang dapat dilakukan oleh siapapun untuk memperoleh hasil-hasil yang maksimal dari penggunaan teknologi telekomunikasi berbasis seluller. Membuat beberapa proyek bersama yang memanfaatkan teknologi telekomunikasi seluler untuk meningkatkan produktifitas sebuah kawasan seluas kecamatan, kemudian mendokumentasikan dan mempublikasikan hasilnya, rasanya sudah cukup memberi bukti kuat bagi publik tentang bagaimana buah manis dari inovasi teknologi telekomunikasi ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas. Tentu saja solusi berbasis seluler yang harus ditawarkan akan sangat unik karena digali dari kekhasan di tiap lokalitas. Edukasi ini pada prinsipnya adalah pendampingan total dan menyeluruh. Hal ini untuk mempertegas pada publik bahwa kehadiran operator seluler adalah berfungsi sebagai katalisator peningkatan kapasitas publik. Kehadiran operator seluler menawarkan cara baru kepada publik dalam memperoleh, mengelola dan memanfaatkan informasi dengan menggunakan kecanggihan teknologi telekomunikasi terkini. Pada ranah publik, cara-cara baru dalam telekomunikasi ini berarti tersedianya peluang untuk bertumbuh, berkembang dan memperoleh hasil maksimal melalui cara-cara yang lebih efektif dan efisien. Jika setiap orang mengetahui bagaimana caranya menjadi individu-individu yang produktif dan mau berpartisipasi dengan cara-cara yang kreatif dalam mewujudkannya, maka negara yang berkelimpahan dapat segera direalisasikan tanpa perlu menunggu presiden baru atau revolusi sosial meletus kembali di Republik tercinta ini.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;br /&gt;IV. Sinergi Negara dan Swasta ; mencipta kebijakan efektif, bukan kebajikan massif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Agenda besar mewujudkan negara berkelimpahan yang melampaui negara berkembang adalah agenda yang realistis dan sangat mungkin diwujudkan. Pertumbuhan ekonomi memang dapat dicapai melalui banyak cara, dan pertumbuhan ekonomi memang hanya satu dari sekian banyak indikator penting dalam mewujudkan negara yang berkelimpahan. Pada tingkat operator penyelenggara jaringan seluller, telah dikemukakan cara-cara dan program yang mungkin dapat dikerjakan oleh mereka dalam rangka memperbesar dan memperluas peran serta partisipasi mereka bagi perwujudan negara yang berkelimpahan. &lt;br /&gt; Sementara pada tingkat pemerintah negara, sangat penting untuk menggulirkan program-program yang dapat meluaskan akses informasi dan telekomunikasi publik dengan cara-cara yang efektif, dan jauh lebih penting diatas segalanya adalah menyusun kebijakan-kebijakan radikal yang mendorong orientasi publik agar mau menjadi bagian dari solusi, bukan bagian dari masalah. Semestinya aktivitas penyelenggara negara yang berkepentingan dengan pengembangan dan perluasan akses informasi dan telekomunikasi bukan sekadar melakukan pendataan pengguna telephone atau pengguna telephone seluller, melakukan lelang jalur frekwensi, dan beragam pengaturan lainnya atas nama ketertiban dan keamanan publik atau alasan lainnya yang terkadang hanya masuk akal dalam logika birokrasi. Juga bukanlah hal utama untuk mengeluarkan sederet kebijakan yang “memaksa” operator seluller untuk menggencarkan aktivitas amal atas nama tanggung jawab sosial perusahaan penyelenggara jaringan seluller. Akan tetapi sangat perlu bagi para pemangku kepentingan di bidang perselulleran dan pemerintah untuk bersama-sama mewujudkan kebijakan yang lebih memihak kepada publik. Pada waktu-waktu yang lalu, kebijakan pemerintah untuk mewajibkan pendataan bagi semua pengguna layanan seluler ternyata dapat dikecoh oleh sebagian orang dengan mengirimkan data-data palsu, karena keabsahan data yang dapat dikirim melalui layanan pesan singkat tersebut sulit terkonfirmasi(12). Penataan jalur frekwensi menimbulkan kerumitan teknis bagi sebagian pelanggan seluller saat pemerintah memutuskan menata jalur keperuntukan frekwensi CDMA. Sementara lelang pemerintah dalam rangka pemanfaatan jalur seluller bagi operator seluler, belakangan ini memicu perang tarif yang menuai banyak gugatan terbuka media massa yang berasal dari pelanggan seluller baru yang merasa tertipu oleh iklan tarif murah yang dilakukan oleh sebagian besar operator seluller dalam memperoleh pertambahan jumlah pelanggan baru. Pada akhirnya, “perang tarif” yang mengesankan pelecehan operator yang satu terhadap operator lainnya ini akan menegrucut menjadi dua kemungkinan, apakah akan terjadi praktik predatory pricing(13) oleh sebagian operator seluler terhadap operator lainnya, atau jika seluruh operator seluler menjalin komunikasi bisnis yang baik diantara mereka, maka parktik kartel untuk produk layanan tertentu dapat terjadi. Akibat lainnya adalah operator seluler kurang transparan dalam menjelaskan kepada publik, sebesar apakah biaya yang diperlukan untuk pengiriman SMS atau melakukan percakapan, misalnya. Baik praktik predatory pricing maupun permufakatan menjurus praktik kartel dalam bisnis, berujung pada kemungkinan dirugikannya konsumen baik secara materiil maupun non-materiil. Jika ini yang terjadi, maka operator seluler akan kehilangan kepercayaan publik yang merupakan konsumen sejatinya. Kesemuanya berawal dan akan kembali lagi pada pilihan startegi kebijakan pemerintah dalam mengelola pemanfaatan jaringan telekomunikasi berbasis seluler yang disediakan operator seluler bagi publik. Operator seluler telah mengambil alih sebagian tugas negara dalam rangka mewujudkan masyarakat yang berkelimpahan. Kebijakan yang tidak berpihak pada operator seluler, dapat berarti tidak berpihak pada publik. Sebaliknya, jika pemerintah dan operator seluler menjalin kinerja sinergis, maka pertumbuhan dan kelimpahan bagi semua sudah dapat dipastikan sejak awalnya.   &lt;br /&gt; Dalam rangka peningkatan akses informasi dan ketersediaan sarana telekomunikasi yang dapat dimanfaatkan secara luas oleh publik, sekaligus mencapai target pembangunan nasional jangka menengah hingga 2009, maka ada beberapa rekomendasi yang dapat penulis tawarkan bagi pemerintah dan para pemengku kepentingan bidang pengembangan pertelekomunikasian di Indonesia. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, perlu sekali dimulai untuk menetapkan peraturan pengurangan pajak atas perlengkapan dan jasa telekomunikasi karena hal ini terkait pada keterjangkauan seluruh penduduk agar dapat mengakses dan memanfaatkan peralatan telekomunikasi semacam telephone seluler, disamping untuk mendorong pertumbuhan pelanggan seluler. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; sangat penting bagi pemerintah bersama-sama operator seluler untuk mengedukasi masyarakat tentang pemanfaatan teknologi jaringan seluler, yang tidak hanya sebatas pada entertainment tools saja tetapi juga dapat berfungsi sebagai entrepreneur tools yang memiliki nilai produktifitas tinggi. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, pentingnya sinergi antara swasta, dalam hal ini operator seluler dengan pemerintah, untuk “naik gunung dan menembus hutan”, menjelajahi daerah-daerah yang masih minim akses dan masih mengalami hambatan akses telekomunikasi antar daerah, terutama disebabkan oleh hambatan jarak dan waktu. Prioritas bantuan diberikan kepada mereka yang telah atau baru mulai berproduksi atau tapi kesulitan dalam akses pasar, transaksi dan komunikasi. Tujuannya adalah membentuk model transformatif dan membuktikannya melalui sederet kisah sukses yang telah nyata terjadi. Selain itu, akses juga harus diperluas kepada pusat-pusat pertumbuhan seperti sekolah, agar setiap siswa memiliki peluang yang sama untuk belajar dan berkembang. Pada akhirnya, kesenjangan literasi dan akses pada pengetahuan perlahan dihilangkan. Efisiensi dan efektifitas dalam bertransaksi, mendapatkan cara baru dan informasi baru dalam melakukan konservasi lingkungan alam, mendorong kreativitas dan memunculkan lapangan pekerjaan baru yang lebih spesifik dan unik adalah sebagian kecil keuntungan yang akan dinikmati oleh publik. Semakin banyak ragam dan cara dalam bekerja, belajar dan berkembang, maka semakin banyak orang yang bisa diberdayakan karena semakin banyak orang yag terlibat dalam berproduksi atau menghasilkan nilai tambah yang tidak hanya baru tetapi juga unik. Pada akhirnya, akan tersedia kelimpahan bagi semua. Publik mendapatkan cara-cara baru yang melimpah dalam memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan, penyelenggara negara berhasil memenuhi janjinya kepada publik dan memastikan stabilitas internal yang lebih luas dan tangguh, sementara operator penyelenggara seluller memperoleh pelanggan setia, karena teknologi telekomunikasi seluler adalah bagian tak terpisahkan dalam mewujudkan kehidupan yang berkelimpahan.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dunia ini cukup bagi seluruh penghuninya&lt;br /&gt;kecuali bagi satu orang yang tamak..&lt;br /&gt;(Mohandas K  Ghandi)&lt;br /&gt;     Cijantung, 12 Oktober 2007, dini hari.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;CATATAN KAK&lt;/span&gt;I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;  1. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Naskah ini ditulis dalam rangka mengikuti XL Award-Writing Competition 2007 di Jakarta dan berhasil menjadi Juara 1 untuk kategori penulis umum. Penganugerahan telah dilaksanakan di Rumah Daksa - Kebayoran Baru, Jakarta Selatan pada 22 November 2007.&lt;br /&gt;  2. Wacana pada bagian pengantar ini, sebagiannya ditulis berdasarkan telaah atas Teori Strukturasi dari Anthony Giddens pada Social Theory and Modern Sociology. Cambridge : Polity Press, 1987.  &lt;br /&gt;  3. Teledensitas (Teledencity). Rasio pengguna jaringan telekomunikasi berbanding dengan jumlah populasi penduduk. Asumsinya, semakin tinggi teledensitas suatu negara, semakin besar peluang warganya untuk mengakses informasi dan melakukan komunikasi antar atau inter-wilayah.&lt;br /&gt;  4. Brady, Robert A. Organization, Automation, and Society: The Scientific Revolution in Industry. University of California Press. Berkeley ; 1961. hal. 76&lt;br /&gt;  5. Human Development Report : 2002,2003,2004,2005,2006. Lihat grafik pertumbuhan pada halaman lampiran.&lt;br /&gt;  6. Gross Domestic Product, Produk Domestik Bruto. Merupakan salah satu parameter pertumbuhan ekonomi suatu kawasan atau negara yang digunakan UNDP dan ekonom pada umumnya.&lt;br /&gt;  7. Peraturan Presiden Republik Indonesia No 77/2005, tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional 2004-2009, Bab 16,25 dan 26 &lt;br /&gt;  8. Human Development Report 2002. Deepening Democracy in an fragmented world. UNDP ; New York, 2002. hal.10 &lt;br /&gt;  9. Mumpuni, dalam istilah keteknikan (bahasa Inggris) lazim disebut Compatible&lt;br /&gt;  10.Penulis mengunjungi daerah tersebut dan berdiam beberapa lama disana pada pertengahan tahun 2002&lt;br /&gt;  11.Di kawasan ini penulis sempat menetap selama setahun pada tahun 2006 lalu.&lt;br /&gt;  12.Penulis mencermati, sebagian orang ternyata dapat mengisi dan mengirim balik format pendataan SIM Prabayar melalui SMS Center 444 dengan data-data yang sepenuhnya palsu dan tanpa terkonfirmasi &lt;br /&gt;  13.Istilah disiplin ilmu ekonomi, terutama bidang pemasaran produk, yang merujuk pada tindakan suatu badan usaha atau sekelompok badan usaha yang menurunkan harga produk jauh dibawah harga normal yang ditetapkan oleh produsen barang sejenis bahkan hingga dibawah biaya produksi dengan maksud menjaring pasar yang luas sekaligus mematikan pesaing.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;R E F E R E N S I&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Buku&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Brady, Robert A. Organization, Automation, and Society: The Scientific Revolution in Industry.  University of California Press. Berkeley ; 1961&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Giddens, Anthony. Social Theory and Modern Sociology. Cambridge : Polity Press, 1987  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Organski. AFK. The Stages of Political Development. Terjemahan edisi Bahasa Indonesia,  Tahap-Tahap Perkembangan Politik. PT Melton Putra Press, Jakarta : 1985.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Priyono, B-Herry. Anthony Giddens, Suatu Pengantar. Kepustakaan Populer Gramedia, &lt;br /&gt; Jakarta : 2002&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dokumen&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peraturan Presiden Republik Indonesia No.77 Tahun 2005, Tentang Rencana &lt;br /&gt; Pembangunan Jangka Menengah Nasional Tahun 2004-2009&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;United Nations Development Programme, Human Development Report &amp; Human Development  Indicator 2002,2003,2004,2005,2006.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/5565946706435862888-3051372319808660821?l=kalampencerahan.blogspot.com'/&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/feeds/3051372319808660821/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/ketika-ruang-dan-waktu-telah-tercerabut.html#comment-form' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/3051372319808660821'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/5565946706435862888/posts/default/3051372319808660821'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://kalampencerahan.blogspot.com/2007/12/ketika-ruang-dan-waktu-telah-tercerabut.html' title='Ketika Ruang dan Waktu Telah Tercerabut ;'/><author><name>kalam pencerahan</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08974276704798794726</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:extendedProperty xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' name='OpenSocialUserId' value='12890915666614682588'/></author><thr:total xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'>1</thr:total></entry></feed>